Apa yang Sedang Dipikirkan Prabowo?
Mungkin Prabowo rela memberi kepala serta harga dirinya untuk dipijak-pijak para elite internasional demi untuk menyelamatkan negara kita terutama Papua dari cengkeraman referendum yang diam-diam digencarkan oleh negara tetangga. Tapi kita tak pernah tahu pasti perihal mengenai kabar hal itu, itu hanya asumsi maupun opini yang tergambar jelas di pikiran saya setelah melihat beragam kebrutalan dan kekerasan yang terjadi di tanah Papua. Dan yang pasti itulah yang saya pikirkan beberapa hari ini yaitu apa sebenarnya maksud dari Prabowo sampai mau berkoalisi dengan pemerintah?
Kalau masalah uang tidak mungkin Prabowo mau sampai seperti itu karena ia sudah memiliki harta yang banyak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Logikanya manalah mungkin pulak seorang calon presiden berbuat seperti itu, dan tak mungkin lah kiranya Prabowo mau jadi bawahan lawannya dalam pemerintahan sementara di pilpres kemarin mereka bertempur habis-habisan? koq bisa ya?
Netizen dibuat gempar, rakyat semakin bingung, para oposisi PKS dan Pan sampai membawa perasaan galau merasa cemburu berat yang begitu besar kepada Prabowo. Saya meyakini bahwa kesetiaan dan ketulusan itu ada pada Prabowo yang begitu besar kepada negara ini, tapi satu hal yang pasti apa yang akan dibuat Prabowo bila menjadi menteri pertahanan ke depannya adalah untuk menyelamatkan Papua dari bayang-bayang referendum.
Kita melihat di televisi dan membaca berita di media online bahwa banyak kasus masalah Papua tidak bisa diselesaikan dan menteri ketahanan yang lalu tidak juga mampu memberikan jalan terbaik kepada papua agar tidak ada lagi prajurit yang meninggal menjadi korban.
Ada yang berspekulasi Papua dalam bahaya besar, ancaman intelijen serta canggihnya senjata yang dimiliki OPM membuat kita tak berdaya dan sebagian negara sudah mulai terang-terangan berani mendukung Papua merdeka, dan yang kita takutkan adalah apabila suplai senjata dari negara pendukung Papua begitu banyak dan canggih dan kita akan menghadapi perang besar yang tak bisa ditinggalkan.
Korban berjatuhan dan negara menuju krisis besar. Itulah yang kita takutkan. Yaitu banyak prajurit yang gugur sehingga dibutuhkan seorang sosok menteri yang paham betul mengenai persoalan militer di tanah air dan Prabowo adalah sosok yang tahu mengenai hal itu.
Ya begitulah yang namanya politik, Politik itu memang bersifat cair, yang teman bisa menjadi musuh sementara musuh bisa menjadi sahabat. Semua ini berawal dari kepentingan masing-masing, ada yang tak senang dengan jabatan yang dimiliki seseorang dan ada yang mau lebih tinggi dari jabatan yang dimiliki orang lain. Butuh kerendahan hati bagi keduanya untuk menjadi satu tim, baik Pak Jokowi yang menawarkan maupun Pak Prabowo yang mengiyakan. Saya senang bisa mengidolakan keduanya.
Prabowo Subianto dipastikan menjadi pembantu Presiden Jokowi di bidang pertahanan. Padahal Prabowo merupakan lawan Jokowi sejak Pilpres 2014 hingga Pilpres 2019. Kalau jiwa dan raga sudah diserahkan untuk mengabdi kepada tanah air tercinta, posisi apapun akan diemban meski opini masyarakat kadang tak sejalan dengan jiwa seorang pahlawan.
Mungkin pengalaman sebelumnya jadi oposisi gak bisa berbuat apa-apa, koar-koar gak didengerin, mengkritik dipenjarai. Jadi sekalian aja masuk koalisi barangkali bisa berbuat lebih untuk bangsa ini, kalau beliau Prabowo gila jabatan mungkin dari zaman SBY sudah berkoalisi. Katanya damai setelah pilpres, katanya NKRI harga mati, katanya persatuan dan kesatuan, ternyata kaum dungu yang bikin ricuh di media.
Jokowi menggandeng Prabowo tentu ada plus minusnya. Walaupun banyak yang kecewa tetapi paling tidak ini salah satu positifnya: melucuti kendaraan politik kelompok radikal. Selama ini kelompok radikal terkenal numpang di kendaraannya Prabowo. Kendaraannya diambil, mereka jadi terlunta-lunta.
Dandhy Dwi Laksono menulis Jokowi ajak Wiranto, yang dikatain Wiranto. Jokowi ajak Luhut, yang disindir-sindir Luhut. Jokowi ajak Prabowo, yang dicibir Prabowo. Sumber masalahnya keran bocor. Yang diributkan lantai licin akibat tumpahan air.
Prabowo hanyalah manusia biasa tidak sempurna bisa memuaskan semua orang. Tapi sebagai warga negara yang baik tentu menghormati hasil pemilu dan tunjukkan prestasi bangun negeri adalah jalan terbaik Bukan lantas obral keburukan dan minta perhatian eksklusif. ada pepatah "jika kau tak bisa mengalahkannya, maka bergabunglah denganya."
Pikiran positif membawa energi positif. Semoga semua berjalan dengan baik dan Indonesia semakin berkembang maju. Sebagai sebuah negara besar, kita harus berani menjadi patron politik dunia, rivalitas dalam pilpres bukanlah permusuhan tetapi cara untuk mencari yang terbaik buat bangsa oleh karena itu jika yg terbaik digabungkan dengan yg baik maka hasilnya pasti baik.
Kita harus salut dengan strategi pak Jokowi dengan menempatkan pak Prabowo sebagai menteri pertahanan, selain merangkul mantan rival di pilpres juga secara tak langsung menempatkan Prabowo di garis depan melawan kelompok radikal dan pro khilafah yang dulu mendukungnya.
Harian Analisa, 28 Oktober 2019