Abdi Mulia Lubis
3 min readJul 14, 2019

Mengenal Alam, Mengenal Tuhan

SALAH satu ibadah yang paling mendekatkan diri ke­pada Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan liburan wisata alam. Saya tak ingin cepat-cepat mengambil keputusan seperti itu sebelum benar-benar telah melaluinya de­ngan kesadaran indrawi se­bagai manusia.

Kita hidup di dunia untuk mencari dan terus mencari, melihat dan mengenal secara keseluruhan. Bagaimanapun hanya pengalaman sejati yang memberikan pelajaran berarti untuk mengenal diri sen­diri secara utuh melalui indahnya alam. Caranya mengenal lebih dekat wilayah di sekitar kita, yakni menikmati secara langsung nikmatnya kese­gar­an, hijaunya perbukitan dan birunya lautan yang mem­bentang luas.

Inspirasi akan hadir beser­ta ide-ide cemerlang dari ke­sederhanaan alam yang me­rupakan kesempurnaan me­nu­ju pencerahan. Ketika kita menatap cermin seraya me­re­nungkan kembali perjalan hidup, tanpa sadar seolah me­­nyadarkan bahwa beban pi­kiran dan batin mungkin su­dah tak terhitung lagi sakit­nya.

Obat-obatan tak sepenuh­nya memberi kesehatan. Sa­tu-satunya obat terbaik ada­lah memanjakan kedua mata untuk melihat pemandangan alam yang indah di Danau Toba. Banyak seniman dan ilmuwan meluangkan waktu berada di atas gunung sebagai bentuk meregangkan penat­nya keruwetan penciptaan yang tengah ia perjuangkan.

Hal yang terindah adalah apa yang bisa kita nikmati se­cara sadar di kala mata me­mandang alam. Alam adalah pancaran dari ciptaan Tuhan yang maha besar. Sifat alam tersebut memberi kesejukan dan ketenangan. Misalnya apa yang kita temukan di alam tidak kita temukan se­perti kebanyakan di medsos seperti perang saling sindir dan merasa paling benar.

Berlama-lama memantau status kekinian bisa menjadi jebakan absurditas yang ber­ujung pada stress berke­pan­jangan. Maka nikmatilah hari di mana kita bisa tentram tanpa saling menghujat cari keburukan.

Kalau kita buat sedikit per­bandingan dengan niat untuk tidak menentang berada di luar keyakinan teologis yang dianut sejak dari lahir hingga sekarang ini, bahwa secara rin­ci ada begitu banyak per­bedaan ketika kita beribadah.

Sementara, dengan libur­an me­natap secara langsung pe­mandangan Danau Toba atau melihat secara dekat pemandangan hijaunya Bukit Holbung. Kita bisa merasakan sensasi ketuhanan itu secara langsung tanpa tertutupi oleh cover agama. Bila anda tak percaya Tuhan itu ada, coba­lah mendaki gunung atau bu­kit, nanti anda akan temukan diri anda sendiri.

Saya tak bermaksud men­jadi Nabi dengan memberi dalil secara memaksa, karena kita juga akan merasa dekat dengan diri kita, mengenal secara langsung kebahagiaan yang sesungguhnya ada dan terpancar dari alam.

Pengalaman dalam me­nik­mati alam itu mengajar­kan langsung kepada kita bahwa kehidupan yang sama sekali tanpa nafsu sesung­guhnya kehidupan yang lum­puh. Sedangkan kehidupan yang seluruhnya dikuasai nafsu akan kehilangan selu­ruh nilainya yang sejati. Demikian pula manusia yang menjadi budak nafsu, tidak mempunyai kebebasan ke­hendak dan menjadikannya ku­rang manusiawi.

Menumbuhkan daya ins­ting penalaran disertai de­ngan upaya untuk menjadi diri sendiri adalah kebijak­sanaan yang terus digaung­kan bagi para pemikir filsafat. Bila Filsafat itu sangat susah maka bukanlah berarti untuk berhenti meninggalkan selu­ruh pemikiran yang ada.

Tubuh yang bersifat material bisa saja memiliki pi­kir­an yang luas sehingga ma­teri di dalam tubuh itu tak mampu menahan gencarnya arus-arus perspektif yang be­kerja mencari inspirasi baru. Maka menetralisir pikiran itu dengan apa? Tentu dengan menghirup udara yang segar lepas dari campuran polusi udara di kota metropolitan.

Menatap laut di tepi pan­tai, sudah memberikan per­damaian batin yang sangat khu­syuk serta meringankan tekanan batin atas absurditas hidup yang begitu mele­lah­kan.

Kalau ada upaya dan reze­ki yang mencukupi maka tak salah jika seminggu sekali tubuh itu merindukan tempat dimana ia merasa bersatu de­ngan alam dan kerinduan itu membuat ingin rasanya li­bur­an wisata alam terus-me­nerus untuk mendapatkan ke­puasan pencerahan batin yang real.

Harian Analisa 14 Juli 2019.

No responses yet