Perang Dagang Melawan Kapitalisme
Yang kita pelajari untuk mendapat pegangan dalam berdagang adalah jangan pernah berharap bila membangun usaha dengan mendapatkan untung cepat, tetapi berpikirlah bagaimana agar produksi penjualan bisa melaju tanpa henti dengan menetapkan harga yang sesuai kantong masyarakat dimana pembeli tidak merasa tercekik bila mengeluarkan uang di dompet.
Dengan mendapatkan untung 1000 rupiah saja dengan penjualan yang laris manis itu jauh lebih baik ketimbang menetapkan harga diatas puluhan ribu rupiah tetapi tidak ada satupun penjual yang mau membeli. Pengalaman itu saya pelajari dan pengamatan saya setelah membaca lebih dalam tentang apa yang tengah terjadi saat ini mengenai perdagangan, bahwa begitu banyak orang yang menggebu ingin membangun usaha agar cepat sukses tanpa memikirkan strategi khusus berupa proses yang sesuai dengan keadaan wilayah sekitar. Banyak yang diantara kita ingin sukses maka kuncinya mulailah dengan berjualan dagang bukan main game PUBG begadang berbulan-bulan hingga badan kurus tak bergairah.
Sadar akan keriuhan mengenai perdagangan ini seperti mendekonstruksi ulang paradigma umum bahwa ada persepsi yang perlu diperbaiki oleh masyarakat saat ini yaitu janganlah berpangku pada sawit saja sebab minyak sudah melimpah hingga harga sawit akan mengalami penurunan drastis yang bisa jadi tidak ada harganya lagi, maka yang dibutuhkan adalah impor besar-besaran dengan tidak menjadi munafik dengan menghilangkan gengsi impor dari Tiongkok. Bahwa Tiongkok tidak seburuk apa yang menjadi gosip di pasaran dan hoax mengenai Tiongkok harus bisa disharing agar tidak menjadi penipuan publik sehingga tidak banyak yang terkecoh mengenai hoax yang tak berhenti, yaitu memerangi segala berita yang merusak dan menghentikan segala upaya dari meningkatnya harga suatu brand kelas atas.
Dalam hal ini perlu diutarakan bahwa saya bukanlah motivator bisnis usaha agar cepat laris manis dan mungkin tidak memiliki kapasitas untuk memberi masukan melainkan dapat melihat pertimbangan apa yang terbaik, tetapi kacamata pengamatan sosial saat ini memungkinkan semua orang bisa melihat dan merasakan ketimpangan apa yang tengah terjadi dan bagaimana solusi terbaik untuk menghadapi ketimpangan nasional saat ini yang heboh mengurus agama, maka bila kita saksikan bahwa rakyat kita terlalu sibuk mengurus agama dan lupa membaca realitas keadaan.
Pada awal tahun 2000 an kita terbawa pada arus nama brand yang tertinggi agar dapat membeli suatu barang, namun di tahun 2010 an keatas hingga saat ini hal itu kini sudah berubah, orang berbondong-bondong untuk membeli barang yang bisa dimanfaatkan dengan baik dari Tiongkok tanpa harus mempersalahkan nama brandnya. Trump mengatakan perang Dagang yang berujung pada blunder yang sebenarnya perang Dagang melawan harga kapitalisme, tetapi ia tidak memikirkan sebuah spekulasi yang menyeluruh bahwa yang harus diperangi adalah kapitalisme yaitu berhenti memberi harga tinggi secara berlebihan dan berilah harga yang layak kepada rakyat dengan arti yang sesuai dan tidak membebani si penjual untuk membelinya. Dan kita sebagai rakyat tidak lagi mempermasalahkan hape merek Apple karena sudah banyak masyarakat kita yang beralih ke Vivo, Oppo, dan Xiaomi yang membuktikan bahwa untuk apa menghabiskan uang berjuta-juta untuk hape dengan brand tinggi toh spesifikasinya sama bahkan lebih canggih.
Disinilah kita menyadari bahwa upaya Tiongkok dalam memberikan harga murah harus diapresiasi dan ini tentu harus memberi kesadaran kepada pengusaha bahwa rakyat jangan ditekan dengan harga mahal. Berani bersaing dalam berdagang artinya berani memberikan harga yang tidak menyiksa kepada pelanggan.
Produk Tiongkok
Bicara perihal kualitas produk mari kita bicara mengenai spesifikasi suatu barang dan jangan dipengaruhi oleh nama suatu brand. Earbuds Haylou GT1 produksi Tiongkok yang bisa didapatkan dengan harga 268 ribuan di Lazada tidak kalah saing jauh secara spekulasi dengan Earbuds Apple yang dapat dibeli dengan harga 2 jutaan bahkan mendekati 3 juta di pasaran. Silahkan bandingkan dengan spekulasi dan ketahan dari kedua earbuds tersebut dan kita akan dapat melihat bahwa ketimpangan harga itu terdapat dari suatu brand yang terlalu menggebu memberi harga tinggi padahal semua kelompok harus dapat membeli.
Artinya bahwa rakyat sudah bijak dan tidak mau tertipu dengan nama brand yang tinggi. Tiongkok memiliki masa depan investasi yang cerah dan Indonesia harus membuka pintu, dan jangan sampai gengsi. Pilihannya adalah lebih baik bila Tiongkok membuka impor yang besar dengan harga yang terjangkau ketimbang Impor dari Amerika dengan harga yang tinggi.
Kejayaan Huawei yang mulai perlahan bangkit melampaui Apple kini menjadi kegalauan Trump terkhususnya Perusahaan Amerika mengalami ketakutan massal pada Tiongkok dan membuktikan bahwa upaya pemikiran kiri yang diwariskan oleh Marx dan Engels terbukti ampuh meruntuhkan kelas atas walau harus mengalami proses ratusan tahun lamanya dan prediksi Karl Marx tidak lama lagi akan terwujud.
Saya mengamati dan melihat secara keseluruhan bahwa perubahan yang cepat ini tidak hanya menjadi motivasi Amerika saja, bagi Tiongkok berpikir 24 jam dalam sehari saja masih belum cukup sebab yang menjadi misi besar Tiongkok adalah bagaimana ia terdepan dalam menghasilkan kecanggihan teknologi dari suatu produk dan ini sudah perlahan terwujud. Bahwa brand tidaklah menjadi utama melainkan bagaimana semua orang harus dapat menikmatinya.
Harian Analisa, 3 September 2019