Abdi Mulia Lubis
4 min readMar 12, 2019

Membaca Esai Goenawan Mohamad

Membaca Kumpulan Esai Goe­na­­­wan Mohamad adalah suatu keba­ha­gia­an, berkah dan suatu kesempatan yang sangat berharga selama hidup. Se­moga tidak berlebihan karena apa yang saya tulis disini adalah kejujuran yang se­­adanya tanpa melebih-lebihkan de­ngan maksud tertentu. Ini adalah ke­sem­­­pa­tan berharga, dan perjuangan misi yang benar-benar besar bagi diri saya yaitu menguasai gaya penulisan seperti be­liau. Saya harus mengurung diri ber­hari-hari untuk membaca dan mena­bung berbulan-bulan untuk mem­beli buku yang ia tulis. Tahan selera makan yang enak-enak agar bisa mem­beli buku, putar otak kesana-kemari cari pin­ja­man agar bisa membeli bu­ku yang ia tulis.

Begitu banyak pertimbangan dalam hi­dup dan begitu ba­nyak pemikiran yang tak bisa dihitung sudah berapa ca­bang, ka­dang mikir kesana kadang mi­kir kemari, tak tontu yang pas­tinya se­mua itu berada dalam konsisten, mene­tap pada satu tu­juan dan jangan pernah menoleh untuk mengejar yang lain. Ini yang masih saya pelajari dan saya akui saya masih labil dalam me­netapkan bagaimana nasib saya ke­depan. Apakah konsisten untuk menja­di penulis atau menyerah kepada nasib yang tak bisa terkendali, dan nasib kata Chairil Anwar adalah kesunyian ma­sing-masing. Saya gak tahu dan pas­tinya saya harus siap menerima takdir pa­hit yang sebenarnya tak bisa saya hin­dari dan saya harus menerima kepe­dihan itu dengan lapang dada, lapang dada artinya memendam penderitaan itu tan­pa mengeluarkan air mata yang sudah tertahan begitu lama. Mungkin disini saya terlalu banyak curhat atau tak tahu mau mengutarakan kemana, karena sudah lama air mata tak keluar dan penderitaan batin tak seha­rus­nya diungkapkan, namun manusia butuh pelepas penat, teman untuk mendengar tapi saya memilih sunyi yang membuat saya jarang menangis walau banyak penderitaan batin yang kini saya ha­dapi. Seju­jurnya adalah ins­pirasi tak pernah bisa didapat dengan mu­dah, kalaupun ada seseorang yang bisa berkarya lepas tanpa pertim­bangan yang jauh itu adalah suatu keajaiban. Dan Tuhan sang maha pencipta saya rasa tidak sembarangan dalam mewah­yu­­kan gagasan kedalam pikiran. Se­seorang mesti berjuang, berjuang, ber­juang, berjuang, soal mati muda dan ga­gal biarlah sejarah yang menjadi saksi.

Pertanyaannya adalah bagaimana saya bisa tenang dengan keadaan ini ? Bagaimana saya bisa bertahan walau banyak tekan­an pertanyaan yang datang silih berganti tanpa bisa saya menghentikan pertanyaan itu muncul. Salah satu peme­nang­nya adalah mem­ba­ca esai Goenawan Mohamad. Mem­baca Esai Goenawan Mohamad bagai­kan menatap pantai dikala sen­ja, jernih dan cerah, segar dikarenakan gagasan yang begitu berbobot dan memiliki argumentasi yang cadas.

Kalaupun saya menghabiskan uang jutaan untuk membeli kumpulan buku yang pernah Goenawan Mohamad tulis, saya takkan menyesal, dan saya akan beruntung, walaupun saya belum pernah masuk surga dan memperta­nya­kan kenapa Nabi Adam memilih bumi untuk menambah banyak pengetahuan, saya akan memilih membaca esai Goe­nawan Mohamad sebagai surga bagi pemikiran saya sendiri.

Kesadaran adalah hal yang lebih be­rat dari filsafat, bagi sa­ya kesadaran ha­dir disebabkan ada dua Musik dan Baca Buku, walaupun skill musik saya awam na­mun menikmati mu­sik adalah gizi pen­dengaran yang wajib terpenuhi. Mem­­baca apalagi, dan Membaca ada­lah upaya menenangkan kege­lisahan akan keruwetan yang tak termaknai de­ngan pasti akhirnya.

Bila kata-kata yang saya tulis adalah kerumitan yang tak mu­dah untuk dimengerti, dipastikan bahwa pikiran saya juga sangat sulit untuk ditebak apa yang sebenarnya saya pikirkan. Dan Facebook selalu mempertanyakan hal tersebut, saya ingin menjawab dengan tulisan tapi saya merasa ragu dengan apa yang ingin saya tulis. Pertanyaan­nya adalah apakah semakin ka­cau pe­mi­kiran seseorang semakin sesat dan tak patut dipertimbangkan pikiran ter­sebut. Merasa paling sempurna dan pa­ling suci adalah dosa yang paling besar bagi mereka yang tak ingin mem­bang­gakan kebaikan apa yang telah mere­ka per­buat, Metafisika Iqbal memang banyak berperan dalam menafsirkan kegelisahan tersebut. Dan Goenawan Mo­hamad berperan besar dalam meng­inspirasi tulisan-tulisan saya.

Saya merasa kekurangan akan membaca kumpulan esai yang ditulis Goenawan Mohamad, kekurangan yang saya mak­sud adalah kurang banyak membaca esai yang telah ia tulis, ketidakpuasan karena disebabkan candu buku yang begitu besar sehingga bila satu buku telah bicara, timbul keinginan untuk membaca dua buku secara berlebih, dan obatnya hanya satu yaitu perbanyak membaca buku. Walau banyak mendapat kecaman gila, saya rasa candu buku adalah kegilaan yang posi­tif. Tak ada suatu penciptaan yang besar tanpa perjuangan yang maha besar, kalau kita ingin menghasilkan sesuatu tentu per­juangan juga tak bisa se­dikit. Siap-siap kantong membeng­kak, nafsu ingin beli ini itu ditahan dan uta­makan dulu beli buku, sakit me­mang namun dari rasa sakit inilah kelak apa yang ingin kita tuju bisa tercapai. Ada makna indah dari pengalaman, dan rasa sakit itu manis bila konsisten me­ne­tap pada satu tujuan. Kalaupun ada ke­kurangan maka kekurangan itu ada­lah kurang maksimal dalam mema­hami secara santai apa yang telah ia utarakan dalam buku-bukunya. Disatu sisi saya akui saya terlalu menggebu-gebu, ini dikarenakan gairah dan semangat yang luar biasa tak terjang­kau untuk mem­baca tulisan beliau. Wa­lau saya disini masih awam dan butuh pe­nga­la­man yang lebih untuk meme­ta­kan secara real rumusan esai yang ia tu­lis, saya memang angkat tangan, ang­kat tangan da­lam arti saya akan ber­usaha untuk me­lampaui beliau. Karena di­­saat mem­baca esainya dan menda­lami ba­ca­annya, meng­amati bagaimana ia me­nu­lis dengan sangat tenang mem­buat pi­kiran semakin terbuka. Ada kesem­pitan dalam memandang yang awalnya tidak dikenal namun ketika membaca esai­nya, perlahan kesadaran itu menum­buh. Kita boleh kehabisan paket data tapi tak boleh kehabisan suplai bacaan yang bermutu, dan membaca esai Goenawan Mohamad adalah kebutuh­an inte­lektual yang tak bisa dilepas, se­bab membaca adalah kunci, maka ba­calah esai Goenawan Mohamad.

Harian Analisa 12 Maret 2019.

Responses (1)