Rasionalitas Waktu
Menjadi tak beragama namun mempercayai satu keberadaan yang memiliki nilai hakiki yang paling tinggi adalah suatu hak kebebasan yang boleh dimiliki oleh siapapun, selama ia berada dalam satu negara demokratis, cinta kepada kemanusiaan adalah cinta kepada ketuhanan, karena berkumpulnya kebersamaan adalah cinta kepada setiap kekurangan.
Kecintaan terhadap kehidupan masa kini tanpa merasa terbebani akan surga dan neraka adalah salah satu etika humanisme yang wajib disyukuri bagi siapapun. Dalam dunia akademis, seseorang dibebaskan untuk berpikir apapun yang berselancar dalam imajinasinya itu tanpa harus terancam akan persoalan iman. Misalnya salah seorang tokoh sosial mengatakan : “Saya boleh dikatakan kafir, liberal, ateis, namun jangan sekali-kali katakan saya front pembela agama, karena saya adalah front pembela kemanusiaan yang rasional, tuhan sekali-kali tidak pernah mencelakakan makhluk ciptaannya dengan agama”. Karena toleransi bukan hanya untuk mereka yang beragama melainkan toleransi kepada mereka yang tak beragama. Sehingga sensasi ketuhanan itu tidak ditutup-tutupi oleh cover agama.
Mencintai ilmu pengetahuan berarti mencintai hidup kemajuan bagi peradaban, kita sebagai manusia di dalam suatu pertemuan bisa tukar tambah perspektif dalam berdiskusi tentang ide-ide serta gagasan, tetapi kita tidak dapat tukar tambah iman dalam soal toleransi. Yang menjadi membuat orang selama ini kejang-kejang karena agamanya dituduh radikal adalah orang yang tak memakai rasionalitas nya, ego diutamakan namun nalar tumpul, ia terlalu takut dan beranggapan surga itu sempit sehingga ia senang membuat telunjuk kepada mereka yang dituduh sesat. “Anda sesat, anda pasti masuk neraka, anda kafir”, ialah suatu tuduhan tanpa menunjuk dirinya sendiri, betapa keji dan sakit otak mikirnya kenapa di zaman seperti ini kekerasan masih dikonsumsi.
Agama yang paling benar di sisi Tuhan adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Tanpa merasa paling beriman dan dijamin masuk surga, memang adakalanya kesantunan itu harus sejajar dengan eksistensialisme. Berlaku keras namun tidak menciptakan kegaduhan, belajar mempelajari buku-buku kiri karena banyak para tokoh bangsa yang rajin mendalami pemikiran eksistensialis. Negara sudah selayaknya mempertajam pemikiran rasional yaitu dengan tidak memaksa agama itu turut adil dalam keputusan dan kebijakan. Tuhan telah menuntut manusia untuk bebas berpikir dan bijak dalam menyesuaikan diri terhadap kejutan akan perubahan.
Pada suatu titik sesuatu pasti berawal dari ketiadaan, novel Dunia Sophie karya JosteinGaarder berperan besar dalam memperluas sudut pandang manusia terhadap kehidupan. Kita tidak berpikir lagi tentang ibadah memperbanyak pahala melainkan ibadah yang mempertajam pikiran. Ibadah itu telah mengalami fase menuju ibadah intelektual. Ibadah intelektual adalah ibadah yang mengedepankan pemikiran daripada keyakinan agama tanpa memperjelek agama. Kita hidup bukan untuk mencaci maki agama namun untuk menuntun agama berpikir secara rasional. Kita bisa hidup dengan jutaan buku namun kita tidak bisa berdiri dengan satu kitab suci, artinya bahwa perpustakaan itu ialah tempat menuju surga pemikiran, manusia ingin bebas dengan memperbanyak bacaan yang ingin ia baca sebagai kebebasan individu bukan kepentingan individu, karena kepentingan individu merupakan kerakusan yang bertujuan memperkaya diri sendiri dengan memperbanyak harta, sementara kebebasan individu ialah suatu upaya mempertajam pikiran dengan memperbanyak bahan bacaan. Berpikir itu penting bahkan membaca buku berat itu kewajiban karena untuk menjadi sehat jasmani manusia harus sehat pengetahuan.
Ketakutan terhadap waktu harus dicegah dengan ketakutan terhadap karya, karena yang fana adalah waktu, sementara karya seseorang lah yang menentukan keabadian dimata pembaca. Dalam berkarya sering kali ditemukan kontroversi, dan ktroversi itu wajar-wajar saja, bila orang dengan cepat menuduh karya itu sesat itu pertanda bahwa yang menuduh tidak menggunakan pikiran sebagai analisis melainkan keyakinan beragama. Tidak ada yang salah dengan agama melainkan orang yang beragama selalu menyimpang dan memakai agama sebagai topeng politik
Waktu terus berjalan tanpa pernah menegur manusia sedetikpun untuk berhenti. Matahari terus beredar pada porosnya tanpa pernah lelah menerangi dan menghidupkan alam disekitar. Manusia berusaha terus menjadi yang terbaik, berjuang untuk memberi arti bahwa langkahkan semangat tanpa henti untuk terus berjuang sampai akhir dan jangan berhenti walau lelah terus menghantam tubuh. Selama masih bisa bernafas perjuangkan sesuatu yang memberi makna pada kehidupan. Ada banyak hal yang bisa disaksikan, mereka yang ada selagi butuh maupun mereka yang pergi setelah keinginan tercapai.
Kita tak bisa memastikan orang yang ada maunya ataupun orang pura-pura menjadi sahabat padahal ada maksud tertenu, namun inilah dunia yang menyadarkan kita bahwa memberi tanpa harus menuntut untuk dipuja. Dilihat dari segi manapun Manusia ingin dikenang, abadi sepanjang kenangan orang-orang yang ada disekitarnya, bukan disanjung-sanjung mendapatkan perhatian untuk suatu projects agar bisa berjalan , uang dan kekayaan tidak abadi melainkan karya seseorang lah yang bernilai menentukan panjang umur yang lahir dari kecerdasan pengabdiannya kepada bangsa. Kahlil Gibran mengatakan, “Kesenanganmu adalah kesedihan yang tersembunyi dan dalam diri yang sama dari mana tawamu bangkit adalah diri yang sering kali kaupenuhi dengan air mata,” semakin dalam kesedihan menggali lubang dalam wujudmu, semakin banyak kesenangan yang aman dapat kau tampung. Semasa kecil manusia belum berpikir oleh waktu, ia hanya bahagia dengan hidup yang tengah ia jalani, berlari kesana-kemari melepas canda tawa bersama teman-teman, namun setelah mencapai umur puluhan tahun manusia merasa kehilangan, merasa takut terhadap waktu dan berusaha menuju keabadian.
Sebagai suntikan inspirasi manusia Jangan cepat mengambil keputusan untuk putus asa, dan jangan cepat memutuskan kapan ia berakhir, umur manusia bukan seperti baterai handphone yang memiliki batas akan berakhir, manusia harus menghindari pemikiran sakit terhadap waktu. karena yang dibutuhkan adalah pemberontakan secara rasionalitas bahwa selama masih bernafas pantang berpikir untuk berakhir.
http://harian.analisadaily.com/mobile/opini/news/rasionalitas-waktu/500648/2018/02/07