Intelektual Humaniora dalam Penulisan
Sebuah kecerdasan dan kebijaksanaan yang disusun halus dalam mengupayakan terwujudnya keadilan sosial.
Penerbit Jalasutra kembali mencetak buku-buku antic koleksi jalasutra demi memenuhi kebutuhan para pembaca akan budaya dan makna. Ada sekitar 140 an judul buku yang dicetak kembali salah satunya ialah buku Writing and Being, karya Nadine Gordimer peraih nobel sastra pada tahun 1991. Saya kepikiran membaca sinopsis buku tersebut “Untuk siapa anda menulis ?” pertanyaan yang memilki banyak keturunan pada sinopsis buku dari manakah karakter dalam fiksi itu muncul? Apakah penulis harus berpijak pada realitas terdekatnya, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsanya, ikut serta menentukan arus perubahan kondisi sosial masyarakatnya? Apakah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revolusi? Apakah tulisan memang benar-benar memiliki makna bagi Masyarakat dan pembaca yang tengah mengalmi ketidakadilan, keprihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan ? Sumbangsih apakah yang wajib diberikan penulis kepada umat manusia ?
Writing and Being berisi rangkaiaan pidato kuliah yang diberikan pada 1994. Pidato ini merupakan pengantar yang bagus dalam memahami kritik-kritiknya dalam penulisan. Oleh penulisnya pidato itu diberi judul Writing and Being (Tulisan dan Ada). menggambarkan pijakan semangat yang dibawa dalam karya-karya fiksi, dan sikapnya terhadap dunia penulisan, baik perhatiannya terhadap sesame penulis yang mengalami penindasan maupun makna penulisan bagi peradaban manusia.
Menurut Nadine Gordimer, seorang penulis harus terus menggunakan hak untuk berbicara tentang kesulitannya, sebagaimana pendirian dan kritiknya terhadap ketidakadilan yang dia saksikan dalam realitasnya, begitu juga dengan jiwa fiksi yang dibuatnya. Seperti yang ia kutip dari pernyataan Gabriel Garcia Marquez bahwa penulis harus mengambil hak untuk mengeksplorasi, termasuk kekurangan, kesalahan, dan kerugiannya-baik musuh maupun kawan seperjuangan tercinta, karena hanya usaha demi kebenaran membuat ada masuk akal.
Nadine Gordimer lahir pada 20 November 1923 di springs, Transvaal, Afrika Selatan. Dikenal karena menulis banyak sisi rasisme beserta dampaknya pada individu dan Masyarakat, kekuatannya ialah pada kedalaman wawasan, kekuatan dialog tokoh realistic, tulisan yang hidup, dan gaya ironisnya terhadap ketidakadilan sosial di Afrika Selatan karena penerapan politik Apartheid. Apartheid adalah sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Adrika Selatan dari tahun 1930 hingga tahun 1990.
Di buku ini terdiri enam esai panjang, Nadine Gordimer memilih dan meriset penulis dan karya yang menurutnya sejalan dengan pandangannya, terutama adalah Naguib Mahfouz dari Arab, Chinua Achebe dari Afrika, dan Amos dari Yahudi. Di tiga esai lainnya dia menulis beragam topik yang memiliki hubungan dengan keyakinannya antara lain tentang tulisan dan realitas, fiksi dengan revolusi, dan Makna tanah air dan kebangsaan di zaman poskolonial yang dialaminya.
Dalam The Nature of Existence ia berpendapat bila si penulis tidak bertanggung jawab terhadap karya tulisnya, bila ia tidak ada di dalamnya, maka harus dipertanyakan apakah “Pluralitas” yang membentuk tulisan mereka bisa dikomposisikan oleh Hermeneutika dari satu individu untuk kita semua.
Di sisi lain, bila si penulis adalah satu-satunya yang ada di dalamnya, dirinya sendiri adalah karakter-karakter ciptaanya, dan pengalamannya adalah sumber yang cocok dari semua karya fiksinya, maka tidak akan ada tempat dalam literatur untuk keragaman umat manusia dengan kontradiksi liarnya. Menggunakan fiksi untuk tujuan yang sebenarnya, yaitu penemuan dari pendataan dari dunia kita.
Sebagai seorang pemikir cepat yang pragmatis dengan motivasi ideologis yang timbul dari kepekaannya akan ketidakadilan yang harus dicari jalan keluarnya. Sikap tegas Nadine Gordimer melawan ketidakadilan dan keprihatinan yang terjadi disekitar kehidupannya, dan dimana pun itu itu terjadi sangat beresiko bagi siapapun, termasuk seorang penulis. Risiko itu bentuknya macam-macam, dari yang bisa dikategorikan “ringan”, misalnya sebuah karya dilarang beredar atau disensor, sampai yang dikategorikan berat, antara lain dipenjara, diculik, diancam hukuman mati, diasingkan, bahkan dibunuh, baik terang-terangan maupun rahasia. Dan Nadine Gordimer tak luput dari sensor itu.
Dalam buku ini kita akan bisa merasakan wawasan, pendirian, dan idealism Nadine Gordimer terhadap yang dinamai sebagai Writing and Being. Dia berusaha hati-hati dan mendalam menginterpretasikan karya penulis lain, selain itu dia membukakan jendela bagi kita tentang sejumlah topic yang menarik diperhatikan, mulai dari pertautan tulisan dan revolusi, sampai keteganga penulis antara pengalaman penulis dengan penciptaan tulisan. Pada Bab 4, Nadine membahas sisi tersembunyi Trilogi Cairo Mahfouz dan mengutip puisi yang ditulis oleh Proust :
Jangan takut untuk melangkah terlalu jauh, karena kebenaran terletak lebih jauh lagi.
Peresensi: Abdi Mulia Lubis
Judul Buku : Writing and Being
Penulis : Nadine Gordiner
Penerbit : Jalasutra
Tahun Terbit : Cetakan Mei 2016
Tebal : 260 halaman
Tulisan versi online resensi buku Koran Analisa bisa juga anda baca dengan mengklik link berikut ini : http://harian.analisadaily.com/mobile/resensi-buku/news/intelektual-humaniora-dalam-penulisan/254116/2016/08/03
Dimuat pertama kali di Koran Harian Analisa pada Hari Rabu, 3 Agustus 2016 :