Filsafat Melampaui Batas Keimanan
Belajar agama tinggi-tinggi tetapi tidak mampu menghargai perbedaan di dalam keberagaman maka itu sama saja akan menjadi penghinaan terhadap agama yang tengah dianut. Terlalu cepat belajar agama tanpa menyerap hakikat pemahaman dari suatu agama menyebabkan seseorang lemah berpikir kritis sebab tahunya cuma berkhayal tanpa ada pergerakan. Lemahnya berpikir kritis dan enggannya masuk dalam pertimbangan yang membutuhkan analisis yang panjang menyebabkan seseorang merasa bahwa hidup adalah untuk mengejar akhirat semata. Padahal bila waktu yang dimiliki seseorang di bumi ini sedikit maka optimalkanlah waktu itu dengan cara berkarya semaksimal mungkin, bukan wara-wiri gak jelas mencari sensasi membikin viral atas kepentingan agama.
Pada intinya kalau kita gali lebih dalam lagi suatu pola pikir manusia bahwa ini adalah cara bagaimana memanage waktu dan bagaimana kita bisa berpikir ulang dari suatu proses tanpa harus terikuti oleh arus rasa keyakinan yang standard. Semangat generasi milenial saat ini harus mangkrak disebabkan tawaran religius yang berasaskan kebencian semata saja.
Kita telah diatur pada sistem agama yang terlalu mengekang sehingga bila ada suatu ketimpangan dan bencana yang terjadi di negeri ini maka yang disalahkan paling awal adalah kaum dosa besarnya. Saya merasakan fenomena kecanduan religius itu dan melihat banyak orang menjadi ramai-ramai untuk menjadi suci, bersih 100 % dari kesalahan dan merasa sempurna diatas segala perbedaan. Banyak para pemuka agama kita saat ini yang bersikap angkuh dengan menebarkan kebencian terhadap mereka yang berbeda keyakinan, kedunguan ini telah menjadi penyakit dan terjadi begitu lama dan kita membutuhkan solusi tepat untuk meminimalisir ulama cepat saji dalam belajar agama hingga selalu salah konsep dalam berdakwah.
Tidak ada kata yang paling tinggi di dalam kekuasaan agama selain Tuhan. Para nabi dan rasul memiliki tugas menyampaikan pesan Tuhan dan kita para generasi saat ini diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Persoalan iman dan kepercayaan yang dimiliki oleh orang lain tidak semestinya menjadi urusan seorang pemuka agama dengan suatu pemaksaan,dan bagi agama mayoritas tidak semestinya menentukan hukum apa yang menjadi utama di dalam suatu negara.
Ketika agama sudah tak menjadi panutan dan iman sudah tak menjadi harapan maka yang menjadi perjuangan adalah kemajuan dari suatu peradaban dari lahirnya karya inovasi teknologi terbaik. Kalau kita pikirkan secara serius, memang banyak memberi batasan bagi pemikiran sebab ia memerintahkan kepada manusia untuk menyerahkan segala urusan kepada Tuhan.
Bukan karena Tuhan tidak mampu untuk mengabulkan segala keinginan hambanya melainkan hambanya sendirilah yang harus berusaha memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya tanpa harus mengejar untuk meminta-minta, sebab Tuhan akan merasa agak tersinggung bila hambanya terus meminta tanpa pernah mencoba untuk meraih apa yang menjadi impiannya.
Kita adalah makhluk yang terlahir dengan kesadaran bukan dengan keterpaksaan asal hajar. Ada rasa yang melekat di dalam diri manusia sehingga ia akan merasa ada yang ganjil bila ada suatu ketimpangan yang tengah terjadi. Berbeda dengan dewan perwakilan koruptor yang memberikan keringanan pada koruptor untuk bebas mengeruk keuntungan yang bisa ia jilat sendiri.
Ada kegilaan yang entah mengapa sengaja terjadi dibuat di negeri ini yang membuat banyak rakyat kelas bawah kita menjadi korban dari suatu ketimpangan, dan yang memiliki kekuasaan tak kan peduli dan memilih diam sambil menikmati anggaran yang bisa dimanfaatkan dari kursi yang tengah ia duduki. Begitulah relaitanya, ketika di bawah ia berjanji, setahun memperbaiki citra dan selebihnya dikuras apa yang bisa dikuras.
Dan kegentingan yang tengah dihadapi memaksa kita harus berpikir keras ketika semua orang lebih memilih untuk mengurus dirinya masing-masing karena faktor ekonomi yang mendesak menyebabkan segala sesuatu didiamkan saja. Ketika ada yang viral dan sensasi itulah yang diutamakan sementara masalah sosial dan ketimpangan lainnya dibiarkan begitu saja.
Kita sudah berada pada batas yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Berdiam diri menjadi masalah sementara berbuat bisa menjadi serangan UU yang tak berfaedah. Jadi disinilah bukti bahwa pentingnya masyarakat untuk berpikir kritis untuk tidak mengedepankan ego saja melainkan bisalah mengedepankan kaca mata perspektif dalam realita yang terjadi. Bila kita mampu menembus batas keimanan maka kita bisa mencapai suatu alur pemikiran dan mampu membaca ketimpangan dan menemukan solusi terbaiknya seperti apa, karena bila kita semua fokus untuk kepada mencari uang, sementara untuk memperbaiki kehancuran sosial maka pencitraan bagaimanapun yang akan dibuat tidak akan ada gunanya dan kesadaran rakyat sudah bisa memahami apa yang menjadi kebutuhan mendesak dan apa yang menjadi keterpaksaan harus memilih.
Harian Analisa, 6 Februari 2020