Interpretasi Radikal
Bersiap dengan hidup sejuta pikiran artinya bersiap untuk bergejolak dengan beban batin, yang tak masuk diakal terkadang benar adanya melihat momentum zaman yang akan dihadapi. Mula-mula nya kita terkejut dengan satu pemikiran, ada penolakan dari dalam diri disebabkan konsumsi teologi yang sudah diajarkan semenjak dari kecil menjadi penyakit enggan untuk berpikir.
Selalu ada ketakutkan bagi seorang pemikir adalah benarkah suatu pemikiran itu sehingga pelajaran mengenai agama harus ditinggalkan? Jawabannya relatif dan tergantung pada motivasi, kalau motivasinya untuk pengetahuan maka agama harus disingkirkan sejenak demi kemajuan pengetahuan sehingga para ilmuwan bebas merumuskan alam tanpa ada rasa segan terhadap agama.
Kita melihat secara sadar bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu dibanding pelajaran agama yang monoton membahas surga, pemikiran manusia sudah begitu cerdas sehingga ia tidak mau lagi di bodohi oleh pemuka agama. Seorang pemikir memiliki pegangan iman berupa rasio, nalar yang membunuh seluruh keyakinan teologi tanpa kompromi.
Agama membuat kita percaya dan yakin sehingga malas untuk belajar, sementara pengetahuan membuat kita semakin berkembang dengan terus mencari, kenyataannya kita belum siap secara total untuk menerima dalil tersebut. Tentu kita tak ingin mengalami sejarah yang begitu panjang lagi karena pilihan ada pada tangan kita sendiri yaitu bergerak atau berdiam diri pasrah menunggu nasib? Yang menakutkan sebenarnya adalah ketika kita menjalani saja tanpa ada ketakutan sehingga tak ada keraguan sama sekali untuk menghasilkan gagasan.
Orang yang tak memiliki keraguan maka ia akan mengambil jalan agama sebagai pegangan hidup, karena sudah terbiasa dengan rayuan surgawi oleh pemuka agama rasis maka memilih jalan aman saja sudah cukup, tanpa harus meribetkan.
Kita terlalu banyak diajarkan sopan santun dalam beragama sehingga tidak ada bara idealisme di dalam diri untuk melawan ketidakadilan, yang berujung pada banyak tanggapan untuk menyatakan terima saja kemiskinan ini sebab kita akan kaya di surga kelak. Nakal boleh, bodoh jangan sehingga tak mudah terjerumus pada penyesatan keimanan yang absurd.
Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima. Manusia berada di bumi sehingga ia harus optimal dalam bertindak untuk bumi, sementara urusan langit dan surga adalah bagian dari hal lain yang harus disingkirkan.
Berbeda dengan seorang astronom yang melihat langit untuk mencari planet lain dengan menggunakan teleskop hubble, atau berupaya menemukan jutaan galaksi dalam kesemestaan yang tak terhingga bahwa betapa luasnya semesta ini, motivasi para astronom tersebut adalah berupaya untuk menemukan tempat lain selain bumi dengan planet baru walau dengan beragam tantangan namun terus untuk dipikirkan solusinya.
Jalan yang kita tempuh kedepan adalah jalan yang mencari kejelasan material pada tubuh diantara beragam maraknya informasi. Bukan permasalahan dosa atau pahala melainkan kejelasan mengenai kecukupan makan dan lingkungan yang bersih agar terjaga kesegarannya, Investasi yang lebih mengutamakan uang tak bisa selamanya merusak lingkungan karena manusia 10 tahun kedepan tak bisa makan batu semen, itulah makanya dibutuhkan keseriusan pemikiran bukan lawak-lawak gak jelas dan OTT harus digencarkan kepada koruptor agar uang tak menumpuk tanpa kegunaan merata bagi rakyat kecil.
Itulah makanya mengapa penting dan sangat dianjurkan bagi kita untuk mengkritik agama tanpa ada niat untuk mengkafirkan. Sekali-kali memberi kritik kepada agama itu baik, dan Tuhan juga mengapresiasi segala kritik itu. Ia yang maha besar sangat terbuka kepada pemikiran dan maha pengasih, sementara kita yang bila dikritik sedikit saja langsung bringas caci maki fitnah cepat bertebaran di sosial media.
Karl Marx mengatakan Agama hanya Matahari ilusi yang berputar di sekitar manusia selama dia tidak berputar di sekitar dirinya. Pemikiran harus melampaui keimanan sehingga ia mampu berdiri sendiri tidak terjerumus pada arus rasisme, sebuah rasis yang menganggap bahwa agamaku paling benar sementara yang lain salah adalah keburukan dalam berdemokrasi.
Syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kebebasan adalah tahu mana yang berada dalam kontrolmu dan bukan, kata Epictetus filsuf Yunani kuno bahwa Kebahagiaan dan kebebasan dimulai dengan sebuah pemahaman yang jelas atas satu prinsip. Yaitu mana yang ada dalam kontrolmu dan mana yang bukan. Memahami dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana seharusnya, adalah awal dari kebijaksanaan.
Filsafat Cina Tao Teh Ching, dalam The Book of Change mengajarkan bahwa dia yang mengenal orang lain adalah seorang bijak. Dia yang mengenal dirinya sendiri adalah orang yang tercerahkan. Dia yang menguasai orang lain memiliki kekuatan. Dia yang menguasai dirinya sendiri memiliki kekuasaan. Dan menguasai diri sendiri membuat kita terus seimbang.
Maka ntuk menikmati kehidupan yang baik, untuk memberikan kebahagian yang nyata di dalam keluarga, untuk membawa damai, pertama-tama seseorang harus disiplin dan mengendalikan pikiran mereka sendiri. Jika seseorang bisa mengendalikan pemikirannya dia bisa menemukan jalan keselamatan, dan semua kebijaksanaan dan kebaikan akan datang sendirinya kepada kita.
Harian Analisa, 02 Mei 2019.