Membaca Esai Goenawan Mohamad
Membaca Kumpulan Esai Goenawan Mohamad adalah suatu kebahagiaan, berkah dan suatu kesempatan yang sangat berharga selama hidup. Semoga tidak berlebihan karena apa yang saya tulis disini adalah kejujuran yang seadanya tanpa melebih-lebihkan dengan maksud tertentu. Ini adalah kesempatan berharga, dan perjuangan misi yang benar-benar besar bagi diri saya yaitu menguasai gaya penulisan seperti beliau. Saya harus mengurung diri berhari-hari untuk membaca dan menabung berbulan-bulan untuk membeli buku yang ia tulis. Tahan selera makan yang enak-enak agar bisa membeli buku, putar otak kesana-kemari cari pinjaman agar bisa membeli buku yang ia tulis.
Begitu banyak pertimbangan dalam hidup dan begitu banyak pemikiran yang tak bisa dihitung sudah berapa cabang, kadang mikir kesana kadang mikir kemari, tak tontu yang pastinya semua itu berada dalam konsisten, menetap pada satu tujuan dan jangan pernah menoleh untuk mengejar yang lain. Ini yang masih saya pelajari dan saya akui saya masih labil dalam menetapkan bagaimana nasib saya kedepan. Apakah konsisten untuk menjadi penulis atau menyerah kepada nasib yang tak bisa terkendali, dan nasib kata Chairil Anwar adalah kesunyian masing-masing. Saya gak tahu dan pastinya saya harus siap menerima takdir pahit yang sebenarnya tak bisa saya hindari dan saya harus menerima kepedihan itu dengan lapang dada, lapang dada artinya memendam penderitaan itu tanpa mengeluarkan air mata yang sudah tertahan begitu lama. Mungkin disini saya terlalu banyak curhat atau tak tahu mau mengutarakan kemana, karena sudah lama air mata tak keluar dan penderitaan batin tak seharusnya diungkapkan, namun manusia butuh pelepas penat, teman untuk mendengar tapi saya memilih sunyi yang membuat saya jarang menangis walau banyak penderitaan batin yang kini saya hadapi. Sejujurnya adalah inspirasi tak pernah bisa didapat dengan mudah, kalaupun ada seseorang yang bisa berkarya lepas tanpa pertimbangan yang jauh itu adalah suatu keajaiban. Dan Tuhan sang maha pencipta saya rasa tidak sembarangan dalam mewahyukan gagasan kedalam pikiran. Seseorang mesti berjuang, berjuang, berjuang, berjuang, soal mati muda dan gagal biarlah sejarah yang menjadi saksi.
Pertanyaannya adalah bagaimana saya bisa tenang dengan keadaan ini ? Bagaimana saya bisa bertahan walau banyak tekanan pertanyaan yang datang silih berganti tanpa bisa saya menghentikan pertanyaan itu muncul. Salah satu pemenangnya adalah membaca esai Goenawan Mohamad. Membaca Esai Goenawan Mohamad bagaikan menatap pantai dikala senja, jernih dan cerah, segar dikarenakan gagasan yang begitu berbobot dan memiliki argumentasi yang cadas.
Kalaupun saya menghabiskan uang jutaan untuk membeli kumpulan buku yang pernah Goenawan Mohamad tulis, saya takkan menyesal, dan saya akan beruntung, walaupun saya belum pernah masuk surga dan mempertanyakan kenapa Nabi Adam memilih bumi untuk menambah banyak pengetahuan, saya akan memilih membaca esai Goenawan Mohamad sebagai surga bagi pemikiran saya sendiri.
Kesadaran adalah hal yang lebih berat dari filsafat, bagi saya kesadaran hadir disebabkan ada dua Musik dan Baca Buku, walaupun skill musik saya awam namun menikmati musik adalah gizi pendengaran yang wajib terpenuhi. Membaca apalagi, dan Membaca adalah upaya menenangkan kegelisahan akan keruwetan yang tak termaknai dengan pasti akhirnya.
Bila kata-kata yang saya tulis adalah kerumitan yang tak mudah untuk dimengerti, dipastikan bahwa pikiran saya juga sangat sulit untuk ditebak apa yang sebenarnya saya pikirkan. Dan Facebook selalu mempertanyakan hal tersebut, saya ingin menjawab dengan tulisan tapi saya merasa ragu dengan apa yang ingin saya tulis. Pertanyaannya adalah apakah semakin kacau pemikiran seseorang semakin sesat dan tak patut dipertimbangkan pikiran tersebut. Merasa paling sempurna dan paling suci adalah dosa yang paling besar bagi mereka yang tak ingin membanggakan kebaikan apa yang telah mereka perbuat, Metafisika Iqbal memang banyak berperan dalam menafsirkan kegelisahan tersebut. Dan Goenawan Mohamad berperan besar dalam menginspirasi tulisan-tulisan saya.
Saya merasa kekurangan akan membaca kumpulan esai yang ditulis Goenawan Mohamad, kekurangan yang saya maksud adalah kurang banyak membaca esai yang telah ia tulis, ketidakpuasan karena disebabkan candu buku yang begitu besar sehingga bila satu buku telah bicara, timbul keinginan untuk membaca dua buku secara berlebih, dan obatnya hanya satu yaitu perbanyak membaca buku. Walau banyak mendapat kecaman gila, saya rasa candu buku adalah kegilaan yang positif. Tak ada suatu penciptaan yang besar tanpa perjuangan yang maha besar, kalau kita ingin menghasilkan sesuatu tentu perjuangan juga tak bisa sedikit. Siap-siap kantong membengkak, nafsu ingin beli ini itu ditahan dan utamakan dulu beli buku, sakit memang namun dari rasa sakit inilah kelak apa yang ingin kita tuju bisa tercapai. Ada makna indah dari pengalaman, dan rasa sakit itu manis bila konsisten menetap pada satu tujuan. Kalaupun ada kekurangan maka kekurangan itu adalah kurang maksimal dalam memahami secara santai apa yang telah ia utarakan dalam buku-bukunya. Disatu sisi saya akui saya terlalu menggebu-gebu, ini dikarenakan gairah dan semangat yang luar biasa tak terjangkau untuk membaca tulisan beliau. Walau saya disini masih awam dan butuh pengalaman yang lebih untuk memetakan secara real rumusan esai yang ia tulis, saya memang angkat tangan, angkat tangan dalam arti saya akan berusaha untuk melampaui beliau. Karena disaat membaca esainya dan mendalami bacaannya, mengamati bagaimana ia menulis dengan sangat tenang membuat pikiran semakin terbuka. Ada kesempitan dalam memandang yang awalnya tidak dikenal namun ketika membaca esainya, perlahan kesadaran itu menumbuh. Kita boleh kehabisan paket data tapi tak boleh kehabisan suplai bacaan yang bermutu, dan membaca esai Goenawan Mohamad adalah kebutuhan intelektual yang tak bisa dilepas, sebab membaca adalah kunci, maka bacalah esai Goenawan Mohamad.
Harian Analisa 12 Maret 2019.