Abdi Mulia Lubis
4 min readAug 3, 2018

Intoleransi Membunuh Keberagaman Massa

AKAR dari pemacu kebencian dan ma­raknya menyuara­kan kata-kata kasar yang menimbulkan kegaduhan di media sosial yang asal tuduh tebar fitnah dan kebu­ru­kan adalah bermula dari keeng­ga­nan seseorang untuk mem­pe­lajari hal-hal baru baik di ranah fil­sa­fat, sosiologi dan prinsip kebebasan se­hingga menyebabkan seseorang itu mu­dah dihasut. Yang terjadi adalah suatu kaum berkumpul untuk menyatukan pen­da­pat dengan membawa-bawa aga­ma, me­nari-nari diatas politik identitas seakan paling benar dengan membawa ayat-ayat pe­perangan. Terlalu banyak dalil ego na­mun mis­kin secara ide, tak ada pem­ba­haruan dan hilangnya kreativitas untuk mem­bentuk kesatuan tanpa permusuhan. Kita ingin hidup dalam keberagaman, namun intoleransi terus menjangkit dimana-mana, dimana ada tempat tong­krongan disitu banyak komburmalotup. Ada baiknya seseorang itu sedikit dalam berucap namun banyak dalam pertimba­ngan sehingga yang keluar dari ucapan­nya bukan sekedar bo­ngak Wak labu, melainkan analisis yang panjang.

Kita selalu terbatasi dengan yang na­ma­nya kata “suci”, kata suci itu sendiri se­benarnya menimbulkan hirarki di da­lam pemikiran yang luas, sebab kata itu menimbulkan keengganan dalam berbaur pada perspektif baru. Banyak kita lihat orang yang merasa suci akan merasa terhina bila berbaur dengan masyarakat ke­las bawah, ada yang merasa kesu­cian­nya akan terhina bila bersentuhan dengan la­wan jenis. Kesucian itu perlu diper­ta­nya­kan, bahkan diragukan secara serius agar tidak menimbulkan sikap asal men­ja­tuhkan. Berbeda dengan mereka yang berharap ridho dan Rahmat dari Tuhan, mereka yang merasa haus untuk berbuat sebaik mungkin tanpa harus diperlihatkan dimuka umum, mereka yang tidak mengumbarkan kebenaran yang ditegak­kan akan merasa kekurangan dan tidak mudah meninggi bila melakukan perbuat­an yang menguntungkan banyak orang. Di­sinilah kiranya baik menjadi tidak me­rasa paling suci, dan giat untuk me­la­ku­kan kebaikan tanpa berharap pujaan agar dikira paling alim sedunia.

Pertanyaan yang kiranya penting untuk memperluas pemahaman kemanu­sia­an itu sendiri ialah bermula dari apa pen­tingnya filsafat. Mengapa harus ber­filsafat ? Mengapa harus capek-capek meng­­habiskan waktu memikirkan se­suatu yang tak ada hasilnya, menurut yang awam atau bagi mereka yang frus­tasi akibat jenuhnya situasi. Mengapa be­gitu banyak pertanyaan eksistensial yang harus dipecahkan diantara beragam so­lusi yang telah ditemukan ? Haruskah kita mem­beri penuh potensi yang dimiliki kepada agama dan mem­biarkan segala­nya diatur oleh takdir ? Hendaklah kita ter­buka dalam berpikir daripada besar ego karena mudah tersinggung akan aga­ma. Tuhan tidak perlu dibela karena yang layak diperjuangkan adalah kemanusiaan itu sendiri. Karena apabila kita mudah ter­­singgung maka selesailah segala urus­an dalam arti tak ada lagi yang harus di­kejar. Akan tim­bul persepsi untuk apa be­lajar lebih baik rajin ibadah numpuk pa­hala. Tersinggung karena ayat maupun agama bisa menjadi kegaduhan massal, agama yang mayoritas akan menjadi virus bagi minoritas. CarlSagan memegang prin­sip filosofis yang sangat kuat, ia me­nga­takan bahwa “aku tak ingin percaya, aku hanya ingin tahu” dari prinsip tersebut kita bisa memaknai bahwa meragukan sesuatu demi menghasilkan pemahaman yang baru lebih baik dari­pada menetap pada satu iman yang tak pasti ujung pang­­kalnya. Walau KTP mengatakan anda terlahir beragama tetapi waktu mem­beri kebebasan pada manusia untuk ber­pi­kir menempatkan diri apakah se­se­orang terus-terusan ber­harap atau men­coba tanpa pernah berhenti berjuang ?

Menurut Xenophanes,filsuf Yunani kuno mengatakan “Kalau seandainya sapi, kuda dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentunya kuda akan menggambarkan Tuhan-Tuhannya menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan Tuhannya menye­ru­­pai sapi dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada Tuhan-Tuhan seperti terdapat pada me­reka sendiri”.

Sebagaimana Marx yang mengatakan bah­wa Agama tidak hanya bisa menjadi can­du melainkan juga bisa menjadi micin bagi mereka yang tidak kuasa memikir­kan argumentasi agama tersebut, kita berbicara dalam wilayah bukan keyakin­an, karena keyakinan tempatnya di rumah iba­dah masing-masing. Dan ini bukanlah suatu penyudutan untuk membenci ke­yakinan melainkan upaya untuk meng­ak­tifkan akal sehat tanpa tergantung oleh ke­yakinan religius. Sese­orang bebas me­ninggalkan keyakinannya tanpa menye­butkan di depan publik, dan seseorang diwajibkan untuk mencerdaskan kehi­dup­an bangsa tanpa memuja-muja keti­dakjelasan.

Jika seseorang malas untuk berpikir maka ia acuh terhadap yang namanya ke­bebasan berpikir, dan jika seseorang marah hanya karena tersinggung terhadap sentimen agama maka tidak ada yang namanya kebebasan itu sendiri.

Semua yang kita butuhkan saat ini adalah kemauan untuk berpikir luas, secara pengetahuan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara-negara maju. Kita sangat tertinggal jauh dan filsafat sangat dibutuhkan untuk mengejar keter­tinggalan tersebut.

Kecemasan terhadap neraka bukanlah ketakutan yang sesungguhnya melainkan kecemasan untuk tergerak tidak banyak mem­baca adalah kedunguan yang ber­efek massal. Kita harus banyak berpikir bu­kan banyak berdoa, karena doa takkan terujud kalau tak ada pergerakan dari proses pemikiran itu sendiri.

Sering kita mendengar bahwa begitu ke­adaan memburuk dan janji-janji eko­nomi real tidak terpenuhi, maka datang janji ekonomi surga. Yang rasa-rasanya membuat kita seba­gai masyarakat geram dengan tokoh politik yang membawa-bawa agama dalam pemilihan namun ke­tika ia terpilih tak ada satupun janji eko­nomi real yang bisa terpenuhi. Semua ha­bis digiling dikorupsi habis-habisan demi terciptanya dinasti politik berbasis aga­ma. Jadi ada baiknya para politikus itu jika berpidato tidak menggunakan ayat-ayat suci dan tidak seenaknya mem­bawa beragam tafsir tanpa pertim­bangan pemikiran yang tajam sebab ini berujung pada nasib orang banyak.

Yang terjadi saat ini bila kita menyak­si­kan berita di televisi yang menjadi pa­tokan adalah para pemimpin parpol ber­temu pemuka agama yang saya kira sa­ngat ambisius dalam merebut simpati rak­yat. Para pimpinan parpol seha­rusnya mem­buka diri terhadap akademisi, pelajar dan peng­amat bukan mencari solusi ke­pada pemuka agama sehingga tidak se­mua permasalahan yang terjadi saat ini di­­perma­salahkan oleh kehendak yang di­atas. Sebab kerusakan dimuka bumi di­se­babkan oleh manusia itu sendiri.

Ceramah-ceramah radikal yang meng­hasut umat untuk mencaci maki kafir di rumah ibadah sangat patut diawasi, belum lagi ceramah yang berjudul damai In­do­ne­siaku yang dari judul santun namun isi ceramah penuh kebencian. Kiranya pen­ting untuk setiap rumah ibadah ada pe­nga­was dan memperhatikan khotbah-khot­bah yang bertujuan memecah belah, banyak yang ingin beribadah di rumah iba­dah untuk mencari ketenangan dan ke­damaian, begitu sampai di tempat ma­lah dihasut dengan keyakinan serta ke­ben­cian. Pendeknya akal dan hilangnya akal sehat cenderung menyebabkan se­se­orang mudah dihasut dan mem­benci.***

Esai ini pertama kali dimuat Koran Harian Analisa, Pada Hari Jumat 3 Agustus 2018.

No responses yet