Abdi Mulia Lubis
3 min readMar 26, 2019

Bela Agama atau Bela Koruptor?

Hayo yang teriak-teriak bela agama mana suaranya takkala korupsi besar-besaran melanda kementerian agama? Masih betah jadi kaum muna­fik? Yang sabar ya yang jelas itu bukan ba­gian dari kami. Hahaha gak sampai hati sih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. Teriak-teriak bela agama bisa, tapi membela untuk tidak korupsi gak bisa. Kimbeklah, Bela agama kepala otak kau. Yakin mau menegakkan syariat? Yaudah potong saja tangan koruptor yang mencuri duit rakyat itu. Potong ta­ngan pencuri yang mengkorupsi duit rak­yat.

Maling kereta digebuki sampek bo­nyok, yang koruptor di kementerian agama bagaimana begitu di OTT? Kasi fasilitas surga di penjara atau Bagai­mana keadilan itu? Seharusnya KPK OTT membawa Parang kalau keta­uan langsung potong tangan aja ditempat ambil jalan radikal sesuai syariat bagi yang mencuri dipotong tangannya.

Ayok kita demo bela agama tapi ja­ngan bela anti korupsi, kan kacau ka­lilah negara ini begitu maraknya kaum munafik melanda. Bubarkan saja ke­menterian agama jadi kemen­terian akal sehat karena gak akan ada gunanya agama hanya untuk menumbuhkan kaum munafik. Belajar agama bisa tapi be­lajar jadi manusia ngak bisa, kan ka­cau. Kasi jeda sejenak dengan iklan par­tai saja, Ingin tahu tips untuk meng­hilangkan haus ya minum. Udah, udah.

Woi Wak labu, mana bongaknya kami mau dengar. Keluar dari kantor KPK memakai jaket orange sambil memakai kaca mata layaknya anggota band terkenal kan terasa so sweat. Saya akan keluar dari kantor KPK dengan memakai jaket orange tapi saya harus pakai kaca mata biar terlihat seperti artis. Sudah ketahuan di OTT KPK masih bisa merasa bangga kan dungu.

Agama itu memiliki tingkat kesucian paling tertinggi sehingga sangking su­cinya banyak orang yang berani ber­main cuci uang untuk memakai kata aga­ma demi meraih keuntungan yang berlebih. Lihat saja yang katanya teriak-te­riak bela agama, begitu KPK mene­mu­kan ada korupsi besar-besaran di kementerian agama mereka yang teriak bela agama seketika mingkem tak ber­kutik dan berdalih itu bukan bagian dari kami.

Saya berjanji akan menjalankan kepemimpinan di kementerian agama ini dengan sebaik-baiknya dan sejujur­nya demi kepentingan umat beragama. Janji itu diucap dengan dibarengi kitab suci diatas kepala, tapi begitu memim­pin berani dagang jabatan di kementrian agama. Mikir tujuh keliling la akhirnya korupsi juga.

Ketika Karl Marx mengatakan aga­ma itu candu ia dituduh kafir, dan begitu pemuka agama terjaring OTT itu dibilang musibah. Bapak sehat? Su­dah minum kopi belum, ayo pakai kaos 2019 bubarkan kementerian agama.

Hendri Teja dalam buku Tan: Gerilya Bawah Tanahmenulis bahwa kami Islam seislam-islamnya, tetapi dalam menentang kapitalis, kami Marxis semarxis-marxisnya. Maka­nya kalau ingin lebih Islami dalam mem­pe­lajari Islam maka belajarlah menjadi ma­nusia terlebih dahulu dengan mem­pelajari metode pendi­dikan Marxisme agar tidak mudah-mudah dalam meng­kafirkan.

Permasalahannya adalah kita terlalu memaksakan untuk berlomba-lomba agar terlihat suci. Disinilah mental kreativitas itu tidak ada, seharusnya sudah menjadi kewajiban bersama kita untuk tidak terlalu mengedepankan agama agar sese­orang bisa berkarya dengan bebas. Bila kita terlalu menge­de­pankan agama dan lupa untuk me­ngede­pankan penalaran maka orang akan banyak yang jadi segan dalam berkarya.

Sedikit-sedikit takut tidak sesuai sya­riat namun begitu masuk sistem sya­riat seseorang merajai untuk melakukan korupsi. Yang lebih kita takutkan adalah orang merasa aman untuk korupsi asal memakai jubah agama, kan sakit bila generasi kita didoktrin hal seperti itu. Bukan agamanya yang salah hanya saja ada banyak orang yang salah ketika memakai agama sebagai kekuasaan.

Sebagai negara republik seharus­nya kita tidak usah terlalu memak­sakan agama sebagai yang terdepan. Begitu kita berbicara sosialisme maka kita ber­bicara mengenai kesejahteraan bersama bagaimana agar makan cukup, pendi­dikan terjamin dan perekonomian sehat. Ini bukan untuk mengasingkan dan membenci agama melainkan memaju­kan pemikiran agar kita tak jatuh.

Dalam buku Teologi Pembebasan yang ditulis Michael Lowy ia menyua­ra­kan pemikiran bahwa perselisihan yang dipicu oleh masalah agama kini me­ngancam kehidupan kita. Sejarah per­adaban dan kemanusiaan hancur ketika kobaran kebencian merasuki pera­saan masing-masing pemeluk agama. Padahal, ada persoalan menda­sar yang terus-menerus disemai dan dipelihara: agama selalu saja diperalat oleh kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi sebagai dasar teologis pembe­nar­an bagi kepenti­ngan mereka sendiri.

Maka, tampillah gerakan Teologi Pembebasan menantang ketertak­lukan lembaga-lembaga agama oleh hege­moni kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi yang serakah itu. Gerakan keagamaan radikal dan revolusioner ini, terutama di Amerika Latin, mem­buktikan bahwa agama bisa dan se­ha­rusnya menjadi “bara api” melawan ke­zaliman, keti­dak­adilan, dan ketidak­ma­­nusia­wian.

Harian Analisa, 26 Maret 2019.

No responses yet