Hilangnya Akal Sehat Bernegara
Beragama tapi merasa paling benar diatas keberagaman yang diberikan Tuhan di muka bumi ini dan bersikeras untuk mendirikan satu agama dalam satu negara, dan bercita-cita untuk menghilangkan agama lain adalah cikal bakal lahirnya terorisme. Hal-hal seperti ini jangan dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja. Yang teriak-teriak NKRI bersyariah patut diwaspadai karena sangat besar menimbulkan perpecahan serta kegaduhan di negara kita. Hilangnya diskusi Pancasila dan maraknya beragam dalil yang salah tafsir menyebabkan pembengkakan teologi semakin parah.
Masalahnya adalah munculnya para pemuka agama yang ekstrim dalam berceramah di rumah ibadah. Ketika kita ingin beribadah dengan mencari ketenangan batin di masjid maka dengan seketika niat itu hilang akibat teracuni oleh ceramah-ceramah kekerasan yang tak berfaedah seperti larangan memilih pemimpin diluar agama, diharamkan untuk belanja di toko pemiliknya diluar agama dan banyak hal-hal yang tidak kita sadari bahwa ceramah itu sangat tak beraqidah karena lebih besar kebencian daripada keteduhan. Yang mau shalat di masjid jadi tak khusuk, yang stres jadi makin tambah stress karena tidak adanya solusi pencerahan yang sehat.
Semakin kita terpancing pada khotbah yang tak meneduhkan hati maka semakin besar efek kebencian yang akan kita miliki. Anak yang baru duduk di bangku SMP jadi ikut-ikutan untuk radikal memahami konsep tauhid tanpa pertimbangan nalar yang kokoh.
Generasi kita buntu asupan paham pemikiran kiri dan lebih banyak disodorkan ceramah-ceramah kekerasan. Sehingga yang menjadi makanan kita berhari-hari di Facebook adalah perpecahan dan kegaduhan yang tiada henti. Pangkalnya sederhana tapi para pemuka agamanya yang terlalu radikal sehingga generasi muda kita tak tahu mau jadi apa dan lebih banyak terdoktrin mendengar ceramah ekstrem di YouTube untuk cepat-cepat masuk surga.
Nalar kemanusiaan telah mati dan tanpa sadar kita sebagai mayoritas terdoktrin untuk membenci perbedaan yang ada. Banyaknya Tabligh Akbar dan minimnya konser musik serta matinya aktifitas kegiatan seni di daerah-daerah merupakan bias dari kedunguan tersebut. Para pemuka agama berbondong-bondong mencari sensasi agar terlihat santun di mata masyarakat. Sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat adalah estetika bukan radikalisme.
Ketika Filsafat Pancasila dianggap lebih rendah dibanding kitab suci maka disinilah kedunguan itu bersarang. Berlomba-lomba memupuk pahala dan menjudge orang yang berdosa sudah menjadi kebiasaan bagi mereka beraliran ekstrem. Masyarakat Indonesia mempunyai cita-cita bersama yang harus diwujudkan untuk kesejahteraan seluruh rakyat karena Pancasila berperan sebagai ideologi negara.
“Cintai surgamu jauhi dunia ini” begitulah kalimat-kalimat ekstrem yang sering kita dengar dalam ceramah yang tak meneduhkan. Longsor, gempa, banjir dan tsunami adalah penyebab dari LGBT. Sontak saya kaget mau tertawa namun gak sampai hati akan kedunguan tersebut. Mengapa kita masih menyalahkan Tuhan dan tidak mau berbenah diri ? Ini adalah problem yang tak ada habisnya sampai sekarang. Orang-orang sibuk mengaitkan bencana dengan dosa seakan paling tahu isi hati Tuhan.
Saya terdiam duduk begitu lama memandang cahaya terang diatas kepala sambil merenung suatu pertanyaan penting yaitu bagaimana jadinya jika agama memiliki kuasa penuh terhadap pemikiran yang bebas ? Tentu tirani akan merajalela. Seseorang dilarang berpikir dan hiduplah sesuai dengan ketetapan agama. Saya tidak membenci agama apapun, kritik harus tetap ada agar seseorang tidak tenggelam pada keyakinan takhayul. Tanpa keraguan manusia hidup bagai binatang yang tak memiliki visi melainkan makan dan tidur.
Namun jika satu agama dengan mayoritas kepemilikan berlebih mencoba untuk mendiskriminasi minoritas maka yang terjadi adalah pemusnahan terhadap perbedaan. Mencintai yang tunggal tanpa menerima keberagaman adalah sama dengan omong kosong.
Seseorang yang berilmu tinggi tahu menempatkan diri untuk tidak menghasut bahkan memecah belah persatuan NKRI. Semakin seseorang beragama maka semakin ia sadar untuk menyayangi dan memberi kesejukan. Inilah sosok yang kita cari yaitu sosok yang mampu menyuarakan ceramah keteduhan dan tidak asal menaikkan amuk amarah. Sikap rakus nan tamak sudah tak bisa dihindarkan para koruptor yang berlagak santun. Banyak orang yang terlihat alim bela agama anti kafir namun dibelakang munafiknya minta ampun.
Tiada kesempurnaan yang dapat diraih dalam kehidupan ini, semua impian pasti memiliki celah bila ia tak mampu tergapai. Walau berjuang tiada berhenti terus mencoba, dan keyakinan terus membara di dalam doa, tumpah-tindih penat hidup pasti mendera setiap manusia.
Kesedihan bukan untuk diperlihatkan walau air mata terkadang tak sanggup menahan pedihnya penderitaan. Nasib adalah kesunyian masing-masing kata Chairul Anwar. Membuka dan terus membuka lembaran baru agar tak terkungkung pada masa lalu yang memenjarakan ingatan. Kehidupan harus melangkah kedepan, bukan tertahan pada luka yang lama, dan tidak menyesali besarnya penderitaan takdir di masa kini. Karena setiap manusia pada umumnya memiliki cacat takdir yang semua manusia tak bisa asal merendahkan.
Etika humanisme mengajarkan tanggung jawab terhadap keadilan dan persahabatan manusia, tanpa harus berharap pahala di akhirat.
“The not-yet” selalu ada dalam potensi kemungkinan, bukan dalam kepastian doktrinal. Kesepakatan dasar bernegara tentu diperlukan, tapi bukan untuk menghalangi ekspresi pikiran politik warganegara. Harus diaktifkan suatu etika sekuler yang memungkinkan percakapan (dan bahkan perselisihan pendapat) tumbuh dalam ruang publik yang deliberatif.
Harian Analisa, 13 November 2018