Abdi Mulia Lubis
4 min readDec 6, 2018

Mewaspadai Paham Ekstrem Radikalisme

SEMANGAT juang untuk men­cer­daskan kehidupan bangsa adalah spirit bagi para pahlawan kemer­dekaan yang dulunya diperun­tukkan kepada kita sebagai generasi pene­rusnya agar tetap optimis pantang menyerah dalam menja­lani hidup. Kita sebagai generasi penerus tersebut diharap untuk sadar akan pentingnya mengamal­kan nilai-nilai pancasila. Bersama bersatu padu membangun gagasan dalam keberagaman untuk merang­kul perbedaan adalah cita-cita yang harus kita tanam dalam prinsip kebhinekaan.

Pancasila sebagai ideologi negara harus senantiasa kita amalkan agar kerukunan bisa terjaga dengan baik. Tidak saling menjatuhkan dan tidak saling meremehkan akan perbedaan agama dan kaum minoritas. Sebagai generasi millenial penting kiranya untuk saling menjaga ketertiban dan tidak mudah terhasut akan ajakan dan doktrin-doktrin yang melenceng dari prinsip Pancasila. Khotbah Radikal dan ceramah intoleransi adalah musuh kita bersama yang harus diwaspadai agar ideologi tidak tercemar akan paham tersebut.

Indonesia yang sebagaimana kita ketahui adalah negeri yang kaya akan ragam budaya yang sebaiknya tak mudah terpecah belah karena paksaan teologi untuk menjadi soleh dalam beragama. Kita adalah bangsa yang dididik untuk bebas berkarya tanpa kekangan dan ketakutan akan paham intoleransi. Kita adalah bangsa yang berjuang untuk terus berkarya tanpa lelah untuk melahirkan inspirasi. Kita adalah Bangsa yang penuh optimisme dan berdikari untuk bergerak terus menebar gagasan kebaikan. Mem­bangun kreativitas dan kesadaran masyarakat akan pentingnya persa­tuan dalam perbedaan serta tidak mudah terprovokasi untuk saling me­ne­bar kebencian. Inspirasi kebera­gaman inilah yang harusnya kita jaga saat ini, sebab bangsa yang besar ada­lah bangsa yang tak mudah ter­pecah belah terhadap paham radi­kalisme.

Beragam perbedaan dapat mem­perkuat persatuan tetapi satu paham radikal dapat mengha­nguskan kebe­ragaman tersebut. Prinsip ini memberi arti bahwa tidak boleh memaksakan diri untuk merasa paling suci diatas suku, kaum dan agama yang ada di Indonesia karena hanya dengan perbedaan Indonesia menjadi kuat, sebaliknya dengan paham jihad radikal Indonesia akan menjadi korban akan paham radikalisme.

Tan Malaka mengatakan bahwa “Tujuan pendidikan itu untuk mem­pertajam kecerdasan, mem­per­kukuh kemauan serta memper­halus pera­saan”. Mempertajam kecerdasan, memperkukuh kema­uan dan mem­perhalus perasaan adalah tiga hal penting yang harus diutamakan dalam pembelajaran.

Bila dalam suatu pembelajaran itu lebih banyak doktrin yang menghasut kebencian untuk bersikap ekstrem kepada kaum minoritas maka pembe­la­jaran itu tidak ada gunanya untuk dite­rima dan justru akan menjadi mala­pe­taka bagi generasi bangsa. Kebencian dan rasa merasa paling benar sendiri dalam keyakinan beragama harus disingkirkan karena akan dapat menimbulkan perpecahan.

Kesadaran demi persatuan dalam perbedaan harus ditanam sejak dini kepada generasi muda khususnya mereka yang remaja dan duduk dalam bangku sekolah. Sebab paham ekstrem radikalisme tidak boleh dibiarkan masuk kedalam lingkup sekolah dan para tenaga pendidik harus siap sedia untuk mengingatkan siswanya agar tidak mudah terjerat dalam paham kebencian. Buku untuk membuka pemikiran sementara paham radi­ka­lisme memperburuk keadaan. Kita tak bisa menyia-nyiakan hidup dengan menyimpan amarah dengki sebab makna sejati kehidupan adalah memberi inspirasi serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kita melihat bahwa satu khotbah radikal bisa merusak puluhan bahkan ratusan ideologi para pendengarnya. Ketika seseorang ingin beribadah men­cari ketena­ngan batin memohon ridho dari yang maha kuasa maka ke­khu­sukan beribadah itu jadi ter­ganggu dengan adanya paham eks­trem radikalisme tersebut. Seseorang pada akhirnya memilih rumah ibadah hanya karena ingin mencari ketena­ngan berdoa bukan mendengar ceramah intoleransi.

Dunia yang amat luas ini marilah kita isi denganmembuka sudut pan­dang baru untuk melihat kemungki­nan yang lain dari satu keyakinan dengan membaca dan belajar. Yang tak bisa kita lihat itu semestinya bisa dimaknai dengan perspektif yang baru bukan hanya sekedar keyakinan iman. Mem­bangun kesadaran berpikir kritis itu penting daripada menumbuhkan kebencian. Sadar akan berartinya per­bedaan yang memberi warna sebab tanpa warna-warni kebera­gaman maka kehidupan akan terasa sangat kesunyian.

Berilmu berarti turun tangan kepada masyarakat, bukan merasa gengsi untuk berbaur kepada petani dan pekerja. Artinya bila seseorang memiliki pengetahuan dan pendidi­kan dan dibutuhkan kelas pekerja maka para pendidik yang berbekal tersebut harus turun ke lapangan.

Tan Malaka mengatakan “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Dalam pemikiran tersebut sebaik­nya seseorang memberikan dengan memaksa doktrin agama secara keras hendaklah seseorang turun langsung belajar dan berbagi pengetahuan kepada petani.

Beriman tanpa tekanan surga dan siksa neraka seperti itulah seha­rusnya yang diamalkan. Mempersiapkan diri dalam mempelajari hal baru terbuka akan perbedaan dan menjadi lebih rukun tanpa penodaan ideologi berbasis agama. Kita butuh spirit ideologi yang menuntun sikap dan perasaan menjadi lebih bermartabat.

Tan Malaka mengatakan “Murid yang cerdik juga insyaf, bahwa kalau dia sudah tahu satu cara, satu undang, satu kunci buat menyelesaikan satu golongan persoalan, maka tiadalah ia mengapal berpuluh-puluh perso­alan atau jawabannya puluhan atau ratusan persoalan itu, tetapi dia pegang cara atau kuncinya persoalan tadi saja.

Harian Analisa, 6 Desember 2018.

No responses yet