Covid-19, Perang Dagang Menuju Senjata Biologis

Abdi Mulia Lubis
4 min readJun 21, 2020

--

Hidup ini memang serba dilema yaitu ketika kita ingin menebarkan berita kebenaran yang hadir justru kecemasan yang tidak bisa diantisipasi karena kurangnya ilmu yang kita miliki terhadap suatu permasalahan maka kita lebih memilih jalan ketenangan batin dengan menyerahkannya kepada Tuhan semata. Maka hanya ada beberapa pilihan yaitu membiarkan kebenaran terkubur bersama menanti hadirnya sejarah baru atau kebenaran dipaksa untuk diungkapkan kedepan publik dengan resiko hilang tanpa jejak pencarian?

Saya hanya manusia biasa yang sekedar ingin berbagi pandangan sebagaimana Kita tak bisa mengambil resiko berlebih maka dengan menjadi diri seadanya dan terselamatkan makan sehari-hari saja sudah syukur, tapi yang namanya kehidupan banyak orang yaitu tentang keselamatan miliaran orang saat ini yang bisa saja terkena dampak Covid 19, siapa yang harus bertanggung jawab? Seperti untuk menyelamatkan diri dari penyebaran virus Covid 19 saja kita kesulitan konon lagi untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Ini sama seperti membandingkan suatu pembangunan atau suatu pertumbuhan dengan memakai bahasa sederhana yaitu manakah yang lebih baik membangun sawah atau mendirikan ratusan perumahan dengan mengorbankan lahan sawah sebagai tempat cadangan makan manusia di masa akan datang? Maka tak akan ada yang bisa menjawabnya.

Percuma saja kita mempunyai alat canggih perang menangkal roket yang datang dari negara lain toh bila untuk menangkal penyebaran virus Covid 19 saja negara kita tidak mampu. Maka jangan salahkan bila ada orang pandai yang menutup mulut untuk tidak bersuara pada saat ini dan membiarkan kehancuran ini terjadi begitu saja tanpa ada perencanaan tentang pertahanan negara dari serangan senjata biologis.

Kita menunggu klarifikasi dari pak menhan tapi sampai saat ini senyap begitu saja dan seakan-akan BIN menjadi berperan penuh sedangkan untuk menangkap Harun Masuki saja BIN tidak mampu? Logika kita saah kaprah hancur lebur dan opini publik seakan dimainkan begitu saja dengan hadirnya berita yang kalang kabut kepastiannya. Maka jangan salahkan kalau generasi kita saat ini memilih lebih nyaman bermain Tik Tok berjam-jam dan perang Mabar PUBG game online begadang hingga pagi karena sudah terlalu suntuk untuk memikirkan sesuatu yang kapasitas ilmunya kita tidak bisa miliki.

Kita tak bisa berbicara mengenai kebenaran yang patsti atau siapa yang benar dan siapa yang salah, setiap orang pasti memiliki kebenaran yang lain atau bisa jadi seseorang menimbulkan hoaks yang berlebih. Dalam tulisan ini kebenaran belum tentu nyata tapi kita bermain secara imajinasi untuk memilah suatu kebenaran dari suatu gambaran opini.

Para ulama dan ustadz kebingungan bahkan shalat bukan dirumah ibadah melainkan dirumah sendiri. Yang teriak-teriak bela agama tidak bisa membela negara dari serangan virus Covid 19. Memang kesiap-siagaan kita belum maksimal dan kita butuh seorang pemikir yang bisa merasionalkan keadaan ini dengan sebaik-baiknya. Coba lihat sudah berapa hari berita mengenai Covid 19 sementara pak Prabowo tidak ada memberikan klarifikasi tentang ada apa yang sebenarnya terjadi.

Upaya untuk bertahan hidup di tengah maraknya arus keadaan yang semakin menekan kecemasan dibutuhkan solusi cepat untuk menetralisir segala situasi kecemasan ini menuju kenyamanan untuk bisa beraktivitas lebih baik. Penalaran kita belum sampai untuk menerjemahkan situasi saat ini sehingga terus-terusan membawa-bawa nama agama sebagai alasan atas nama tentara tuhan, Tuhan bahkan dosa disaat wabah virus Covid 19 yang sulit terkendali. Kita membawa agama dalam ketidakmampuan kita mencegah suatu penyakit hingga lupa untuk melihat secara saintis apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kelanjutan dari akhir semua ini. Kita meletakkan keyakinan kita pada dosa bahkan membuat imajinasi baru tentang tentara Tuhan yang dikirim ke bumi sebagai pelampiasan ketidakmampuan ilmu kita dalam menafsirkan virus.

Terkait Covid 19, saya rasa Yuval Noah Harari dan Steven Pinker harus bertemu satu meja membahas Covid 19 karena dalam imajinasi saya tanpa merasa sembarangan menduga hanya mereka berdua secara humanis yang mampu, tanpa bermaksud mengesampingkan penulis dan ilmuwan lain tulisan ini hanya sekedar gambaran saja. Mereka memiliki tanggung jawab moral besar secara pikiran untuk mencari solusi radikal atas menyebarnya virus Corona agar tidak semakin parah. Hanya ada dua penulis ini yang saya rasa bisa merasionalkan Covid 19 yaitu Yuval dan Steven Pinker. Kedua penulis ini yang saya rasa bisa berpikir cepat, tanggap dan pasti dalam menemukan satu solusi. Kalau dalam fiksi ada Dan Brown dengan Karya Inferno dan Albert Camus dalam Novel Sampar terjemahan NH Dini terbitan obor. Saya gak tahu apa yang sedang dipikirkan Yuval Noah Harari dan Steven Pinker saat ini mengenai Covid 19 karena kapasitas saya masih jauh dari mereka atau ini hanya karena saya yang terlalu menyukai karya tulisan mereka sehingga saya berharap mereka berdua bisa kolaborasi minimal duet gagasan.

Saya terinspirasi oleh Steven Pinker dan Yuval Noah Harari karena mereka adalah penulis yang paling jujur mengungkapkan kebenaran tanpa rasa takut akan kecemasan dari pikiran yang mereka ungkapkan tentang prediksi masa depan dari kejadian yang terjadi saat ini. Contohnya dengab membaca buku Enlightenment Now karya Steven Pinker sungguh sangat memuaskan sama seperti membaca Sapiens, Homo Deus, 21 Lessons for 21 Century karya Yuval Noah Harari. Nikmatnya menikmati tulisan dari mereka berdua secara perlahan tanpa harus terburu-buru biar dapat tastenya secara utuh. Ini buku yang paling lama kubaca karena memahaminya harus betul-betul konsisten dan penuh konsentrasi.

Harian Analisa, 28 Maret 2020.

--

--

No responses yet