Abdi Mulia Lubis
3 min readSep 29, 2019

Konspirasi Intelijen

Harian Analisa, Sabtu, 21 September 2019.

Apa yang terjadi di Papua serta marak­nya kerusuhan lainnya adalah suatu bentuk dari permainan strategi dari negara lain yang mencoba untuk melepaskan Papua dari Indonesia dengan iming-iming Papua Merdeka, karena ada begitu banyak kekayaan alam yang melimpah di Papua yang be­lum diekspos ke publik maka bagaimanapun caranya Papua harus di­rebut dari Indonesia dengan tawa­ran Kemerdekaan. Kita tahu siapa yang bermain dan siapa yang memiliki kekuatan untuk merebut Papua dan ini adalah bias dari lemahnya dan kurangnya kemajuan teknologi yang kita miliki saat ini.

Dari maraknya kelemahan itu ter­lihat kita sebenarnya sudah mati kutu dalam arti kecanggihan tekno­logi baik itu senjata maupun kontrol langit Indonesia sudah kalah telak diban­ding­kan dengan Singapura dan Aus­tralia. Kita dikepung oleh dua Negara tersebut, hanya saja kehan­cu­ran yang dihadapi tidak secepatnya di­musnah­kan di negara ini karena harus ada tahap dan proses menuju ke­binasaan ter­sebut. Kita tentu boleh ber­sikap op­timis, namun optimis itu haruslah di­barengi dengan kekuatan dan keta­hanan yang benar-benar bisa se­im­bang untuk mencegah serangan in­telijen dari negara super kuat saat ini.

Jika Singapura dan Australia su­dah mampu mengepung dalam arti ne­gara kita dalam cengkeraman me­nuju perpecahan satu persatu pulau yang akan merdeka bisa seperti Papua, Lalu Natuna, Bali, dan lainnya maka kita harus memiliki kerja sama yang kuat di bidang teknologi dan Is­rael adalah salah satu kunci ter­baik­nya dalam kerja sama tersebut dan tentunya kita harus membuka diri jangan tidak secara sembunyi lagi berdamai.

Sebagai penulis mungkin saya berusaha banyak diam di sosial media tetapi tetap berpikir penuh semak­simal mungkin di dalam kesunyian se­belum menuliskan apa yang men­jadi masalah serta solusi yang terjadi dari suatu kerusuhan di negeri. Kita terjebak dari banyaknya keangkuhan merasa paling suci sehingga segala sesuatu yang disalahkan paling awal adalah kata kafir dan laknat

Dan itu menunjukkan bahwa le­mahnya Indonesia saat ini adalah d­i­sebab­kan dari kurangnya kerja sama penuh dari Rusia dalam pasokan sen­jata. Lihatlah kasih sayang Rusia kepada Iran dan Rusia yang mem­beri­­kan senjata sebagai pertahanan ne­gara. Sementara kita tidak me­miliki dukungan yang cepat untuk Pa­pua sehingga ada beberapa negara yang diam-diam mendukung referen­dum Papua tetapi di depan Indonesia mendukung Papua milik Indonesia.

Secara garis besar dalam hal tek­nologi kita harus kerja sama dengan Israel, mengenai senjata kita kerja sama dengan Rusia. Perihal dagang kita bekerja sama penuh dengan Tiongkok sehingga kita bisa menem­patkan tupoksi yang selaras penuh kemajuan, di saat akan datang dan krisis serta ketimpangan bisa teratasi bila melakukan strategi tersebut.

Kita bisa belajar satu contoh yang viral di Timteng saat ini yaitu Agen Mossad dalam melakukan operasi di Timur Tengah. Besar kemungkinan adanya kibus pembocor rahasia yaitu pengungkapan penyamaran dari negara beruang yang memiliki tek­nologi canggih dalam mem­bongkar rahasia sehingga banyak agen yang bernegara ganda di Timur Tengah terbongkar rahasianya.

Salah satu media berita di Inggris yang selalu menyelematkan nara­sum­ber dari cengkeraman upaya pem­bunuhan dan konspirasi adalah media The Guardian. Kita tahu Snow­den dan masalah mengenai Cam­bri­d­ge Analityca yaitu sumbernya diselamatkan oleh media The Guar­dian yang selalu independen dalam menyelematkan informannya dalam membuka kedok kebusukan.

Kalau kita buat asumsi bahwa jika seluruh prajurit yang terbaik di seluruh Indonesia ini dikumpulkan ke Papua, dan kemungkinan besarnya prajurit itu banyak yang gagal serta gu­gur lalu siapakah yang bisa mem­pertahankan kedaulatan negara ini dari serangan musuh? Yang menjadi masalah adalah prajurit terbaik harus ada di Papua dan dikirim prajurit terbaik di seluruh Indonesia ke Papua.

Buka Pendaftaran

Salah satu solusi terbaiknya adalah TNI harus membuka banyak pendaf­taran bagi anggota TNI di seluruh In­donesia dengan agenda mengu­rangi jumlah pengangguran dan me­ngurangi banyaknya prajurit terbaik yang kita takutkan akan gugur di Pa­pua sehingga tidak ada prajurit yang menjaga di perbatasan. Dan ini pen­ting dalam arti kebijakan negara ini tidak diatur oleh mafia di balik layar yang hanya mengejar kepen­tingan ekonomi semata. Ini memang per­soalan yang sangat berat dan bukan berarti siapapun tidak boleh mem­berikan opininya karena kebe­basan berekspresi itu harus tetap ada.

Siapapun kita, dan bila kita tidak mudah terjebak dari jebakan dunia vi­ral dan mampu dalam upaya me­ngen­dalikan diri untuk tidak mudah terpengaruh oleh apapun yang menjadi kehebohan viral disosial media dan televisi maka sudah pasti ada modal jati diri pemikiran dan pemahaman tentang gejolak apa yang terjadi bukan hanya di Negara ini melainkan di seluruh dunia.

Pentingnya kita untuk mengen­da­likan diri untuk tidak terburu-buru dalam membagikan berita dan tidak ge­gabah menuliskan sesuatu di Fa­ce­book adalah kuatnya daya pikir kita dalam membaca problem yang terjadi saat ini, jangan ada yang viral lalu langsung ikut-ikutan.

Harian Analisa, Sabtu, 21 September 2019.

No responses yet