Member-only story
Kampus Besar Rasa Istana
Kita ini sebenarnya sudah mati, dalam arti tidak bisa mengkritik satu kebijakan apapun, lalu menyerahkan segala urusan yang tidak bisa diurus kepada pemerintah sebagai jalan terakhir yang menunjukkan bahwa kritik itu sudah tidak ada gunanya lagi dan justru akan menimbulkan malapetaka bagi mereka yang masih mempertahankan idealisme dalam mengkritik satu kebijakan yang menyengsarakan banyak masyarakat. Bila terdengar sebutan sesuatu dari pemegang kekuasaan disana yang berkata hoax ya hoax, maka para akademisi telah tumpul dengan kata lain mengalami kebuntuan total untuk bersuara secaralantang karena ketakutan akan posisi jabatan yang ia emban bisa saja dilengserkan atau dicampakkan, dan lantaran sudah bingung karuan bila sudah gak ada kerja dan nyari kerja pun sudah susah, maka lebih baik mengantisipasi daripada menimbulkan, diam sajalah seraya memuji segala pencitraan yang isinya sampah tong kosong semua.
Lalu kita harus berbuat apa? Ketika mengkritik sudah tidak bisa, seluruh kampus berisi anjuran untuk jangan demo, Rektor, Dekan, Dosen sampai Civitas Akademika tidak tahu lagi mau buat apa dan tida bisa berbuat di luar aturan? para Peneliti seluruh pusat studi semuanya acuh dan sibuk mencari dana hibah untuk kebutuhan kantongnya, maka masyarakat sudah tidak memiliki pegangan nalar kritis dan yang disaksikan sekedar televisi yang isinya kita tahu settingan semua demi rating.