Abdi Mulia Lubis
3 min readMar 5, 2019

Doa yang Mengancam Tuhan

Beriman itu tak perlu memberi tekanan pemaksaan berupa doa kepada Tuhan apabila pilihan politiknya tidak dimenangkan maka tak akan ada yang menyembah Tuhan lagi. Menuntut doa dikabulkan agar pilihannya dimenangkan dan kalau tidak dimenangkan tidak akan ada yang menyembah Tuhan, sama saja dengan menyatakan dirinya tidak mempercayai dengan adanya Tuhan, atau dengan bahasa sederhananya apabila yang berdoa menuntut doanya dikabulkan itu adalah Atheis.

Dia beragama tapi tak mempercayai dengan adanya Tuhan sama dengan memakai agama hanya untuk kepentingan politik saja dan tidak menganut agama sebagaimana tujuan agama berupa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Adalah suatu kemunafikan dalam berpolitik yang seakan disengaja layaknya akting membuat film baru dengan judul “Doa yang Tak Dikabulkan” atau 2019 ganti Tuhan menjadi tak bertuhan.

Aku menuntut Tuhan untuk mengabulkan doaku, bila tidak maka aku tak mengakui dengan adanya Tuhan. Sama Tuhan ia tak percaya tapi sama hantu ia percaya, makanya ia berkeras dalam mengucapkan doa seakan Tuhan itu macam tak bisa mendengar. Tidak cukup bawa isu agama dalam berpolitik, sekarang Tuhanpun di bawa ke politik.

Yang menjadi permasalahan adalah “Tuhan itu urusan akhir, yang paling utama itu adalah bela agama.” Statement kedunguan beginilah yang membuat hancurnya toleransi keberagaman kita. Beragama tapi tak bertuhan, beragama hanya dipakai untuk topeng saja demi politik. Pendeknya berpikir dan terlalu cepatnya memberi keputusan jika doa tak dikabulkan maka tak akan ada yang menyembah Tuhan sama dengan omong kosong.

Kalau kita buat satire bahwa saya ini orangnya beragama keras, tapi saya tak percaya dengan adanya Tuhan, sebab saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, apabila Tuhan tidak mengabulkan doa saya, maka tidak akan ada yang menyembah Tuhan lagi. Bacalah kehidupan ini dengan perlahan dan pemaknaan yang dalam bukan sekedar cepat naik darah tak mau berpikir.

Ketika sang nabi butuh waktu bertahun-tahun menanti Wahyu dari malaikat Jibril sebelum menyampaikannya kepada masyarakat, Nabi tidak bisa langsung mengambil keputusan tanpa perintah Jibril, nah kita yang ilmu masih dangkal begini udah berani-beraninya memberikan dalil bahwa tidak akan ada yang akan memuja Tuhan jika doanya tidak dikabulkan.

Kenapa begitu banyak pemuka agama yang semakin melenceng dari akal sehat. Perlu ditekankan bahwa pemilihan presiden itu adalah memilih seorang yang akan ditugasi jadi kepala negara selama 5 tahun. Bukan perang anrara orang mukmin dan orang kafir. Siapa yang gambarkan pilpres ini seperri Perang Badar berarti menghendaki Indonesia pecah.

Ketika munajat menjadi menghujat, Tuhan pun diancam demi pilihannya. Jika kami tidak menang tidak akan ada yang menyembah mu ya Tuhan, Begitu sekilas cuplikan doanya. Berani sekali dan merasa seakan sudah memiliki iman paling tinggi diatas bumi dengan mengancam Tuhan lewat doa berirama puisi.

Gusdur mengatakan Tuhan itu tidak perlu dibela, yang dibela itu Akal Sehat karena ia telah disempurnakan oleh Tuhan pada diri manusia, kalau seseorang ingin menuntut Tuhan lewat doa maka tuntut dulu paling utama akal pikirannya. Jangan terlalu ngibul nyinyir terlalu jauh.

Apakah doa itu perlu dipamerkan? Apakah kesalehan itu perlu dipamer-pamerkan? Apakah amal ibadah itu harus dipamerkan juga didepan publik biar kelihatan suci? Tentu tidak, orang lain tak perlu tahu kebaikan apa yang telah kita perbuat dan bagaimana amal ibadah yang kita perbuat dan orang lain tidak perlu tahu, cukup diantara diri sendiri dengan yang maha kuasa saja yang tahu, dan bila perlu kita tak perlu menuntut kepada Tuhan karena segalanya sudah ia penuhi.

Ilmu agama saya masih kecil tapi paling tidak saya sudah khatamkan membaca seluruh jilid dari kumpulan buku Tafsir Al Misbah karya Quraish Shihab. Dasar belajar agama yang paling utama adalah pemikiran. Belajar mengendalikan diri dan kecemasan bukan semakin memmpertambah kecemasan berupa pertanyaan yang berada di luar jalur.

Wajah keibuan tapi akal sehat tidak pernah digunakan. Seketika saya mau ketawak namun gak sampai hati melihat kedunguan dalam berdoa yang dibawakan ibu Neno disaat melihatnya berdoa sambil menangis, tapi doanya dilihat dari gadget yang ia pegang. Bangun pagi memang hape, makan memegang hape, ke kamar mandi bawa hape, kemana-mana bawa hape seakan-akan hape itu sendiri adalah Tuhan.

Saya ingin merenung sejenak melihat sejarah apakah ada Nabi berdoa memakai catatan tertulis atau doanya disusun dulu pakai pena habis itu berakting ala sandiwara Numero Uno. Yang sadisnya betapa beraninya seseorang memakai agama sebagai senjata politik bukan dengan kepura-puraan yang itu-itu Saja.

Lalu adakah alternatif untuk doa terbaik? Tentu ada, dan doa yang baik itu adalah “Ya Tuhan, bebaskan negeri ini dari orang-orang yang bukan menyembahMU tapi menyembah dan memberhalakan agamaMU secara rasis.”

Harian Analisa, 5 Maret 2019

No responses yet