Abdi Mulia Lubis
4 min readSep 10, 2018

Semangat Intelektual Berideologi Kiri

Tidak semua buku dapat dibaca, tapi jikalau kita mau ambil satu akar filosofis yang mampu meng­gairahkan semangat intelektual dalam berpikir maka buku-buku terbitan dari pe­nerbit Re­sist Book Yogya adalah kun­cinya.

Saya tak ingin cepat-cepat mem­beri ke­putusan tanpa per­timba­ngan yang ma­tang karena sepenga­laman saya yang tak ber­mak­sud me­ninggi te­lah membaca ratusan buku kira­nya pen­ting untuk berbagi pe­nga­la­man mem­baca buku-buku berat nan sejuk untuk ge­nerasi mille­nial masa kini.

Yang kiri yang memberi jalan te­ngah dalam menuju pembebasan. Kita harus sepakat dalam menen­tu­kan jalur sikap anti kapitalisme me­nuju kese­ta­raan tanpa harus cepat-ce­­pat meng­ha­ramkan membaca bu­ku, ka­rena tak ada satupun dalil yang me­ngatakan bah­wa membaca buku itu ha­ram. Se­makin buku itu di­­­­bredel dan se­makin buku itu di­bakar maka akan se­makin besar pe­ngaruh­nya bagi per­tumbuhan pe­mi­kiran. Akal kita harus dipupuk de­­ngan buku-buku kiri, jiwa kita ha­rus me­merah se­­bagai­mana sela­yak­­nya darah yang ber­warna merah ka­rena kita percaya bah­wa setiap war­­na me­mi­liki makna filo­sofis nya ma­­sing-ma­sing. Mem­ba­ca adalah kunci dan membaca ada­lah seni pem­be­ba­san.

Haruki Murakami mengatakan “Ka­lau engkau hanya membaca buku yang dibaca semua orang, engkau ha­nya bisa berpikir sama seperti semua orang.

”Generasi kita telah banyak di­hantui bacaan yang mengu­ras air mata, puitis namun bertujuan mele­mah­kan mental. Membaca itu pen­­ting namun jikalau hanya mem­baca apa yang tengah viral dan terpa­tok ke­pada cover buku yang cantik maka hilanglah semangat jiwa revolusi.

Dalam pemikiran saya bahwa se­makin buku itu dikecam untuk di dis­kusikan maka semakin besar man­fa­atnya bagi mencerdaskan kehidupan bang­sa. Mencerdaskan kehidupan bang­­­sa adalah tiang bernegara dan men­cerdaskan kehidupan beragama ada­lah kunci untuk menghentikan pe­perangan kebencian. Agama mayori­tas tak selamanya menjadi patokan, to­­leransi harus digencar tanpa pan­dang siapa yang paling banyak me­lain­kan bagaimana menjadi rukun da­lam perbedaan.

Pasal penodaan agama harus di­re­visi bahkan bila perlu wajib di­ha­pus­kan. Jika Tan Malaka masih hi­dup dan kita pertimbangkan bagai­mana buku Madilog sebagai kitab suci ke­bangsaan sebagai dalil re­volusi maka takkan ada yang na­ma­nya pe­nodaan agama dalam ber­ne­gara.

Ma­jelis Pe­mikiran Kiri harus dibentuk dan ne­gara harus mensubsidi para pemikir da­lam mengupayakan solusi meng­ha­dapi ketimpangan di negara ini ke­pada pejuang kema­nusiaan bu­kan ke­pa­da pemuka agama. Pemu­ka agama hanya fokus kepada satu kitab suci se­mentara pemikir Marxis melahap se­mua buku yang ada.

Kita berharap kepada Martin Suryajaya, Ronny Agustinus, Kam­pung Buku Jogja dan website in­do­progres.com sebagai pemuka in­telektual berideologi kiri dalam meng­gerakkan saran buku-buku bagus demi tercapainya gagasan serta pencerahan.

Apa yang terjadi saat ini dalam kam­panye adalah banyaknya para to­koh yang pergi ke kota suci lalu berfoto ke­pada seorang tokoh pemu­ka agama yang sudah lama tak pu­lang ke tanah air, berfoto di tanah suci se­bagai lam­bang bahwa tokoh ter­­sebut pro agama. Kita tak ingin tanah yang begitu suci di­jadikan kam­panye bahwa dengan ber­foto de­ngan salah satu tokoh pro pem­bela agama maka pencitraan mening­kat naik lebih tajam. Seakan-akan kam­­pa­nye terse­but sangat mainstream tapi tumpul ide, tidak ada ide mau­pun inspirasi yang bisa diserap sebab rakyat sangat membutuhkan rang­sangan revolusi.

Kota tak akan men­jadi suci bila didalamnya berisi orang-orang yang berlindung di balik kam­panye politik identitas.

Dalam pemikiran Aksin Wijaya penu­lis buku Dari Membela Tuhan ke Mem­bela Manusia ia menulis: “Aga­ma hadir untuk membela manusia, bukan untuk menghancurkan manu­sia.

Hi­dup harmonis dan damai di an­tara umat beragama menjadi cita-cita mulia agama itu sendiri.” Hanya dalam keberagaman kita mengenal per­satuan dan hanya dalam kebe­bas­an berpikir dan terbuka terhadap se­tiap perbedaan maka kerukunan akan ter­jaga. Bila masing-masing para pe­muka ber­sikeras terhadap satu teo­logi dan me­nyuarakan kebencian ha­nya karena ber­sikukuh bahwa “ha­nya bo­leh ada satu ada” maka disi­tu­lah ber­mula lahir doktrin radikal ber­ujung ter­orisme. Para atlet be­rupaya me­mak­simalkan untuk menyumbang emas sementara para pemuka sibuk me­nyua­rakan ke­rusuhan. Kita terlalu mu­dah naik ten­si tersinggung dalam per­bedaan dan itu tidaklah baik. Kita saat ini hi­dup di era dimana produksi dan penyebaran kebencian, fitnah, dan adu domba berlangsung setiap saat de­ngan kecepatan melebihi kece­pat­an cahaya.

Kita seharusnya berpikir progresif, ber­pikir progresif artinya meng­upa­ya­kan agar tidak terlalu fanatik me­muja-muja agama maupun nabi. Nabi ha­rus dilampaui, layaknya adalah se­orang pembalap untuk menjadi ter­depan ia harus berusaha bersaing de­ngan salah satu pembalap yang ia ka­gumi sebagai inspirasi. Dari sinilah kita terinspirasi untuk mengubah pen­didikan agama menjadi pendidikan so­sialisme. Beragama tanpa nyinyir, beragama tanpa kebencian, sebagai­mana yang dikatakan Bertrand Russell dalam judul bukunya “Bertu­han Tanpa Agama” sebab dari situlah kita ber­cermin untuk tetap belajar tanpa henti dan tidak merasa puas apa­lagi suci de­ngan suatu pen­ca­paian.

Kita membutuhkan perspektif yang lebih beragam bukan harus terpatok pada riwayat untuk merasa paling be­nar. Setiap manusia memiliki ke­bai­kan masing-masing di dalam dirinya tan­pa harus dipaksakan untuk nurut asal mau.

Koran Harian Analisa, Senin, 10 September 2018.

No responses yet