Abdi Mulia Lubis
4 min readFeb 15, 2020

Radikal Mencari Keadilan

Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk melecehkan, merendahkan, menghina atau mencabik-cabik kehormatan manusia. Semua agama, termasuk islam, membawa pesan yang sama: menyayangi dan memuliakan manusia di satu sisi dan membebaskan manusia dari system social tiranik di sisi yang lain.

Apalah arti beragama jika suka melukai sesama? Apalah arti menjadi manusia, jika menjadi srigala bagi manusia yang lain? Ahwad Wahid menulis dalam buku Karena Kau Manusia,Sayangi Manusia, mengatakan Bagaimana bisa agama berfungsi baik bagi manusia, untuk kepentingan manusia, jika para pemeluk agama justru sering merusak kemanusiaan? Bahkan dengan mengatasnamakan agama.

Ada empat langkah berpikir menurut Dercartes untuk mencapai kebenaran yang pasti benar-benar rasional. Jika dilihat dari sisi metodologis, empat pikiran yang ditwarkan oleh Descartes dapat diwujudkan menjadi dua metode yaitu metode intuisi dan deduksi. Descartes berpendapat bahwa dua metode ini harus dijalankan jika ingin memperoleh pengetahuan yang benar dan pasti mengenai sesuatu.

Kehidupan ini dipengaruhi oleh besarnya pengaruh kemajuan teknologi yang terus berkembang dicipta oleh para ilmuwan serta para pemikir lainnya yang terus mengagendakan untuk kemudahan hidup para generasi yang akan datang. Dimana kita dimotivasi secara kesadaran untuk terus berbuat menghasilkan karya-karya yang penuh dengan kebajikan tanpa terkendala oleh kungkungan dari fanatisme beragama.

Rasionalitas tak bertuhan itu bisa menjadi satu pijakan dimana seseorang bisa terlepas dari doktrin yang memaksa. Badruddin mengatakan dalam buku misteri pembunuhan Tan Malaka, Surga yang ada di dunia seberang adalah surge khayalan. Surga sebenarnya adalah dunia riil-material yang menjadi tempat hidup.

Rasa cinta akan manusia yang melahirkan Marxisme dan rasa cinta terhadap manusia, kemanusiaan, keinginan untuk menghancurkan kesengsaraan kaum proletar, serta keinginan melawan kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan, dan eksploitasi terhadap kaum proletar, itulah tepatnya yang menjadi sumber pemikiran Karl Marx yang memungkinkan Marxisme muncul. Rakyat yang kita lihat pada masa kini hanya diperlukan saat pemilu, bahkan dibeli dengan uang, tetapi mereka rakyat akan dicampakkan ketika mereka bersuara menuntut keadilan.

Sebagaimana pengertian filsafat yang ditulis oelh Bertrand Russel bahwa filsafat seharusnya dikaji bukan demi sebuah jawaban pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan, filsafat seharusnya dikaji karena pertanyaan-pertanyaan itu sendiri: karena pertanyaan-pertanyaan tersebut memperluas konsepsi kita tentang apa yang mungkin.

Orang-orang alim mati demi tuhan-tuhan mereka dan dibunuh karena tuhan-tuhan itu: dicambuk hingga berdarah-darah, bersumpah melakukan selibasi seumur hidup atau hidup sendiri, semuanya atas nama agama. Ribuan orang sengsara karena kesetiaan mereka pada sebuah agama, disiksa oleh orang-orang fanatic karena apa yang dalam banyak kasus merupakan suatu keyakinan yang tidak jauh berbeda.

Filsafat bukan sekadar adu pintar berteori. Justru kalau orang terlalu asyik bercakap-cakap dan saling menunjukkan kebolehannya mereproduksi teori filsafat. Epiktetos menyarankan agar orang yang ingin menjadi stoic sebaiknya diam dan tidak ikut-ikutan bercakap-cakap kosong. A. Setyo Wibowo menulis bila orang sungguh-sungguh hendak berfilsafat, dalam arti stoic, caranya bukan dengan banyak omong filsafat, melainkan dengan menunjukkan lewat perbuatan dan sikap hasil dari latihan yang ia lakukan selama ini.

Kalau Tuhan ada, maka kebebasan menjadi deterministic. Kebebasan kehilangan keautentikannya. Manusia sendirilah yang menentukan kebebasannya. Bukan perbedaan-perbedaan kita yang memecah belah kita, melainkan ketidakmampuan kita untuk mengenali, menerima, dan merayakan perbedaan-perbedaan itu.

Jika ternyata keimanan yang lainlah yang benar, maka sesungguhnya iman adalah perjudian dalam rangka mencari peraduan divinitas, dan masihlah kita berhak meminta cinta kasih Tuhan sekaligus pemakluman atas kebutaan dan ketulian kita dalam pertaruhan selama ini, demikianlah iman. Bagaimana kalau ternyata yang benar adalah keimananan yang lain, bukan yang kita yakini?

Kita membutuhkan pendidikan daripada agama, sebab Pendidikan bisa berfungsi sebagai sebuah alat yang mempermudah penyatuan generasi muda ke dalam logika dari system yang berjalan saat ini sekaligus membuat penyatuan itu menjadi sesuai. Pendidikan bisa juga menjadi “praktik kebebasan”, alat yang dipakai manusia untuk berurusan dengan realitas secara kritis dan kreatif dan menemukan cara bagaimana bisa ikut serta dalam pengubahan dunia.

Kita harus menghindari sikap tergesa-gesa dan prasangka dalam mengambil suatu keputusan, dan hanya menerima yang dihadirkan pada akal secara jelas dan tegas sehingga mustahil untuk disangsikan. Setiap persoalan yang diteliti dibagikan dalam sebanyak mungkin bagi sejauh yang diperlukan bagi pemecahan yang memadai. Mengatur sedemikian rupa dengan bertitik tolak dari objek yang sederhana sampai objek yang lebih kompleks. Atau dari pengertian yang sederhana, dan mutlak sampai pada pengertian yang nisbi. Maka daripada itu setiap permasalahan harus ditinjau secara universal atau menyeluruh, sehingga tidak ada yang dilalaikan.

Jadi dibutuhkan dua metode filsafat untuk mendapatkan cara radikal dalam mencari keadilan yaitu metode historis dan metodes sitematis. Metode historis merupakan jalan yang efektif dalam memahami produk filsafat seorang filsuf. Dengan pengenalan secara terlebih dahulu terhadap latar belakang maupun tipologi pemikirannya, pemahaman yang dicapai akan jauh dari kekeliruan. Sedangkan metode sistematis dilakukan dengan cara membandingkan atau mengedentifikasi karya filsafat. Metode ini berfungsi untuk mencapai hasil pemahaman yang optimal, tentu saja tanpa meremehkan fungsi metode-metode lainnya yaitu metode analisis dan kritis.

Harian Analisa, 14 Desember 2019

No responses yet