Abdi Mulia Lubis
5 min readNov 6, 2018

Filosofi Carpe Diem

Petiklah hari dan percayalah sedikit mungkinakan hari esok. Sekilas adalah quote yang saya kutip dari penyair latin Horace yang berarti seseorang harus menikmati yang hadir bukan lebih mengkhawatirkan tentang masa depan, begitulah bila dipahami secara nyaman puisi tersebut. Filosofi carpe diem sangatlah dalam untuk dipe­lajari dan bila kita maknai akan terasa sejuk hati dalam merenungkannya seperti menikmati senja di tepi pantai yang biru dengan pancaran langit indah di atasnya. Dalam carpe diem kita menyadari bahwa kekhawatir­an yang berlebih bisa memperburuk keadaan, melahirkan penyakit dan terkungkung pada stres yang tak tercegah. Maka de­ngan merenungkan filosofi Horace kita akan teguh dalam menjalani hari tanpa dihantui ketakutan akan hal yang tak bisa dimiliki.

Pertama kali saya membaca arti dari puisi tersebut sejenak merin­ding seperti tertampar wahyu de­ngan kalimat sakti tersebut dan saya berhutang banyak dengan quote filosofis dari frasa yang dengan pemaknaan dalam memberi ilham kepada kita untuk mengungkapkan gagasan bahwa seseorang harus me­nikmati hidup yang ia miliki saat ini.

Carpe diem yang muncul dalam bukunya Odes (I.11), diterbitkan pada 23 SM. Menurut Horace, masa depan kita tidak dapat diprediksi, jadi kita harus melakukan apa pun yang bisa kita lakukan hari ini dan jangan mengandalkan peluang dan peluang yang mungkin datang di masa depan. Arti yang tepat dari frasa ini adalah "merebut hari." Ini adalah pepatah, yang berarti bahwa seseorang harus bertindak hari ini, dan tidak menunggu masa depan. Lebih tepatnya, ini mengacu pada pemetikan buah-buahan. Jadi, mak­na penuh dari kalimat ini adalah untuk memetik hari anda, percayai masa depan sesedikit mungkin. Dengan kata sederhana, itu berarti menikmati hari ini dan saat itu, tanpa membuang waktu, karena tidak ada yang tahu apa yang mung­kin terjadi di masa depan.

Penggunaan ini sangat umum. Kita dapat menggunakannya de­ngan cara yang mirip dengan peri­bahasa lain dalam bahasa Inggris, yang memberi tahu kita bahwa kita harus meman­faat­kan sebagian besar waktu yang kita miliki, karena kita me­mi­liki waktu yang singkat di bumi. Frasa ini juga berfungsi se­bagai tema sentral dalam buku "Dead Poet Society". Ung­kapan bahasa Inggris lainnya yang akrab dengan arti yang se­rupa termasuk, "burung awal menang­kap cacing" dan "serang sementara setrika itu panas." Seorang guru mungkin menasihati murid-murid­nya, atau pun seorang pelayan bo­leh bertanya kepada pelang­gannya “carpe diem”. Cara, tempat atau acara agar bisa memiliki slogan pemasaran untuk menarik wisdi milik Quintus Horatius Flaccus (65 SM - 8 SM), lebih dikenal Horace, adalah se­orang penyair Romawi. Ungkapan, "carpe diem" berasal dari puisi Horace yang terkenal dalam "Odes Book I," yang meng­gu­nakan meta­fora pertanian untuk men­dorong orang-orang untuk berpelukan pada hari. Filosofi "carpe diem" yang tercermin dalam banyak puisi Horace mewakili fil­sa­fat epicu­reanisme. Yang di­mak­sud carpe diem adalah sese­orang dianjurkan untuk hidup meman­faatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok, dengan begitu kita lebih dapat meman­faatkan waktu yang diberi­kan secara optimal. Kalimat carpe diem sering disalah­artikan sebagai "ma­kan dan minum­lah, karena esok kita mati". Carpe diem atau dalam bahasa Indonesia kita artikan sebagai merebut hari digunakan untuk membenarkan perilaku spon­tan dan memanfaat­kan hari ini atas kesalahan masa lalu, karena orang tidak tahu apakah mereka akan hidup untuk melihat besok.

Namun, kalimat yang sebenar­nya tidak mengatakan untuk meng­abaikan masa depan, melainkan un­tuk melakukan se­banyak yang da­pat dilakukan sekarang karena me­re­ka tidak akan tahu apakah se­mua­nya akan jatuh ke dalam jangka pan­­­jang. Ajarkanlah diri untuk men­­cintai apa yang dimiliki saat ini dan melupakan segala keinginan yang memaksa untuk mendapatkan se­suatu yang menggebu secara cepat. Inilah kehidupan yang tengah kita jalani dan tetaplah setia bersa­ma langkah yang tengah kita tempuh.

Carpe diem berarti membuat keputusan berani, agar tidak merasa menyesal nantinya, sedangkan amor fati berarti belajar mencintai pilihan yang sudah Anda buat, berani atau tidak. Bagaimanapun sakitnya menjalani hidup yang tak kunjung menemukan kebahagiaan itu, tetaplah bersyukur. Mungkin inilah yang terbaik diantara segala keburukan nasib yang menimpa kehidupan. Begitu banyak hal dalam kehidupan kita yang mem­buat kita ingat apa yang telah ter­jadi, atau harapan akan apa yang mungkin terjadi. Ada kecende­rungan nostalgia, tekanan untuk berefleksi pada hari-hari sekolah, atau ketika anak-anak masih muda. "Hari-hari terbaik dalam hidup kita" dikatakan berada di belakang kita.

Dalam Horace, frasa ini adalah bagian dari carpe diem quam mini­mum credulapostero, yang dapat diterjemahkan sebagai "Mere­but hari, menaruh sangat sedikit keper­cayaan di hari esok (masa depan)". Dalam buku Ode ia mengatakan bahwa masa depan tidak terduga dan orang tidak boleh pergi untuk kejadian di masa depan, tetapi harus dilakukan semua orang hari ini untuk membuat masa depan sese­orang lebih baik. Frasa ini biasanya dipahami dengan latar belakang gabungan epicurean Horace. Arti "carpe diem" seperti yang diguna­kan oleh Horace bukanlah untuk mengabaikan masa depan, tetapi tidak untuk percaya bahwa segala sesuatu akan jatuh pada tempatnya untuk Anda dan mengambil tinda­kan untuk masa depan mulai hari ini.

Carpe diem, yang berarti 'mere­but hari,' adalah salah satu cita-cita filosofi yang paling kuat. Dalam bahasa Inggris, frasa Latin "carpe diem" sering diterjemahkan sebagai "Seize The Day". Untuk beberapa orang carpe diem berarti hedonisme liar, bagi yang lain itu hidup dengan tenang di saat sekarang. Band heavy metal Metallica telah mengguncang penonton di seluruh dunia dengan lagu mereka Carpe Diem Baby, sementara aktris Judi Dench memi­liki tato di pergelangan tangannya untuk ulang tahunnya ke-81.

Pesan carpe diem lebih penting saat ini. Kita hidup di zaman gangguan sosial media, di mana kita memeriksa telepon kita, rata-rata bisa sampai 100 kali dalam sehari, dan lebih tertarik untuk menjadi penonton kehidupan di layar gadget daripada hidup untuk diri kita sendiri. Tenggelam dalam kesenangan tangan genggaman yang ditawarkan oleh gadget elek­tronik. Kita harus terhubung kem­bali dengan kebijaksanaan carpe diem, sebuah filosofi yang me­manggil kita untuk mencicipi keajaiban pengalaman hidup dalam waktu singkat yang kita miliki sebelum kematian.

Menurut Kate Prudchenko terje­mahan yang lebih tepat dari "carpe diem" berarti memetik hari ketika sudah matang, atau menerima hari alih-alih hanya percaya bahwa itu semua akan berhasil di masa depan. Dalam hal ini, arti "carpe diem" serupa dalam arti untuk banyak pepatah bahasa Inggris yang dike­nal seperti "serang sementara besi panas" dan "burung awal me­nangkap cacing." Asal-usul tema "carpe diem" terletak dalam epicu­reanism, sebuah filosofi di mana Horace percaya dan diilhami oleh ajaran epicureanisme.

Epicureanisme adalah filsafat yang didasarkan pada ajaran-ajaran Epicurus. Filosofi ini, yang berasal sekitar 307 SM, adalah materialis di alam dan menyerang gagasan takhayul dan intervensi ilahi. Epicurus percaya bahwa kese­nangan adalah kebaikan terbesar, dan cara orang mencapai kesena­ngan adalah menjalani kehidupan yang sederhana, mendapatkan pengetahuan tentang dunia dan batasnya. Menurut Epicureanis­me, memimpin jenis kehidupan ini mengarahkan orang itu ke keadaan tenang, atau ataraxia, yang mem­buatnya bebas dari rasa takut. Lebih jauh, itu juga menuntunnya ke keadaan yang absen dari rasa sakit jasmani, atau aponia. Kombinasi dari dua kondisi ini yang me­mungkinkan orang tersebut men­capai keadaan kebahagiaan total.

Filosofi "carpe diem" sering disa­lahgunakan dan disalahpa­hami. Epicureanisme sebagai filsafat juga sering bingung dengan gagasan hedonisme. Epikurosisme, seperti hedonisme, menghargai kese­nangan sebagai kebaikan intrinsik, tetapi Epicureanisme menekankan gagasan hidup sederhana dan menyebut tidak adanya rasa sakit sebagai kesenangan terbesar.

Masa lalu adalah masa lalu, dan sekarang adalah apa yang benar-benar penting. Jangan fokus pada apa yang hilang; fokus pada apa yang seharusnya datang. Hiduplah di saat ini tanpa terbebani akan selanjutnya.***

Harian Analisa, 24 Oktober 2018

No responses yet