Mengenal Alam, Mengenal Tuhan
SALAH satu ibadah yang paling mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan liburan wisata alam. Saya tak ingin cepat-cepat mengambil keputusan seperti itu sebelum benar-benar telah melaluinya dengan kesadaran indrawi sebagai manusia.
Kita hidup di dunia untuk mencari dan terus mencari, melihat dan mengenal secara keseluruhan. Bagaimanapun hanya pengalaman sejati yang memberikan pelajaran berarti untuk mengenal diri sendiri secara utuh melalui indahnya alam. Caranya mengenal lebih dekat wilayah di sekitar kita, yakni menikmati secara langsung nikmatnya kesegaran, hijaunya perbukitan dan birunya lautan yang membentang luas.
Inspirasi akan hadir beserta ide-ide cemerlang dari kesederhanaan alam yang merupakan kesempurnaan menuju pencerahan. Ketika kita menatap cermin seraya merenungkan kembali perjalan hidup, tanpa sadar seolah menyadarkan bahwa beban pikiran dan batin mungkin sudah tak terhitung lagi sakitnya.
Obat-obatan tak sepenuhnya memberi kesehatan. Satu-satunya obat terbaik adalah memanjakan kedua mata untuk melihat pemandangan alam yang indah di Danau Toba. Banyak seniman dan ilmuwan meluangkan waktu berada di atas gunung sebagai bentuk meregangkan penatnya keruwetan penciptaan yang tengah ia perjuangkan.
Hal yang terindah adalah apa yang bisa kita nikmati secara sadar di kala mata memandang alam. Alam adalah pancaran dari ciptaan Tuhan yang maha besar. Sifat alam tersebut memberi kesejukan dan ketenangan. Misalnya apa yang kita temukan di alam tidak kita temukan seperti kebanyakan di medsos seperti perang saling sindir dan merasa paling benar.
Berlama-lama memantau status kekinian bisa menjadi jebakan absurditas yang berujung pada stress berkepanjangan. Maka nikmatilah hari di mana kita bisa tentram tanpa saling menghujat cari keburukan.
Kalau kita buat sedikit perbandingan dengan niat untuk tidak menentang berada di luar keyakinan teologis yang dianut sejak dari lahir hingga sekarang ini, bahwa secara rinci ada begitu banyak perbedaan ketika kita beribadah.
Sementara, dengan liburan menatap secara langsung pemandangan Danau Toba atau melihat secara dekat pemandangan hijaunya Bukit Holbung. Kita bisa merasakan sensasi ketuhanan itu secara langsung tanpa tertutupi oleh cover agama. Bila anda tak percaya Tuhan itu ada, cobalah mendaki gunung atau bukit, nanti anda akan temukan diri anda sendiri.
Saya tak bermaksud menjadi Nabi dengan memberi dalil secara memaksa, karena kita juga akan merasa dekat dengan diri kita, mengenal secara langsung kebahagiaan yang sesungguhnya ada dan terpancar dari alam.
Pengalaman dalam menikmati alam itu mengajarkan langsung kepada kita bahwa kehidupan yang sama sekali tanpa nafsu sesungguhnya kehidupan yang lumpuh. Sedangkan kehidupan yang seluruhnya dikuasai nafsu akan kehilangan seluruh nilainya yang sejati. Demikian pula manusia yang menjadi budak nafsu, tidak mempunyai kebebasan kehendak dan menjadikannya kurang manusiawi.
Menumbuhkan daya insting penalaran disertai dengan upaya untuk menjadi diri sendiri adalah kebijaksanaan yang terus digaungkan bagi para pemikir filsafat. Bila Filsafat itu sangat susah maka bukanlah berarti untuk berhenti meninggalkan seluruh pemikiran yang ada.
Tubuh yang bersifat material bisa saja memiliki pikiran yang luas sehingga materi di dalam tubuh itu tak mampu menahan gencarnya arus-arus perspektif yang bekerja mencari inspirasi baru. Maka menetralisir pikiran itu dengan apa? Tentu dengan menghirup udara yang segar lepas dari campuran polusi udara di kota metropolitan.
Menatap laut di tepi pantai, sudah memberikan perdamaian batin yang sangat khusyuk serta meringankan tekanan batin atas absurditas hidup yang begitu melelahkan.
Kalau ada upaya dan rezeki yang mencukupi maka tak salah jika seminggu sekali tubuh itu merindukan tempat dimana ia merasa bersatu dengan alam dan kerinduan itu membuat ingin rasanya liburan wisata alam terus-menerus untuk mendapatkan kepuasan pencerahan batin yang real.
Harian Analisa 14 Juli 2019.