Abdi Mulia Lubis
4 min readMay 5, 2017

Adrenalin Sudut Pandang

PERASAAN itu hadir tanpa te­rencana, semua seakan mu­dah jatuh dalam lamunan panjang tentang kasih sayang, apa-apa udah baper, bawak perasaan dan tak tahu kema­na. Nyanyi tentang oh Tuhan kucinta dia, dianya gak tak tahu kita siapa, kan malu sendiri memikirkannya karena waktu belum tepat. Maraknya film sinetron, dan film FTV mem­buat para remaja terperangkap pada arus "modernitas tak berakhlak". Adik-adik kita yang masih SD, SMP, hingga SMA yang gak tahu apa-apa dan bahagia dengan kesendirian dan bermain permainan tra­di­sional kini jadi ikut arus susah move on. Masih SMP maksa orang tua beli HP android kalau gak dibelikan maksa mogok sekolah. Sehingga sulit kita membayangkan, menyudutkan pi­kiran tentang siapa yang salah sebenarnya membawa kita da­lam dilema. Jangan menyalahkan dunia melainkan didik pola pikir terhadap segala ketidakmungkinan.

Film India yang menyebabkan mamak-mamak berkuasa mengkon­trol remot TV sehingga anaknya yang pengen nonton Adit Sopo Jarwo atau Upin Ipin terpaksa ikutan mamaknya yang nonton film India. Mau nonton, TV cuma satu dan ke­kuasaan ada pada orang tua. "Mamak sudah mengikuti acara ini dari awal sampai episode 128, jadi jangan diganggu mamak nonton India ya nak", ucap mamak membilang kepa­da anak­nya. Pada akhirnya sang anak ikutan nonton film India sehing­ga mindset sang anak runtuh, tak dapat dipompa perspektifnya dengan hal-hal baru. Sehingga sering kita lihat saat ini anak-anak mempercayakan segala perasaan nya kepada film-film di TV, dan menjadikan sosial media sebagai "Tuhan kedua" dimana segala sepi, sedih, dan harapan ditulis dan dibagikan begitu saja.

Cara pandang manusia terhadap kesuksesan dan mengang­gap sukses itu mudah didapatkan hanya dengan menonton sinetron adalah kegagalan dalam mempertimbangkan realita, bahwa hidup tak seperti yang ada di TV. TV bisa jadi suatu can­du yang mem­­bawa penontonnya dengan mu­dah menerima pahitnya kenya­taan, namun hal itu penyiaan waktu. Karena pada prinsipnya untuk me­ma­suki dunia nyata itu ada pada penga­laman baca manusia, apa buku yang sudah ia baca ? Ma­ka dari itu baik novel, puisi, dan buku yang bertema tentang kenyataan antara penderitaan dan kenikmatan sangat dian­jurkan menjadi bahan lahapan pikiran. Dengan kete­kunan membaca maka mental berpacu. Luas sudut pandang terhadap segala hal, tak mudah percaya namun mem­punyai etika yang tinggi terhadap nilai sosial. Hidup itu memang sulit namun harus dijalani tanpa merasa putus asa menerima keadaan, menan­dakan bahwa membaca buku adalah perjua­ngan mengenal diri, dengan mengenal diri maka manusia dengan sadar memahami kinerja dunia.

Anak-anak terlalu mudah jatuh cinta sehingga lupa mem­bangun pondasi utama bahwa langkah awal yang harus diper­juangkan ialah mengejar cita-cita. Dengan berusaha dan giat belajar maka manusia dekat dengan kesuksesan. Dunia ber­ubah dengan kecepatan yang tak mampu kita prediksi, masa depan sungguh mengejutkan dan bila kita tak siap maka akan tersingkirkan. Masa telah berubah dan sudah saatnya kerja nya­ta dengan pencitraan itu dipisahkan, dalam tanda arti bila sela­ma ini kita terpaku pada status apa yang harus dibagikan, dan foto apa yang harus diupload agar mendapat like terba­nyak harus diminimalkan, maka mulailah dengan banyak membaca buku, membaca beragam opini di koran-koran lokal dan media online.

Sendiri bersama buku, tidak selain buku, melihat beragam perbedaan, mengetahui setiap sisi-sisi kisah. Tentang harapan dan membangun nilai-nilai kehidupan. Sehingga orang yang mencintai buku dan sudah mengalami bahwa kenikmatan baca tak ternilai, tak ingin waktunya ter­sia­kan dengan sinetron. Lebih baik umur digunakan untuk membaca. Membaca tidak membawa kita mu­dah baper, melainkan memacu adre­nalin su­dut pandang. Bersemesta na­lar kita. Rajin baca, rajin me­nulis, ilmu yang kita dari membaca dibagi-bagi dan disebar, karena kita tahu bah­wa apa yang kita baca berguna dan la­yak dibagikan. Membaca ada­lah nik­mat, dan kita tak ingin me­nikmati de­ngan sendiri, semesta harus kebagian, artinya pengetahuan tentang duka abadi terarah, tidak terlalu tinggi dan tak merendahkan satu ideologi.

Bayangkan jika sinetron berkuasa melebihi buku? Maka apa yang akan terjadi pada bangsa kita ? Negara mendidik dan memperjuangkan para penulis yang menguras pikirannya pada gagasan-gagasan pembangunan mental. Mendok­trin kemalasan pada semangat juang baca. Merasakan sepenuhnya energi inspirasi itu tanpa mengalami keterpaksaan menjalani.

Seorang yang terbiasa membaca akan mencapai intelejensi sosial ter­tinggi dimana seorang pembaca tidak hanya mampu membaca kata demi kata, melainkan seorang pembaca juga mam­pu membaca ketimpangan sosial, mem­baca penderitaan, membaca keber­pihakan kuasa takdir. Membaca me­ngapa yang terbaik harus tersingkir dan kenapa yang terburuk menjadi ke­las atas. Jadi ketika seorang pembaca me­lihat seorang yang cacat takdirnya, seorang pembaca akan membaur untuk men­jadi sahabat, mendengar kisah dukanya, bukan untuk menjauhi karena ia banyak kurangnya melainkan me­ma­hami bahwa berbagi ialah dasar tentang kebahagiaan. Mungkin kita tak bisa menggapai sesuatu dan dengan berbagi mengenai solusi dari ketimpangan, kita bisa bahagia melihat orang senang, bukan senang melihat orang susah. Inilah nikmat dan keutamaan mem­baca seba­gai inspirasi. Membaca antara ketulusan dan keterpaksaan. Semua pengamatan dan tingginya imajinasi ter­sebut diasah oleh banyaknya kita membaca.

Membacalah hingga kau temukan sebuah pegangan bahwa dunia bukan­lah akhir melainkan awal dimana wak­tunya untuk berjuang menebar kebaikan bersama dan menikmati hasil di akhir kelak. Bersama-sama kita bergerak, bersama-sama kita mengembangkan diri.

Perpustakaan sebagai kuil penge­tahuan dan sudah saatnya kita kunjungi selagi masih ada waktu. Prinsip sebuah inspirasi ialah maju tak berharap dipuji, berjuang tanpa berharap ekspektasi pa­da hasil. Apapun itu kecewa atau gagal nya suatu perjuangan adalah hal akhir. Manusia dianjurkan untuk berjuang. Kalaupun manusia tak berha­sil meng­gapai sesuatu, namun ia ba­hagia dengan kerja kerasnya.

Opini saya ini pertama kali dimuat Harian Analisa pada hari Selasa, 12 April 2017. Untuk mengakses Opini ini dari websitenya bisa dibaca dengan mengklik tautan berikut : http://harian.analisadaily.com/mobile/opini/news/adrenalin-sudut-pandang/339534/2017/04/12

No responses yet