Abdi Mulia Lubis
4 min readJul 26, 2018

Beragama Tapi Ateis

Semakin berat semakin baik, dalam arti jika keyakinan itu telah hadir dan keraguan tidak ada maka selesailah segala perkara. Aku beri­badah maka aku masuk surga. Begi­tulah jadinya, bubarkan saja sekolah dasar, mene­ngah, atas, tukar menjadi ibadah surga 1, 2, 3 dan lain­nya yang menyebabkan manusia pesimis terha­dap kreativitas. Jangan bermusik itu haram, jangan seni itu perbuatan se­tan, jangan me­matung karena itu berhala, semua­nya dilarang giliran permasalahan surga kita ribut saling sikut dalil rebutan pahala yang paling tinggi.

Ketika kepercayaan akan Tuhan telah mati sebagaimana yang digagas oleh Nietzsche, Eropa berlomba-lom­ba un­tuk mengasah nalarnya agar tidak terbe­bani oleh ketakutan fiksi be­rupa neraka. Perlahan mereka men­jadi rasio dan anti terhadap pemujaan transendental.

Ada yang ganjil dalam konsep ber­a­gama sekaligus warga negara. Kita ingin maju tetapi intoleran terhadap kebebasan berpikir.

Orang tidak lagi membahas teori evolusi Dawkins melainkan cari promo traveling ibadah berbasis kapitalis memupuk pahala, karena hanya orang berada yang bisa mendapatkan sensasi ketuhanan, cara berpikir yang dungu menyebabkan seseorang menuhankan agama tanpa mendalami eksistensi kemanusiaan itu sendiri. Manusia bisa bergaul sebagai warga negara untuk mengha­silkan keadilan tetapi tidak bisa bergaul untuk menghasilkan kesole­han. Adalah poin penting untuk ber­saing secara pemi­kiran tidak bersaing untuk menambah pahala. Segalanya akan selesai dan berakhir dalam arti pengetahuan itu tidak usah dikem­bangkan lagi dan biarkan agama men­jadi penentu pengetahuan. Istilah ini sudah jauh hari menjadi beban pemi­kiran bersama dimana manusia berlomba-lomba demi sesuatu yang tak pasti Kebera­daannya.

Kalau kita memakai istilah Tan Malaka bahwa Membaca adalah kun­ci, artinya bahwa tak ada yang na­manya segala urusan diserahkan pada kitab suci, seseorang harus rajin me­nekuni beragam bacaan dan membaca buku-buku lain. Manusia bebas untuk berpikir diluar keyakinan tanpa harus ada intimidasi kafir yang menjadi politik bahasa dalam men­judge ke­benaran hakiki.

Seorang Marxist akan mengakui kitab sucinya Das Kapital dan seorang ekonom akan berpegang pada filauf Adam Smith. Iman itu adalah masalah privat, jangan pernah ditanyakan dan jangan pernah diancam seseorang harus santun seperti apa, karena ber­beda pandangan yang namanya meng­hasilkan keadilan dengan menghasilkan kesolehan.

Berpikir artinya bertindak melam­paui, ilmu itu mencari dari belakang bu­kan berharap kedepan. Artinya se­orang akademisi akan mencari tahu segala sesuatu dari hukum sebab akibat bukan menyerahkan segalanya kede­pan bahwa itu semua urusan yang diatas. Karena akan tumpul nalar dan terjadi kemaksiatan intelektual hanya karena merasa Soleh. Tidak ada yang ganjil dalam agama melainkan orang ber­agama yang ganjil. Meyakini satu Tuhan dan tidak mengakui Tuhan dari agama yang lain.

Surga adalah hal yang suci dan ja­ngan bawa persoalan surga ke bumi. Jika pikiran seseorang tak kuasa da­lam mengkaji dalil sebab akibat maka ber­peganglah dia pada suatu keyaki­nan di­mana ia hilangkan se­mangat intelek­tual itu dengan memuja sesuatu kekeliruan.

Indonesia adalah negara yang kaya akan suku dan budaya, alangkah lebih bermartabat bila warga negara ber­fokus kepada filsafat Nusantara de­ngan mendalami sejarah dae­rahnya masing-masing karena hanya dengan cara seperti persatuan Indonesia dapat mengikat tanpa mengkotak-kotakkan prinsip kemanusiaan.

Berhenti menciptakan suasana ke­gaduhan berarti memba­ngun kembali filsafat humanisme yang memfokus­kan kemanusiaan tertinggi sebagai nilai keadilan.

Dakwah lawak yang sering kita saksikan videoanya di sosial menun­jukkan bahwa rakyat itu terhibur karena tidak diancam dengan keta­kutan neraka dan tidak terlalu meng­hiraukan cepat-cepat mati menuju surga. Dakwah lawak itu adalah pemenang dari kege­lisahan yang besar dimana selama ini agama dijadikan alat politisasi yang di­mana ketika ia kam­panye sibuk memakai pakaian agama agar terlihat santun demi mendulang suara terba­nyak. Pe­mahaman ini harus disadari sesadar-sadarnya agar tidak banyak memakan korban dimana orang sibuk mem­pertuhankan agama bukan ke­ma­­­nu­siaan itu sendiri. Bukan ha­rapan surga yang diidamkan melain­kan kepuasan tawa dalam mengha­dapi eksistensi bahwa tidak­lah kesalahan, kalaupun ada kesalahan maka itu bukan sebagai permainan yang dibuat-buat melain­kan pem­belajaran akan makna menuju keberadaan.

Jauh sebelum para filsuf alam Yu­nani mulai ada, para petinggi teologi banyak berpihak pada dewa-dewa dimana ada dewa petir, dewa air, dewa tanah, dewa api dan seba­gainya. Dewa ada lalu melahirkan anak yang akan menjadi dewa. Para filsuf Yu­nani yang dasarnya Socrates ber­hasil memiskinkan keyakinan beragama itu dengan mempertajam pemikiran ra­sional dimana segala sesuatu diperta­nyakan. Maka jika masyarakat pada saat ini tidak lagi percaya pada mitos akan dewa Yunani maka ma­sya­rakat akan perlahan mening­galkan harapan tentang penjelasan yang ia tidak tahu. Berpikir mendahului pro­ses keyaki­nan akan sesuatu bahwa segalanya telah direncanakan. Manu­sia pertama yang jatuh dari surga sudah direnca­nakan Tuhan dan itu juga salah Adam, dari pemikiran ek­sis­tensialisme itu orang sudah paham bahwa adakala­nya mele­takkan keyakinan pada dasar pemikiran lebih baik daripada asal meletakkan keyakinan akan harapan akan dunia yang takhayul. ***

Penulis adalah pemikir Filsafat berdomisili di kota Rantauprapat

Tulisan ini pertama kali dimuat Koran Harian Analisa pada hari Rabu, 25 Juli 2018.

No responses yet