Abdi Mulia Lubis
4 min readAug 22, 2019

Menuju Rasionalis Radikal

Apa yang kita tatap di masa depan bukan lagi persoalan bagaimana keyakinan itu egois dalam suatu ketidakpastian tanpa pergerakan, melainkan pergerakan yang melahirkan kenyamanan bagi diri dan orang di sekitar. Kita tak bisa lagi berkumpul mempermasalahkan iman, agama, identitas me­lainkan bagaimana perbedaan berkembang melahirkan akar-akar toleransi sehingga tidak ada yang merasa tinggi diatas suatu kaum minoritas dan kaum minoritas mampu menempat­kan kesetaraan kepada kaum mayoritas.

Bagaimanapun persoalan agama ini memang tak pernah habisnya, kita dibuat muak dengan kampanye syariah yang tak menentu serta khilafah lainnya, entah kenapa penyakit sibuk mengurus agama ini masih mendarah daging di tubuh bangsa kita, padahal senyatanya sudah terbuka mata lebar-lebar bahwa teknologi dan pengetahuan yang kita miliki ha­rus mampu bersaing dengan negara tetangga yang lebih maju.

Mereka negara maju tak memiliki sumber daya tetapi me­miliki otak yang kreatif, sementara kita yang memiliki modal sumber alam yang kaya memilih banyak berdoa tanpa pernah berjuang memanfaatkan sebaik mungkin potensi tersebut. Ini seperti meletakkan diri pada kepasrahan akhir zaman berupa surga dan tak mau berusaha semaksimal mungkin.

Nabi Muhammad saja jika tak berperang dalam arti berdagang tidak akan pernah ada kemenangan yang nya­ta. Namun yang sakitnya adalah para pemuka agama kita lebih sibuk mengurus kafir, nikah muda, poligami dan ke­munafikan lainnya.

Rasionalis radikal itu bagus, yang menyalah itu adalah radikalisme ekstrim dalam beragama berupa fitnah, hoax serta menyebarkan kebencian. Kita harus mampu menempat­kan defenisi kesadaran mengenai kata 'Radikal' ini sehingga filsafat tidak dikutuk sebagai ajaran sesat melainkan meng­hantarkan suatu jawaban keyakinan yang lama kepada perta­nyaan yang baru bahwa segala sesuatu itu bisa berubah yaitu mengalir.

Menjadi radikal dalam arti rasionalis artinya mampu me­lihat realitas serta fenomena sosial dengan kacamata pa­ra­digma. Jangan sampai menempatkan suatu masalah sosial kepada agama sebab ini seperti tak menggunakan otak padahal berpikir itu adalah suatu kewajiban dalam beragama.

Kedepankan Pengetahuan

Tidak ada tempat bagi ekstrimis dalam beragama, HTI dan FPI dalam pandangan kebangsaan adalah bias dari lahirnya generasi teroris. Kalau kita bandingkan tanpa maksud mencari-cari kesalahan namun diuji apakah kontribusi FPI dan HTI dalam segi pendidikan adalah tidak ada sama sekali. Lihatlah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang menge­depankan pengetahuan seiring dengan agama tanpa ada ke­ben­cian dan kita tahu biang kebencian itu ada di FPI. Arti­nya apa bahwa kalau seseorang ingin belajar agama secara sejati maka berfokuslah pada jejak pemikiran Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah. Banyak kampus dan sekolah Muhammadiyah yang artinya Muhammadiyah memiliki jihad pengetahuan bukan jihad pertumpahan darah.

Yang kita butuhkan adalah suatu perubahan baru dari keyakinan takhayul lama menuju paradigma baru berupa intelektual penalaran berbasis ekologi agraria, bukan keya­kinan yang menutup akal pikiran sehingga yang terjadi ha­nyalah pertengkaran bermainkan dalil berlandaskan ke­pentingan agama. Salah dikirim dibilang kafir, rusak sedikit dibilang haram, itulah penyakit ilmu agama yang dipahami terlalu instan. Agama itu jangan sampai dipuja begitu dalam sebab sering sekali agama yang hanya sebagai cover menutupi makna ketuhanan yang sebenarnya. Mata kita harus tertuju pada alam lalu dari kesadaran akan keindahan alam itulah kita bisa merasakan adanya Tuhan. Saya tidak ingin menye­satkan dengan sembarang mengatakan alam sebagai Tuhan tapi hendaknya kita memiliki tahapan ilmu yang berproses bukan instan cepat saji.

Jared Diamonds dalam bukunya yang berjudul The World Until Yesterday menulis : "Ketika sains dan teknologi lebih mampu menjelaskan "makna" kehidupan manusia, maka manusia akan mulai meninggalkan agama". Yang menarik adalah bila Anda menanggapi para ateis itu, "Aku tidak suka mendengar itu, katakanlah itu tidak benar, tunjukkanlah cara sains memberikan makna dengan caranya sendiri," tanggapan kaum ateis itu adalah "Permintaanmu sia-sia saja, lupakan saja, berhentilah mencari makna, tidak ada yang namanya makna— yang ada hanya, seperti kata Donald Rumsfeld soal penjarahan yang terjadi selama perang di Irak, 'Kejadian ya ada saja!'"

Namun kita masih memiliki otak yang itu-itu juga, yang haus akan makna. Kita memiliki sejarah evolusi beberapa juta tahun yang mengatakan kepada kita, "Bahkan meskipun hal itu benar, aku tidak suka dan aku tidak akan memper­cayainya: bila sains tidak bisa memberiku makna, aku akan berpaling kepada agama guna menemukan makna." Itu barangkali merupakan faktor signifikan yang menyebabkan agama bertahan dan bahkan tumbuh dalam abad pertumbuhan sains dan teknologi ini.

Menurut Gadamer kebenaran menerangi berbagai metode individual, sedang metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. Gadamer ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode, melainkan melalui dialektika. Sebab dalam proses dialektika kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara bebas lebih banyak dibandingkan dengan dalam proses meto­dis. Pada dasarnya metode adalah struktur yang dapat mem­bekukan dan memanipulasi unsur-unsur yg memudahkan pro­sedur tanya-jawab, sedangkan proses diakektika tidak lah demikian. Disamping itu tidak semua ilmu pengetahuan ke­manusiaan dapat diterapkan suatu metode. Sastra dan Seni tidak dapat menggunakan alat metode apapun. Menurut Ga­daner, hanya Hermeneutika sajalah yg dapat membantu manusia dala memahami ilmu-ilmu kemanusiaan tersebut. Maka apa yang dibutuhkan dalam belajar agama perihal ke­-ya­kinan lainnya juga dibutuhkan rekontruksi ulang yang membangun gaya bahasa narasi yang baru yang artinya pe­ngetahuan berkembang tanpa tekanan oleh keyakinan lama.

Harian Analisa, 22 Agustus 2019.

No responses yet