Berperang Melawan Kepanikan Epidemi Covid-19
Rasa cemas bisa lebih mematikan ketimbang rasa sakit yang tengah kita hadapi di dalam tubuh, karena kecemasan akan membuat kepanikan hingga ketakutan sehingga pikiran tidak memiliki waktu berpikir mencari solusi dalam menghadapi ujian yang tengah ia hadapi sehingga kepanikan yang bermula dari kecemasan itu akan membunuh lebih cepat karena ia mematikan harapan manusia untuk bertahan.
Kita tak bisa mengatakan bahwa yang kita hadapi perang dalam bentuk senjata biologis karena yang kita lihat hari ini adalah siapa yang mendapatkan keuntungan paling besar maka ialah yang berpotensi di duga melakukan jebakan wabah covid-19 ketika harga dolar melambung tinggi. Pada masa kini orang awam akan berpikir ada konspirasi yang bermain dari segala hal yang bisa terjadi melampaui kesadaran. Segala pertanyaan akan bermunculan ketika berita di sana sini menyatakan untuk lockdown. Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan? Para pencari nafkah yang berada pada golongan menengah kebawah tidak peduli badai wabah apa yang menghadangnya di depan karena para pencari nafkah mengutamakan kebutuhan dapur yang harus dipenuhi.
Berhari-hari kita disodorkan dengan pernyataan data mengenai berapa banyak korban yang sudah meninggal, ODP, PDP dan lainnya, seseorang yang mengalami keselek silap karena minuman lalu tersedak batuk maka akan dicurigai mengidap covid-19, dan seseorang yang barsin dan batuk di depan umum akan mendapatkan kecurigaan yang besar.
Kita menjaga jarak satu sama lain, dan mengurung diri di dalam rumah dengan keadaan ekonomi yang nomaden, kita dipaksa untuk tunduk seraya menerima apa yang telah yang menjadi ketetapan. Kita tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, kita terlalu memikirkan bagaimana agar sering cuci tangan, pakai masker bila keluar rumah ketimbang memikirkan bagaimana awal covid-19 itu bermula muncul. Kita dibuat seakan panik sehingga solusinya adalah dirumah.
Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa penting untuk diingat bagi kita bahwa kemarahan, kesenangan, kebosanan, dan cinta adalah fenomena biologis seperti halnya demam dan batuk. Teknologi yang mengenali batuk dapat juga digunakan untuk mengenali tawa. Apabila perusahaan dan pemerintah mulai memungut data biometris kita secara massal, mereka bisa lebih mengetahui diri kita daripada diri kita sendiri, dan mereka tidak hanya akan dapat menebak tetapi juga memanipulasi perasaan kita dan menjual apa saja yang kita inginkan — entah itu berupa produk maupun tokoh politik. Pemantauan biometris dapat membuat taktik retas data Cambridge Analytica terlihat seperti sesuatu dari Zaman Batu. Bayangkan Korea Utara di tahun 2030, di mana warganegara harus memakai gelang biometris selama 24 jam sehari. Jika kamu menyimak pidato dari Pemimpin Besar dan gelang tersebut memberikan isyarat kemarahan, kita akan mampus seketika
Agama kini tak lagi memiliki kemampuan dalam mencegah wabah covid-19 yang menimpa seluruh dunia, bahkan beribadah pun kini bisa menjadi malapetaka yang menyebabkan virus terjangkit dari satu orang ke orang lain. Kita tak memiliki pengetahuan dan membutuhkan sumber informasi yang akurat mengenai gejala yang tengah dihadapi.
Banyak orang menyalahkan globalisasi atas merebaknya epidemi virus korona, dan menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah adanya epidemi lain yang serupa adalah dengan mende-globalisasi dunia, yakni dengan membangun tembok, membatasi perjalanan, mengurangi perdagangan.
Meskipun demikian, karantina jangka-pendek penting untuk menghentikan epidemi, sementara isolasi jangka-panjang akan mengarah kepada kejatuhan ekonomi tanpa menawarkan proteksi nyata dalam melawan penyakit menular. Sebaliknya, pencegahan terhadap epidemi bukanlah segregasi, melainkan kooperasi.
Menurut Jared Diamond, bangkit dan runtuhnya kejayaan-kejayaan peradaban masa lalu. bukan hanya karena dilatari penggulingan pemerintahan oleh pemerintahan lain melalui perang, melainkan juga akibat penyebaran pandemi.
Pada Abad 14, Eropa pernah diserang wabah Black Death (flu spanyol). Akibat dari pandemi ini diperkirakan 200 juta populasi orang Eropa meninggal. Penyakit itu dengan cepat menyebar dan menjangkiti orang-orang dan membunuh seperempat penduduk Eropa di tahun 1346–1352, dengan jumlah korban jiwa hingga 70 juta orang.
Tidak hanya itu, di tahun-tahun terakhir epidemi influenza juga membunuh 21 juta orang. Belum lagi Kolera, Lepra dan Tuberculosis. Semuanya telah melenyapkan sepertiga populasi bumi.
Manusia sering kali mampu berlepas diri dari terjangan viru dan telah mampu menciptakan peradaban-peradaban baru, namun harus diakui bahwa umat manusia termasuk yang paling banyak dipersalahkan atas fenomena alam ini. Riset menunjukan bahwa kemunculan virus dan penyakit-penyakit baru tidak lepas dari kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas ekstraktif manusia terhadap alam.
Virus ini adalah bagian integral alam semesta. Ia merupakan kombinasi alam yang memiliki ekosistem tersendiri. Kehadiran umat manusialah yang mengubah keseimbangan itu, sehingga virus beralih ke organ-organ manusia.
Epidemi virus korona adalah ujian besar kewarganegaraan. Beberapa hari ke depan, setiap dari kita harus memilih untuk memercayai ilmu pengetahuan dan pakar kesehatan dibanding konspirasi yang tidak berdasar dari politisi rakus. Apabila kita gagal membuat pilihan yang tepat, kita mungkin akan mengorbankan kebebasan kita yang paling berharga, dan berpikir bahwa itulah satu-satunya yang dapat menyelamatkan kesehatan kita maka kita berada dalam pengendalian yang tak bisa kita kendalikan.
Harian Analisa, 8 April 2020.