Eksistensialisme Hujan
Hujan itu bagus, namun kalau keseringan hujan maka yang berdampak adalah perasaan, sering melamun, gelisah tak karuan hingga memikirkan sesuatu yang diluar batas, maka daripada terkungkung dari dilema kenangan yang absurd lebih baik fokus untuk bergegas pada pergerakan yang menyegarkan pikiran, mengerjakan sesuatu yang bisa melawan bayangan kegelisahan dari perasaan itu. Hujan tak bisa disalahkan namun yang menjadi pertimbangan adalah pengaruhnya bila ia turun setiap hari dalam berbulan-bulan dimulai dari September hingga Desember ini. Jika sediakan payung sebelum hujan, maka sediakanlah mental sebelum diguyur rasa kekurangan padahal segalanya sudah sejalan dengan takdirnya.
Ketika hujan turun secara alami ia menyuburkan tanah, menumbuhkan dan mengembangbiakkan tumbuhan yang ada disekitar, namun dari segi perasaan manusia sulit menolak, ada kenangan yang terlintas tatkala hujan turun, rindu itu seakan hadir seiring dengan genangan hujan yang membasahi jalanan, bukan bermaksud sok puitis tapi memang begitu kenyataannya, sampai-sampai Wira Negara mengatakan hujan itu terdiri dari 1 persen air dan 99 persen kenangan, orang yang dirundung galau bisa baper bawaannya, apalagi mendengar standup yang dibawa Wira Negara, segala macam benda apapun bisa dijadiin bahan puisi yang membuat para pendengarnya klepak-klepek tak karuan.
Yang dipermasalahkan bukan hujan, melainkan kesiapan kita yang mau tak mau tak bisa mengelak dari teduhnya suara hujan itu, jika tak lincah efeknya bisa bikin Mager “Malas Gerak”, orang kalau dah malas gerak bawaannya bisa melow dikamar, dengarin lagu-lagu sedih biar perasaan itu hanyut, suatu rutinitas panjang yang membosankan dan bergerak pun terasa malas ya begitu, manusia kalau sudah melihat hujan maka air matanya juga ingin menetes, cobalah perhatikan teman-teman kita atau lihat status yang ia tulis di media sosial tatkala hujan deras mengguyur, ada yang livestreaming di Instagram sambil putar lagu Judika, ada yang tiba-tiba baper dengerin lagu Payung Teduh - Akad jadi ingin cepat-cepat melamar cewek incarannya, dan macem-macemlah.
Sugesti hujan ini memang kuat pengaruhnya terhadap perasaan, kita yang sudah mengalami banyak pahit kegelapan di masa lalu rasa-rasanya tak ingin lemah gairah semangat hidup, kalau dalam filsafat kita boleh belajar banyak hal namun fokus tetap pada penyeimbangan, karena seberat apapun istilah-istilah rumit yang membingungkan itu mau tak mau harus seimbang seperti mendayung sepeda. maka kalau sudah tau dikit banyaknya efek hujan tak salah kukuhkan energi untuk berhati-hati, menyadarkan diri dari lamunan yang panjang, sesaat boleh namun jangan berlama-lama terlalu dalam, ambil nafas untuk merefleksikan perspektif baru.
Di bulan yang memasuki penghujung tahun ini memang selalu banyak hal yang dikhawatirkan, beragam bencana alam seakan tiba di penghujung tahun, gunung meletus, banjir di berbagai wilayah, lampu padam, pohon bertumbangan tersapu angin dan beragam hal lainnya membuat kita harus banyak-banyak berdoa, karena tak ada lagi harapan selain memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa, mempersiapkan mental agar tak terlalu lama termenung, mengantisipasi penuh harap yang tak memastikan.
Hujan itu inspirasi, namun kemana inspirasi yang kita bawa bila harus membuat perasaan sedih melulu ? Dalam berkarya yang menjadi kendala adalah ketidakmampuan menggetarkan sang penikmat, memang prinsip manusia berbeda-beda ada yang secara halus dan ada yang secara menggemparkan, gempar dalam interpretasi menggerakkan tanpa harus disuruh. Ada lagi Hujan itu seperti puisi, ia membuat hati seakan berbunga-bunga, kalau tak bisa menetralkannya bisa-bisa bawaannya bikin baper, kemana-mana jadinya ingat seseorang, memikirkan seseorang yang tak memikirkan diri sang pemikir. Ujung-ujungnya adalah patah hati yang berkepanjangan, sudah banyak harapan malah dianya yang berpaling, udah berjuang mati-matian malah ditekong. Ekspektasi yang tak rasional, rasa itu sepenuhnya memang berarti, namun dunia tak seperti dulu, hidup dengan cinta masih bisa makan, kalau sekarang apa-apa sudah mahal dan cinta itu harus sejalan dengan isi kantong, bukan perkara matre atau hidup yang harus mewah-mewah karena adakalanya perasaan itu berkaca pada dunia yang tengah kita hadapi, kalau udah mantap isi kantong, maka mantaplah hubungan percintaan itu.
Ini hanya sekedar mengingatkan bagi mereka yang suka melamun terbawa suasana hujan di musim hujan, bukan menakut-nakuti, ya kalau ada perasaan kepada seseorang ya memang bagus memiliki perasaan, namun hendaklah menempatkan perasaan dengan situasi, perubahan tatkala dunia bergerak tanpa pernah mengingatkan kita, perubahan itu sedikit-demi sedikit membuat kita tak sadar dan mengejutkan bahwa ada banyak hal yang sudah berlalu tanpa permisi, tugas kita adalah berjuang bersaing dengan negara lain menjadi sang penakluk kejenuhan, inspirasi yang menggerakkan yaitu mau tak mau memberi inspirasi sebelum diberi, tak menunggu inspirasi, karena apa yang bisa dikerjakan yang digerakkan itu baik, karena capek yang terlalu banyak berharap namun tak dianggap.
Aktifitas membunuh kegalauan dengan sering olahraga adalah kiat jitu, selain membakar kalori olahraga juga membakar kegelisahan, membakar suatu rasa penyesalan tentang keinginan yang tak tercapai, orang kalau gagal impiannya tercapai sering menjerumuskan diri pada dunia kegelapan, maka melawan dengan tidak masuk dunia kegelapan adalah dengan olahraga. Inspirasi jitu untuk lari dari rasa takut, bukan takut dengan anggapan umum bahwa lari dari kenyataan, namun takutlah bila sering mengawang-awang tak menentu. Intelejensi boleh melampaui namun jangan sampai menyakiti diri sendiri dengan larut pada sepi. Ketika gairah hidup tak kunjung membara, maka barakan api semangat dengan pergerakan pencerahan hari baru, menyambut setiap hari seperti menyambut tahun baru, bukan merasa berenergi tatkala dipenghujung tahun karena setiap detik adalah tahun baru bagi jiwa yang suci.
Hari berlalu dengan harapan tak ada yang disesali akan perjalanan ini, sebagaimana hujan yang jatuh membasahi bumi, perlahan-lahan hujan jatuh menghapus jejak-jejak yang menjadi beban, takkala hujan menghantui perasaan kita dengan rasa sesal, maka mulailah untuk menerima bahwa setiap kekurangan adalah kenikmatan yang menjadi pengalaman, berbuah dikala disiram, ketika bunga membutuhkan air agar tumbuh, maka pikiran membutuhkan bacaan agar diasah, semakin diasah pikiran itu semakin sadarlah intelijensi kita bahwa hidup bukan untuk disesali, berani mencintai berarti berani memperjuangkan tanpa menuntut balasan. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan pengamat seni, tinggal di Kota Rantauprapat
Opini saya "Eksistensialisme Hujan" dimuat Harian Analisa pada hari Sabtu, 13 Januari 2018.
http://harian.analisadaily.com/mobile/opini/news/eksistensialisme-hujan/485239/2018/01/13