Member-only story

Menggugat Arogansi Teologi Kebencian

Abdi Mulia Lubis
4 min readOct 14, 2020
Koran Harian Analisa, 09 Oktober 2020. Rubrik Opini halaman 12.

Pemerintah daerah semakin menyiksa rakyatnya, sementara rakyatnya menyalahkan pemerintah pusat. Padahal dari daerah tempat sendiri ajaran agama itu sudah diajarkan dengan penuh kebencian dan ketakutan. Lalu para pemuka agamanya akan bersekongkol dengan pejabat untuk memanfaatkan agama sebagai topeng kemunafikan. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapi hal tersebut?

Filsafat Hayek menyebut baha dalam membangun sebuah tatanan sosial yang baik, tidak diperlukan otoritas terpusat seperti pemerintah. Kehadiran otoritas yang serba terpusat selalu mengundang resiko pembatasan kebebasan dan bahkan perbudakan.

Agama masih memiliki banyak kekuatan politik, karena mereka dawpat memperkuat identitas nasional dan bahka memicu perang dunia ketiga. Namun ketika tiba saatnya untuk memecahkan alih-alih memicu masalah global abad ke-21, mereka tampaknya tidak menawarkan banyak hal. Meskipun banyak agama tradisional mendukung nilai-nilai universal dan mengklaim keabsahan kosmik, pada saat ini mereka digunakan terutama sebagai panglima nasionalisme modern-baik di Korea Utara, Rusia, Iran atau Israel, oleh karena itu mereka menjadikannya lebih sulit untuk mengatasi perbedaan nasional dan menemukan solusi global terhadap ancaman ruang nuklir, keruntuhan ekologi dan disrupsi teknologi.

--

--

No responses yet