Abdi Mulia Lubis
4 min readDec 11, 2017

Menginspirasi Tanpa Menggurui

JADILAH seseorang yang bijak memberi semangat dikala teman-teman disekitar mengalami depresi dan frustasi berat yang terus bergejolak. Kata-kata tersebut terlhami dari Nicola Tesla, bahwa untuk menjadi sosok yang berarti maka jadilah seseorang yang menginspirasi. Kita sering terpaku pada perasaan merasa paling benar dan selalu mengutamakan ego daripada dasar logika sehingga sering terlihat bahwa apa yang kita ajarkan pada dasarnya adalah seakan menggurui. Manusia pada prinsipnya tak ingin diajar seperti digurui, manusia akan tergerak apabila ia terinspirasi, maka daripada itu hal yang paling sulit untuk menjadi pengajar adalah menjadi sosok yang inspirasi. Bayangkan anda duduk dikelas lalu terpaksa belajar karena sudah tersistem, sejujurnya bahwa ketika anda duduk dikelas hal yang anda butuhkan adalah inspirasi, bukan belajar karena terpaksa.

Seorang guru pada mulanya sebaiknya harus berpegang teguh pada prinsip menginspirasi tanpa menggurui, karena ketika seorang siswa terinspirasi maka ia akan bergerak tanpa dipaksa harus menjadi. Pelajar yang terinspirasi akan menemukan jati dirinya ketika ia terbakar akan inspirasi yang diberi dan pelajar giat untuk terus mencari apa yang harus dipelajari. Tugas guru adalah me­ngem­bangkan, Giring vokalis Nidji pernah mengusulkan satu wacana baru dengan menyarankan Ujian Na­sional menjadi Ujian Menemukan bakat, gagasan yang dikatakan Nidji tersebut perlu diper­timbangkan se­hingga kita tidak terpatok pada budaya asal ikut nanti ketahuannya itu. Berpikir tentang kesenian adalah berpikir tentang keindahan, belajar meng­apresiasi suatu karya dengan memahami nilai estetik pada karya yang abstrak.

Jika apa yang kita pelajari adalah hal yang itu-itu saja tanpa percobaan eksperimental yang mendalam maka akan terjadi Hari yang berat adalah hari yang tanpa pencerahan, ketika kita berjalan tanpa daya karena terpaku pada rutinitas yang membebani hati. Hidup seakan dipaksa untuk mencari uang sebanyak-banyaknya maka yang terjadi adalah me­ngejar kemewahan ketimbang merenungkan makna hidup, sehingga yang menimpa kita adalah melupakan buku dan menjunjung kerja. Kesehatan dan tubuh yang segar diguna­kan untuk kerja akan terasa sayang sehingga aktifitas pikiran terbengkalai. Manusia jarang berpikir karena ia terpaku dan terpaksa bekerja untuk mencukupi biaya kebutuhan hidup, yang terjadi pada akhirnya adalah untuk apa belajar terlalu dalam, toh pada akhirnya kita disuruh kerja juga. Pemahaman tersebut tidaklah baik untuk ditanamkan kepada murid, yang baik ditanam adalah kelincahan berpikir dalam meng­analisis suatu kejadian. Seseorang apabila ia berpikir ia akan melihat secara menyeluruh, ia akan mengamati bahwa setiap kejadian ada suatu penyebab, mendidik siswa untuk berpikir adalah suatu inspirasi, sehingga tertanam di dalam keyakinannya untuk bersikap kritis dalam segala situasi. Dalam pendidikan kita saat ini kekurangan orang-orang yang berpikir, kita kekurangan orang yang tahu satu penyebab dan mampu memberi solusi dari penyebab itu.

Semakin rumit suatu pikiran, semakin baik dan bijak mengambil keputusan. Banyak orang diantara kita yang ingin hidup tak ambil pusing, ingin hidup yang senang-senang aja, hidup kok dipersulit ? Perlu ditekankan bahwa Cita-cita yang besar takkan mampu terwujud tanpa perjuangan yang besar. Kata-kata tersebut perlu diperdalami bahwa impian yang besar itu apabila tercapai dengan per­juangan yang besar, maka nikmat dalam proses itu adalah kebahagiaan dan membuat kita sadar bahwa perjalanan dalam meniti itu ialah guru yang mendidik. Jadi hendaklah kita jangan terlalu banyak berharap akan angan-angan sesaat, dan hendaklah mulai berpikir rasional mengenai cita-cita yang ingin kita gapai, bahwa dengan menemukan suatu pekerjaan yang kita cintai adalah misi awal sebelum berjuang asal inspirasi ada seketika.

Dalam mengenali passion pelajar, sang inspirasi harus mengenal apa yang diinginkan pelajar, jika dalam satu lokal terdapat 40 siswa maka baiklah diberi tugas kepada siswa untuk menulis esai, menulis bisa digunakan menjadi suatu pendekatan antara guru dan murid, mungkin pelajar ada perasaan segan untuk berbicara kepada guru, maka menulis menjadi sarana penyampaian terbaik dari siswa kepada guru dalam menemukan apa yang harus dipelajari. Karena diantara 40 siswa tentu tidaklah sama, ada yang ingin bermusik, menggambar, menjadi penulis dan lainnya, jadi dengan menulis esai maka akan terlihatlah apa jati diri murid sehingga kita sebagai gurulah yang mengembangkan minat siswa lebih dalam pada satu tujuan. Pelajar yang diberi tugas untuk Menulis esai adalah kunci dalam mene­mukan inspirasi.

Kenalilah dirimu sendiri dan janganlah berlebihan, pesan bijak dari filsuf Yunani kuno tersebut masih terasa memberi Ilham hingga saat ini. Yunani seakan menjadi kiblat dasar bagi peradaban dalam menemukan inspirasi, kita belajar dari mitologi, filsafat, hingga sastra dan banyak hal yang sampai saat ini pengetahuan dari Yunani memberi pengaruh besar dalam membuat manusia menjadi kreatif. Seseorang yang mengenal dirinya akan bijak dalam bersikap dalam segala kondisi, ia akan mudah berbaur dan orang lain tak kesulitan dalam memahami­nya, ia akan menjadi sosok yang dicari dan ditunggu dalam setiap kesempatan yang gen­ting, memberi masukan dan nasehat bila melihat ke­jang­galan yang terjadi, dan menemukan solusi bijak keti­ka banyak orang me­ngalami kebuntuan.

Pikiran yang mandek adalah pikiran yang tak pernah diasah, bagaimanapun mau tak mau memang kita harus memaksa diri untuk rajin menganalisa sehingga tak mudah jenuh dengan keadaan yang monoton. Pera­saan yang sedih dikala merasa buntu gagasan adalah suatu gejala kurangnya suatu aktifitas didalam pikiran, maka ada sebutan jangan biarkan pikiran kosong, sebutan tersebut adalah kalimat yang menjadi motivasi para pecandu buku. Bila inspirasi kosong, maka bacalah buku, bila hidup terasa hampa maka bacalah buku. Buku menjadi sahabat inspirasi paling baik dan paling dekat, dengan buku kita tak merasa sepi, dengan buku kita akan merdeka, maka apabila anda melihat sese­orang tengah duduk dengan membaca buku, maka anda akan melihat sebuah buku yang merekomendasikan seorang teman yang baik, buku itulah yang menunjukkan secara lang­sung kepada anda seorang teman yang baik untuk diajak bertukar pikiran. Dalam dunia penulisan, penulis Bernard Batubara mengatakan bahwa membaca buku adalah bahan bakar dalam menulis, tidak ada tulisan yang bagus tanpa riset yang panjang, maka ketika kita ingin menjadi penulis maka perbanyaklah membaca buku, semakin buku bagus yang kita baca, maka semakin paham kita bagaimana suatu tulisan yang baik, maka dengan sadar kita akan tahu bagaimana menulis dengan baik.***

Penulis adalah Peminat Filsafat, Tinggal di Kota Rantauprapat

Opini saya "Menginspirasi Tanpa Menggurui" dimuat Harian Analisa pada hari Selasa 5 Desember 2017 :

http://harian.analisadaily.com/mobile/opini/news/menginspirasi-tanpa-menggurui/463133/2017/12/05

No responses yet