Intoleransi Membunuh Keberagaman Massa
AKAR dari pemacu kebencian dan maraknya menyuarakan kata-kata kasar yang menimbulkan kegaduhan di media sosial yang asal tuduh tebar fitnah dan keburukan adalah bermula dari keengganan seseorang untuk mempelajari hal-hal baru baik di ranah filsafat, sosiologi dan prinsip kebebasan sehingga menyebabkan seseorang itu mudah dihasut. Yang terjadi adalah suatu kaum berkumpul untuk menyatukan pendapat dengan membawa-bawa agama, menari-nari diatas politik identitas seakan paling benar dengan membawa ayat-ayat peperangan. Terlalu banyak dalil ego namun miskin secara ide, tak ada pembaharuan dan hilangnya kreativitas untuk membentuk kesatuan tanpa permusuhan. Kita ingin hidup dalam keberagaman, namun intoleransi terus menjangkit dimana-mana, dimana ada tempat tongkrongan disitu banyak komburmalotup. Ada baiknya seseorang itu sedikit dalam berucap namun banyak dalam pertimbangan sehingga yang keluar dari ucapannya bukan sekedar bongak Wak labu, melainkan analisis yang panjang.
Kita selalu terbatasi dengan yang namanya kata “suci”, kata suci itu sendiri sebenarnya menimbulkan hirarki di dalam pemikiran yang luas, sebab kata itu menimbulkan keengganan dalam berbaur pada perspektif baru. Banyak kita lihat orang yang merasa suci akan merasa terhina bila berbaur dengan masyarakat kelas bawah, ada yang merasa kesuciannya akan terhina bila bersentuhan dengan lawan jenis. Kesucian itu perlu dipertanyakan, bahkan diragukan secara serius agar tidak menimbulkan sikap asal menjatuhkan. Berbeda dengan mereka yang berharap ridho dan Rahmat dari Tuhan, mereka yang merasa haus untuk berbuat sebaik mungkin tanpa harus diperlihatkan dimuka umum, mereka yang tidak mengumbarkan kebenaran yang ditegakkan akan merasa kekurangan dan tidak mudah meninggi bila melakukan perbuatan yang menguntungkan banyak orang. Disinilah kiranya baik menjadi tidak merasa paling suci, dan giat untuk melakukan kebaikan tanpa berharap pujaan agar dikira paling alim sedunia.
Pertanyaan yang kiranya penting untuk memperluas pemahaman kemanusiaan itu sendiri ialah bermula dari apa pentingnya filsafat. Mengapa harus berfilsafat ? Mengapa harus capek-capek menghabiskan waktu memikirkan sesuatu yang tak ada hasilnya, menurut yang awam atau bagi mereka yang frustasi akibat jenuhnya situasi. Mengapa begitu banyak pertanyaan eksistensial yang harus dipecahkan diantara beragam solusi yang telah ditemukan ? Haruskah kita memberi penuh potensi yang dimiliki kepada agama dan membiarkan segalanya diatur oleh takdir ? Hendaklah kita terbuka dalam berpikir daripada besar ego karena mudah tersinggung akan agama. Tuhan tidak perlu dibela karena yang layak diperjuangkan adalah kemanusiaan itu sendiri. Karena apabila kita mudah tersinggung maka selesailah segala urusan dalam arti tak ada lagi yang harus dikejar. Akan timbul persepsi untuk apa belajar lebih baik rajin ibadah numpuk pahala. Tersinggung karena ayat maupun agama bisa menjadi kegaduhan massal, agama yang mayoritas akan menjadi virus bagi minoritas. CarlSagan memegang prinsip filosofis yang sangat kuat, ia mengatakan bahwa “aku tak ingin percaya, aku hanya ingin tahu” dari prinsip tersebut kita bisa memaknai bahwa meragukan sesuatu demi menghasilkan pemahaman yang baru lebih baik daripada menetap pada satu iman yang tak pasti ujung pangkalnya. Walau KTP mengatakan anda terlahir beragama tetapi waktu memberi kebebasan pada manusia untuk berpikir menempatkan diri apakah seseorang terus-terusan berharap atau mencoba tanpa pernah berhenti berjuang ?
Menurut Xenophanes,filsuf Yunani kuno mengatakan “Kalau seandainya sapi, kuda dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentunya kuda akan menggambarkan Tuhan-Tuhannya menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan Tuhannya menyerupai sapi dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada Tuhan-Tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri”.
Sebagaimana Marx yang mengatakan bahwa Agama tidak hanya bisa menjadi candu melainkan juga bisa menjadi micin bagi mereka yang tidak kuasa memikirkan argumentasi agama tersebut, kita berbicara dalam wilayah bukan keyakinan, karena keyakinan tempatnya di rumah ibadah masing-masing. Dan ini bukanlah suatu penyudutan untuk membenci keyakinan melainkan upaya untuk mengaktifkan akal sehat tanpa tergantung oleh keyakinan religius. Seseorang bebas meninggalkan keyakinannya tanpa menyebutkan di depan publik, dan seseorang diwajibkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa memuja-muja ketidakjelasan.
Jika seseorang malas untuk berpikir maka ia acuh terhadap yang namanya kebebasan berpikir, dan jika seseorang marah hanya karena tersinggung terhadap sentimen agama maka tidak ada yang namanya kebebasan itu sendiri.
Semua yang kita butuhkan saat ini adalah kemauan untuk berpikir luas, secara pengetahuan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara-negara maju. Kita sangat tertinggal jauh dan filsafat sangat dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Kecemasan terhadap neraka bukanlah ketakutan yang sesungguhnya melainkan kecemasan untuk tergerak tidak banyak membaca adalah kedunguan yang berefek massal. Kita harus banyak berpikir bukan banyak berdoa, karena doa takkan terujud kalau tak ada pergerakan dari proses pemikiran itu sendiri.
Sering kita mendengar bahwa begitu keadaan memburuk dan janji-janji ekonomi real tidak terpenuhi, maka datang janji ekonomi surga. Yang rasa-rasanya membuat kita sebagai masyarakat geram dengan tokoh politik yang membawa-bawa agama dalam pemilihan namun ketika ia terpilih tak ada satupun janji ekonomi real yang bisa terpenuhi. Semua habis digiling dikorupsi habis-habisan demi terciptanya dinasti politik berbasis agama. Jadi ada baiknya para politikus itu jika berpidato tidak menggunakan ayat-ayat suci dan tidak seenaknya membawa beragam tafsir tanpa pertimbangan pemikiran yang tajam sebab ini berujung pada nasib orang banyak.
Yang terjadi saat ini bila kita menyaksikan berita di televisi yang menjadi patokan adalah para pemimpin parpol bertemu pemuka agama yang saya kira sangat ambisius dalam merebut simpati rakyat. Para pimpinan parpol seharusnya membuka diri terhadap akademisi, pelajar dan pengamat bukan mencari solusi kepada pemuka agama sehingga tidak semua permasalahan yang terjadi saat ini dipermasalahkan oleh kehendak yang diatas. Sebab kerusakan dimuka bumi disebabkan oleh manusia itu sendiri.
Ceramah-ceramah radikal yang menghasut umat untuk mencaci maki kafir di rumah ibadah sangat patut diawasi, belum lagi ceramah yang berjudul damai Indonesiaku yang dari judul santun namun isi ceramah penuh kebencian. Kiranya penting untuk setiap rumah ibadah ada pengawas dan memperhatikan khotbah-khotbah yang bertujuan memecah belah, banyak yang ingin beribadah di rumah ibadah untuk mencari ketenangan dan kedamaian, begitu sampai di tempat malah dihasut dengan keyakinan serta kebencian. Pendeknya akal dan hilangnya akal sehat cenderung menyebabkan seseorang mudah dihasut dan membenci.***
Esai ini pertama kali dimuat Koran Harian Analisa, Pada Hari Jumat 3 Agustus 2018.