Koran Kami Inspirasi Bangsa
Novel koran kami adalah suatu upaya untuk menguatkan rasionalitas dalam membenturkan keyakinan modern dengan pemikiran masa lalu. Yang dulu membumi yang sekarang melangit. Orang-orang zaman now telah kehabisan harapan dan seakan tumpul pemikiran dengan adanya gadget. Gadget seakan sudah menjadi Tuhan zaman now, begitu fakultas filsafat Unparmengkondisikan zaman kini dengan mengadakan seminar filsafat.
Yang kita takutkan dengan semakin meluasnya candu pada sesuatu yang virtual seperti media digital pada gawai, para penerus bangsa yang akan datang akan semakin kacau tak memiliki ideologi. Lupa pada apa yang wajib dan sibuk dengan apa yang tak baik, lebih banyak melampiaskan kepada harapan bukan kepada pemikiran yang pada akhirnya pikiran serta hati mudah dijerumuskan dari mereka yang ingin merusak dengan menuhankan agama.
Bayangkan besarnya radiasi yang ditimbulkan dari media digital, media digital memang disatukan sisi memberi kegunaan berupa kecepatan mengakses berita tanpa batas, namun kecepatan itu menimbulkan efek negatif yang besar. Tubuh bisa melemah, kesehatan menurun dan daya tahan mata dalam membaca bisa menjadi rabun. Kalau kebiasaan dengan terus-terusan serba digital maka fisik akan semakin cepat menurun kekuatannya.
Informasi seperti udara. Seperti udara pula ia kemudian tak mengenal gravitasi, tak lagi membumi. Karena kenyataan sebenarnya berada di alam.
Setiap manusia memiliki pegangan hidup berupa inspirasi, sesuatu yang menjadikan perjalanan menjadi berarti, tanpa pegangan manusia akan linglung, resah dan tak tahu mau kemana dan terjebak pada arus globalisasi. Maka manusia membutuhkan pegangan yaitu koran. Inikah Senjakala Kami menjadi awal dari segalanya yang membuat saya mengagumi sosok beliau. Banyak yang sudah mengenal beliau dan pisau analisisnya memang tajam. saya sangat mengagumi Bre Redana, ia mampu membaca masa kini menghubungkan masa lalu dan mengaitkannya ke masa depan, sesuatu yang tak mampu dipikirkan oleh orang pada umumnya. Dalam usianya yang ke 60, umur bukan menjadi penghalang, ini yang harusnya menjadi panutan bahwa bukan usia yang menentukan kegairahan berkarya melainkan semangat untuk terus berkarya. Jika sudah merasa pasrah maka penyakit perlahan menghampiri.Bre Redana selama 35 tahun berkarir sebagai wartawan Harian Kompas. Dalam karier sebagai wartawan banyak menulis hal-hal yang berkaitan dengan seni, kebudayaan, gaya hidup. Menulis beberapa buku, terdiri atas refleksinya mengenai kebudayaan, kumpulan cerita pendek, dan novel.
Masyarakat kurang sehat lebih akrab dengan jarum suntik ketimbang alat tulis yang selama ribuan tahun membawa manusia menuju peradaban. (hlm 17) Sejarah bukan sekadar kronologi kejadian, melainkan kronologi kesadaran. Kronologi kesadaran jauh lebih utama dibanding urut-urutan kejadian menyangkut tanggal, tahun, peristiwa, dan lain sebagainya. Kronologi kejadian mudah diutak-atik, kalau perlu dikarang-karang.
Hidup tak melulu terselenggara atas aturan. Ada yang namanya ketidakteraturan alias chaos-orderedchaos- agar dicapai keseimbangan. (hlm 36) Tokoh Nindityo percaya pada kekuatan sesuatu hal yang bersifat main-main. Karena bersifat main-main, beban berkurang, bahkan hilang. Usaha yang berhasil adalah usaha yang dilakukan tanpa keberatan menanggung beban.
Bahasa bukan satu-satunya cara untuk berkomunikasi dan untuk dekat dengan orang. Ada misteri lain dalam komunikasi antarmanusia yang mampu mendekatkan satu orang dengan orang lainnya. Intinya: jangan sok tahu. (hlm 53)
Dongeng, cerita, merupakan bagian tak terpisahkan dari proses evolusi manusia menuju peradaban. Sejak zaman Neolithic atau bahkan Paleolithic, Neanderthal mendengarkan dongeng. (hlm 78) Humanisme transendental yaitu kemanusiaan yang mentransfer semaikan keyakinan tertentu, melihat sesuatu dengan pertimbangan utama manusia, tidak peduli manusia itu siapa, apa jelas sosialnya, apa Suju bangsanya, apa agamanya, apa ideologinya, dan lain-lain.
Santosa Santana atau disapa SS dalam novel koran kami, ia diajak sahabatnya untuk membikin sebuah koran pada saat industri koran mulai terdesak oleh media digital. Ia mengumpulkan teman-teman lama, berspekulasi membikin koran dengan cakrawala bahwa media cetak sesuatu yang nyata bisa dipegang, tetap memiliki kemungkinan hidup di tengah pergeseran kepercayaan orang terhadap sesuatu yang bersifat virtual di mana yang nyata dan tidak nyata kabur batasnya. Proses kerja membikin koran mengembalikan mereka ke sebuah dunia yang pernah mereka geluti berikut nilai-nilainya dari zaman yang telah berlalu cukup lama. Sebuah zaman di mana hidup seolah cukup hanya dengan cinta.
Mencintai apa yang dikerjakannya, tetapi nyatanya dunia tak cukup bisa hidup hanya dengan cinta. (hlm 150).
Peresensi: Abdi Mulia Lubis
Judul : Koran Kami, With Lucy in The Sky
Penulis : Bre Redana
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Cetakan Pertama, 20 November 2017
Tebal : 200 halaman
ISBN : 978-602-424-708-9