Abdi Mulia Lubis
4 min readNov 15, 2018

Hilangnya Akal Sehat Bernegara

Beragama tapi merasa paling be­nar diatas keberagaman yang di­be­rikan Tuhan di muka bumi ini dan ber­sikeras untuk mendirikan satu aga­ma dalam satu negara, dan bercita-cita untuk menghilangkan agama lain adalah cikal bakal lahirnya terorisme. Hal-hal seperti ini jangan dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja. Yang te­riak-teriak NKRI bersyariah patut diwaspadai karena sangat besar me­nimbulkan perpecahan serta kega­duh­an di negara kita. Hilangnya diskusi Pan­casila dan maraknya beragam dalil yang salah tafsir menyebabkan pem­bengkakan teologi semakin parah.

Masalahnya adalah munculnya para pemuka agama yang ekstrim da­lam berceramah di rumah ibadah. Ke­tika kita ingin beribadah dengan men­cari ketenangan batin di masjid maka dengan seketika niat itu hilang akibat te­racuni oleh ceramah-ceramah ke­ke­rasan yang tak berfaedah seperti la­rangan memilih pemimpin diluar agama, diharamkan untuk belanja di toko pemiliknya diluar agama dan ba­nyak hal-hal yang tidak kita sadari bah­­wa ceramah itu sangat tak ber­aqi­dah karena lebih besar kebencian daripada keteduhan. Yang mau shalat di masjid jadi tak khusuk, yang stres jadi makin tambah stress karena tidak adanya solusi pencerahan yang sehat.

Semakin kita terpancing pada khot­bah yang tak meneduhkan hati maka semakin besar efek kebencian yang akan kita miliki. Anak yang baru duduk di bangku SMP jadi ikut-ikutan untuk radikal memahami konsep tauhid tanpa pertimbangan nalar yang kokoh.

Generasi kita buntu asupan paham pe­mikiran kiri dan lebih banyak di­so­dorkan ceramah-ceramah kekerasan. Sehingga yang menjadi makanan kita ber­hari-hari di Facebook adalah per­pecahan dan kegaduhan yang tiada henti. Pangkalnya sederhana tapi para pemuka agamanya yang terlalu radikal se­hingga generasi muda kita tak tahu mau jadi apa dan lebih banyak terdoktrin mendengar ceramah eks­trem di YouTube untuk cepat-cepat masuk surga.

Nalar kemanusiaan telah mati dan tanpa sadar kita sebagai mayoritas terdoktrin untuk membenci perbedaan yang ada. Banyaknya Tabligh Akbar dan minimnya konser musik serta matinya aktifitas kegiatan seni di dae­rah-daerah merupakan bias dari ke­du­nguan tersebut. Para pemuka agama berbondong-bondong mencari sen­sasi agar terlihat santun di mata ma­syarakat. Sebenarnya yang dibu­tuh­kan masyarakat adalah estetika bukan radikalisme.

Ketika Filsafat Pancasila dianggap lebih rendah dibanding kitab suci maka disinilah kedunguan itu bersa­rang. Berlomba-lomba memupuk pa­hala dan menjudge orang yang berdosa su­dah menjadi kebiasaan bagi mereka beraliran ekstrem. Masya­rakat Indonesia mempunyai cita-cita bersama yang harus diwujudkan untuk kesejah­te­raan seluruh rakyat karena Pancasila berperan sebagai ideologi negara.

“Cintai surgamu jauhi dunia ini” be­gitulah kalimat-kalimat ekstrem yang sering kita dengar dalam cera­mah yang tak meneduhkan. Longsor, gem­pa, banjir dan tsunami adalah pe­nyebab dari LGBT. Sontak saya kaget mau tertawa namun gak sampai hati akan kedunguan tersebut. Mengapa kita masih menyalahkan Tuhan dan tidak mau berbenah diri ? Ini adalah pro­blem yang tak ada habisnya sampai sekarang. Orang-orang sibuk mengait­kan bencana dengan dosa seakan pa­ling tahu isi hati Tuhan.

Saya terdiam duduk begitu lama memandang cahaya terang diatas kepala sambil merenung suatu perta­nyaan penting yaitu bagaimana jadinya jika agama memiliki kuasa penuh terhadap pemikiran yang bebas ? Tentu tirani akan merajalela. Se­se­orang dilarang berpikir dan hiduplah se­suai dengan ketetapan agama. Saya tidak membenci agama apapun, kritik harus tetap ada agar seseorang tidak tenggelam pada keyakinan takhayul. Tanpa keraguan manusia hidup bagai bi­natang yang tak memiliki visi me­lainkan makan dan tidur.

Namun jika satu agama dengan ma­yoritas kepemilikan berlebih men­coba untuk mendiskriminasi mino­ritas maka yang terjadi adalah pemus­nah­an terhadap perbedaan. Mencintai yang tunggal tanpa meneri­ma kebera­gam­an adalah sama dengan omong kosong.

Seseorang yang berilmu tinggi tahu menempatkan diri untuk tidak meng­ha­sut bahkan memecah belah persa­tuan NKRI. Semakin seseorang ber­agama maka semakin ia sadar untuk me­nyayangi dan memberi kesejukan. Inilah sosok yang kita cari yaitu sosok yang mampu menyuarakan ceramah keteduhan dan tidak asal menaikkan amuk amarah. Sikap rakus nan tamak sudah tak bisa dihindarkan para ko­ruptor yang berlagak santun. Banyak orang yang terlihat alim bela agama anti kafir namun dibelakang muna­fik­nya minta ampun.

Tiada kesempurnaan yang dapat diraih dalam kehidupan ini, semua impian pasti memiliki celah bila ia tak mampu tergapai. Walau berjuang tiada berhenti terus mencoba, dan keyakinan terus membara di dalam doa, tumpah-tindih penat hidup pasti mendera setiap manusia.

Kesedihan bukan untuk diperlihatkan walau air mata terkadang tak sanggup menahan pedihnya penderitaan. Nasib adalah kesunyian masing-masing kata Chairul Anwar. Membuka dan terus membuka lembaran baru agar tak terkung­kung pada masa lalu yang memenjarakan ingatan. Kehidupan harus melangkah kedepan, bukan tertahan pada luka yang lama, dan tidak menyesali besarnya penderitaan takdir di masa kini. Karena setiap manusia pada umumnya memiliki cacat takdir yang semua manusia tak bisa asal merendahkan.

Etika humanisme mengajarkan tanggung jawab terhadap keadilan dan persahabatan manusia, tanpa harus berharap pahala di akhirat.

“The not-yet” selalu ada dalam potensi kemungkinan, bukan dalam kepastian doktrinal. Kesepakatan dasar bernegara tentu diperlukan, tapi bukan untuk meng­halangi ekspresi pikiran politik warganegara. Harus diaktifkan suatu etika sekuler yang memungkinkan percakapan (dan bahkan perselisihan pendapat) tumbuh dalam ruang publik yang deliberatif.

Harian Analisa, 13 November 2018

No responses yet