Hijau Peneduh Jiwa
Hamparan langit yang sempurna, hijaunya pemandangan meneduhkan perasaan seperti tak ingin berpaling dari indahnya ciptaan Tuhan. Inilah kedamaian yang selama ini dicari, seakan tak ingin pudar dari ingatan, membekas penuh makna, berbaur menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Takkala gambar itu terlihat, aroma udara segar hijau bukit itu masih membekas di dada. Suatu anugerah yang patut disyukuri bagi umat manusia adalah ketika ia menyadari bahwa tidak terlalu tertekan oleh beban pemikiran hidup. Ini adalah jalan di mana kita berdiri untuk tetap tegar menghadapi dunia yang penuh tantangan.
Ketika kota metropolitan bertaburan polusi dan kemacatan yang tiada henti, liburan wisata alam untuk memanjakan mata adalah pilihan terbaik di tengah kondisi resah yang tak kunjung padam. Adakalanya kita rapuh bukan karena merasa putus asa, melainkan menutup sejenak lembaran hidup di kota metropolitan dengan berjelajah wisata alam. Sama kiranya tatkala kita berkunjung ke Brastagi ataupun Danau Toba, udaranya yang sejuk membuat kita tak ingin bergerak pergi.
Selain disibukkan mencari rezeki sebaik-baiknya. Bila diperhatikan, yang dicari manusia dalam hidup ini pada umumnya adalah ketenangan. Janganlah terlalu mencemaskan ketidakmampuan akan bayangan masa depan. Semakin waktu maju secara normal, kewaspadaan terhadap orang di sekitar memuncak. Ada yang tak ingin ditinggalkan dan ada rasa ingin menetap selama mungkin.
Secara filosofis kalau kita coba berpikir berat sedikitnya manusia itu dilahirkan tanpa keinginannya sendiri, ketika manusia lahir ia ingin hidup abadi. Itu hanya gambaran sekilas karena dalam ketidakpastian manusia dituntut bergerak terus mencari, bagaimanapun sakitnya kecemasan terhadap waktu bukanlah selamanya untuk dikhawatirkan.
Hidup terlalu singkat untuk menyesali dan perjalanan begitu panjang kedepannya. Ada banyak misi yang harus kita kerjakan kedepannya, dan bagaimanapun letih tak boleh membuat semangat pupus, tentunya ada hal yang tak terlupakan dari kenangan dan ada banyak hal yang harus dilakukan demi masa depan. Misi manusia adalah terus berjuang selama ia menginjak bumi.
Saya sangat terinspirasi dengan pemandangan alam, warna hijau itu memiliki keteduhan yang dalam, sejenak saya memperhatikan namun lama kedua mata menatap barisan pepohonan itu, tak ingin berpaling rasanya, betapa damai yang dirasa seakan berada pada satu situasi Alam sebagai pernapasan yang ringan.
Saya hidup dengan bacaan buku-buku filsafat, mungkin terlalu memaksa diri untuk tiap hari bergulat pada pemikiran berat, namun itu adalah modal suatu pencapaian dan percaya bahwa yang berat-berat akan meringankan dalam menggapai inspirasi.
Adalah waktu yang mempertemukan dan menggerakkan kesadaran itu bahwa inspirasi yang kita dapat harus dibagi kepada mereka, dalam pemandangan hijaunya alam kita menyadari bahwa gagasan harus disebarkan, inspirasi tak boleh hanya dinikmati secara pribadi.
Alam memberi ilham bahwa setinggi apapun ilmu yang kita dapat jangan pernah merusak alam itu, dan lewat dedaunan itu ia seakan membisikkan kesadaran intelektual tentang nilai dan hakikat. Manusia bisa membangun apapun namun ia tak bisa mengelak bahwa disinilah ia berada untuk menjadi yang terbaik.
Berdiri tanpa melukai makhluk lain adalah prinsip humaniora, memanusiakan manusia dengan mencintai alam yang ada disekitarnya, dengan cara tidak membuang sampah pada tempatnya maupun tidak dengan memijak sembarangan bunga-bunga yang ada di sekitarnya.
Hijau sebagaimana yang kita ketahui ialah warna yang memiliki pengaruh lebih dalam dari warna-warna yang ada pada umumnya. Pada dasarnya keterikatan warna hijau itu menyentuh di setiap tumbuh-tumbuhan. Matahari yang identik memiliki warna kuning menumbuhkan setiap tumbuhan dan dedaunan.
Dari dedaunan yang hijau memperlihatkan semangat kehidupan itu sendiri, tatkala hati sedang gelisah, Dengan meluangkan waktu bermain dengan menatap dedaunan yang hijau akan menambahkan daya rafreshing terhadap pemikiran yang awalnya sumpek menjadi tercerahkan.
Konon hijau bukanlah sekedar yang terlihat biasanya, manusia banyak menggambar dengan menggunakan warna hijau sebagai bentuk penguat daya tarik pembaca karya, berjalanlah melintasi Brastagi maupun Danau Toba, renungkan sejenak betapa dalamnya arti hidup dengan menatap cakrawala alam.
Sering kita mendengar keluhan dari mana datangnya gagasan atau bagaimana cara mendapatkan inspirasi. Salah satu caranya adalah dengan bersahabat dengan alam, travel yang bukan sekedar gaya-gayaan melainkan sebuah pencarian akan jati diri, mengenal lebih dekat diri sendiri. Dengan mencintai alam berarti kita mencintai diri dan orang di sekitar kita. Bahasa kekiniannya, alam saja tidak disakiti, apalagi orang yang ada di sekitarnya.
Tetaplah bertahan tanpa khawatir akan segala bayangan yang membuat semangat itu hancur. Kuatkan diri dari serangan sensasi kegalauan kekinian berupa bertebarannya generasi kids zaman now yang kelakuan bisa membuat kita geleng-geleng kepala, dibiarin menjadi-jadi tak dibiarin makin melawan.
Inilah dunia dengan kecepatan perubahan yang tak bisa diprediksi. Jika banyak orang berpikir untuk berhenti maka janganlah merasa untuk berakhir.
Harian Analisa, 27 Januari 2019.