Move On dari Kegaduhan Bangsa
Kita sudah mulai lupa dan sering mengintimidasi ideologi seseorang dengan perang status dan komentar pedas hingga rela menyebarkan berita hoax hanya untuk menunjukkan bahwa tokoh junjunganku tak pernah salah. Apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang mampu menyesatkan persatuan dan kesatuan bangsa kita sehingga menimbulkan keretakan kultur Budi pekerti, tak ada lagi yang namanya toleransi saling berbagi. Dimana-mana bahas agama, PKI, pribumi, FPI, asing dan lainnya, sehingga tak ada manfaatnya dan malah merugikan diri sendiri juga mencoreng nama baik Indonesia dimata dunia. Dimanakah letak kesalahan itu sehingga berbulan-bulan dan bertahun-tahun habis energi kita yang saling mengejek dan mencaci maki hanya untuk memamerkan sebuah prinsip bahwa aku paling benar di dunia ini. Apakah sudah tak terpikirkan lagi dihadapan kita semua sudah berapa jauh kita tertinggal dengan negara lain. Mampukah negara ini maju, jika bangsanya sibuk saling tikai lempar status dan komen kebencian?
Manusia terjerat diantara keharusan mencari nafkah kehidupan dunia dan mencukupi bekal pahala untuk akhirat. Ada yang berjuang demi sesuap nasi dan ada yang berjuang ingin masuk surga. Dua kubu tersebut bisa disimpulkan kubu dunia dan kubu akhirat. Kita terjerat pada dua hal tersebut dan tiada mampu mengkontrol ideologi agar seimbang. Disatu sisi kehidupan dunia tidak bisa kita lepaskan dan disatu sisi lagi kehidupan akhirat tidak bisa kita acuhkan begitu saja.
Kadangkala kita akan berpikir tentang salah dan benarnya suatu prinsip namun hadirnya keberagaman tidak mesti memecah belah persatuan kita dalam bernegara. Merasa benar boleh namun jangan mudah menyalahkan, seperti berfilsafat kehidupan ini memang membutuhkan beragam pertimbangan dan pertanyaan agar kita tidak saling mudah sombong dalam kebaikan dan tidak mudah putus asa dikala hidup terjatuh. Seperti yang dikatakan Socrates, bahwa aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.
Semua terjadi dan memiliki jalannya masing-masing, menjadi berbeda adalah pilihan, namun tetap bersama menjunjung toleransi adalah kewajiban bagi Nusa dan bangsa. Kita tak ingin hancur seperti Suriah, kita tak ingin terjadi perang konflik yang berkepanjangan. Bila kita berkaca pada waktu dan melihat kebelakang, cukuplah kegaduhan itu terjadi dan berakhirlah segala intimidasi saling mengkafirkan. Ini ialah Indonesia negara dimana beragam suku dan budaya saling bergandengan, kita berbeda untuk saling merangkul dan bukan saling menjatuhkan. Bila terjadi kesalahpahaman bersuaralah dengan etika situasi. Jangan ada kebencian diantara perbedaan.
Kenapa kita sibuk mempertahankan prinsip aku paling benar ? Kenapa kita tidak sibuk untuk berkarya dan bersaing dengan negara lain ? Pernahkah terpikir sudah berapa jauh kita tertinggal ? Negara Indonesia jauh lebih luas dan kaya sumber dayanya dari negara Singapura, namun Indonesia tertinggal jauh dari Singapura. Harga diri negara ini berada ditangan kita masing-masing. Apakah tangan kita sibuk buat status kebencian dan bermain Smartphone itu semua berada pada kesadaran masing-masing. Tidak bisa dipaksakan orang mau berbuat apa, namun mengingatkan jauh lebih baik daripada melupakan disaat merasa bijak. Perkembangan zaman seakan mendoktrin tanpa kita sadari bahwa berlama-lama online adalah sebuah kerugian.
Maka ini semua membawa kita pada satu hal, jika tak mampu memberi pencerahan dan inspirasi dalam menulis status dan komentar, maka diam, membaca dan memahami jauh lebih baik daripada menulis yang berujung menimbulkan kericuhan. Menulis tanpa menimbulkan konflik kegaduhan adalah jalan terbaik, karena lihatlah sudah bosan dan capek kita melihat status dan berita hoax yang berseliweran di beranda Facebook. Kita tak ingin ketika membuka sosial media timbul berita yang membuat darah tinggi kita naik sehingga ada hasrat yang terpacu ingin saling caci maki dan mengkafirkan. Kita ingin hidup rukun dan bahagia, maka jika kawan-kawan pembaca ada melihat tulisan yang saling menimbulkan kegaduhan maka jangan mudah untuk di share. Share lah tulisan dan berita yang baik-baik, share lah ayat-ayat suci, kata-kata motivasi, bukan berita hoax yang membuat panas hati jika membacanya.
Jika kita saling berperang maka akan banyak yang menjadi korban, jika kita saling merangkul bergandengan dan memberi support, maka keselamatan bersama diantara kita.
Damailah Indonesiaku, damailah saudara-saudaraku. Sudah terlalu lama kita gaduh dan bangkitlah dari kegaduhan itu. Dari sini kita belajar bahwa Cintailah musuhmu seakan-akan ialah yang tanpa sadar memotivasimu, memberi kekuatan yang membuat dirimu lebih baik dari hari kemarin.
Untuk itu agar terjauh dari kegaduhan, Kita harus bisa menahan nafsu menulis status di sosial media dan mengutamakan menulis opini untuk media cetak agar fokus dan ketajaman sudut pandang kita lebih terpandang di mata pembaca. Karena apapun rasa sakit jika tulisan ditolak adalah hal yang biasa, karena akan lebih menyakitkan lagi jika tidak menulis sama sekali. Menulis adalah nafas inspirasi, jika tak menulis maka tumpullah nalar sebuah perspektif. Dibutuhkan partisipasi kebangsaan berupa tulisan yang menyejukkan dan juga membangkitkan gairah kebhinekaan. Maka daripada terbengong dan ikut arus kekinian yang tak bermoral maka menulislah dengan kejujuran.
Bagaimana memulai suatu tulisan adalah dengan memperbanyak bacaan, tanpa banyak membaca manusia akan mudah kehabisan kata-kata. Dengan banyak membaca maka akan secara alamiah otak kita akan terangsang akan ide-ide baru, sehingga luas sudut pandang kita dalam memaknai suatu kejadian. Karena pada akhirnya menulis adalah jalan menuju bangkit dari kegaduhan, menulis menyuarakan panggilan jiwa dan membangun semangat peradaban intelektual.
Opini ini pertama kali dimuat di harian analisa : http://harian.analisadaily.com/mobile/opini/news/move-on-dari-kegaduhan-bangsa/358356/2017/06/08