Abdi Mulia Lubis
4 min readJul 14, 2019

Semiotika Badai

Segala sesuatu bisa dibahasakan dengan bahasa simbol, namun kapasitas penalaran manusia dalam menyiratkan satu kejadian peristiwa ke dalam satu tanda tidak hanya bisa diandalkan pada kemampuan retorika saja. Daya tangkap publik dalam merangkum satu peristiwa menjadi satu pemaknaan konkrit itu membutuhkan proses yang tidak hanya berdasarkan pada satu sumber saja.

Beragam tafsir dibutuhkan sebagai pegangan untuk menyingkap suatu tabir kebenaran agar yang dimaksimalkan di era digital ini bukan hanya soal kecepatan saja melainkan kebijakan yang mampu merangkul keseluruhan masyarakat sehingga tidak ada yang tersingkirkan dari satu keuntungan.

Kita tak bisa berpangku pada satu sumber yang dibicarakan terus menerus, berharap pada TV One sebagai media panutan adalah kekeliruan yang harus dipertimbangkan sebab bacaan kritis lebih afdol ketimbang dunia virtual yang penuh dengan sensasi retorika. Apa gunanya ribuan buku di perpustakaan bila buku itu tak pernah dibaca? atau sudah berapa buku yang sudah kita baca dalam setahun belakangan ini? Atau sudah berapa buku kita baca dalam perbulan? Adakah kita membaca koran dan menyentuhnya dalam setahun terakhir atau sebulan belakangan ini? Pertanyaan itu menunjukkan bahwa apa yang kita butuhkan sebagai kebutuhan informasi tidak saja hanya berpangku kepada pembicaraan saja.

Misalnya banyak generasi millenial kita saat ini mengharapkan Rocky Gerung sebagai pembicara utama yang diidamkan dan bersikukuh untuk meminta ILC tayang setiap minggunya agar pikirannya tidak kosong, adalah satu tanda bahwa seseorang tidak memanfaatkan pemikirannya dalam menalar. Ini seperti mencaci pikiran sendiri dengan tidak memakai otaknya dalam berpikir dan hanya berharap kan oleh pemikiran orang lain sebagai sumber utama informasi.

Dungu yang terlihat dengan asal-asalan sebab mendungukan orang lain adalah juga kedunguan yang terstruktur sistematis sebab ia dirancang oleh permainan kata yang terlihat lebay penuh sensasi. Kalau kita lihat ada bayangan salim said dalam kesadaran Rocky Gerung telah mendapatkan Ilham pengetahuan yang diwariskan Said dalam hal pembicaraan dan kata-kata.

Dan Karni Ilyas diam-diam mampu menempatkan skenario yaitu diisinya Salim Said dan Rocky Gerung sebagai pembicara untuk mematahkan dalil seluruh pembicara ILC yang hadir pada satu sesi tersebut, dan perlahan publik sudah melihat dengan sadar apa yang dipikirkan Karni Ilyas sebagai Pemred TV One.

Seseorang bila merasa mampu untuk berpikir tunggal tanpa mengharapkan hanya satu tokoh seperti Rocky Gerung maka ia dapat bersikap mandiri dan bijak untuk tidak terjebak pada hoax berbalut retorika semata. Kita mungkin tertarik pada pemikiran Rocky mengenai feminis, evolusi darwin, filsafat, agnostik dan perihal agama lainnya.

Namun akan menyalah bila kita terjebak untuk menyukai sepenuhnya apa yang Rocky Gerung utarakan mengenai politik. Ia ahli dalam memelintir kata tetapi tidak bijak sebagai pengamat politik. Ini seperti menempatkan diri sebagai oposisi sambil diam-diam menikmati kekuasaan lama seraya menjadi hamba orba pemuja partai cikeas yang kebiru-biruan.

Bayangkan bila Rocky Gerung cuti di ILC dan aktif di kampus untuk ngajar filsafat dan menyusun mata kuliah akal sehat dan turut serta berperan aktif memberi masukan untuk pendidikan di indonesia. Maka tidak akan ada cacian dungu serta kehebohan IQ 200 sekolam di akun Twitter nya. Rocky Gerung itu disatu sisi bagus dalam memberikan mata kuliah tetapi akan menjadi hambar bila berbicara perihal politik karena banyak mendungukan daripada membangun solusi.

Saya memperhatikan dan melihat rekam jejak kuliah filsafatnya Rocky Gerung, dan apakah dengan kekaguman itu justru membuat saya menyerahkan segala pikiran kepadanya? Tentu tidak. Yang saya fokuskan adalah bagaimana bisa berpikir tanpa harus menunggu pemikiran orang lain. Semiotiknya memang begitu rumit namun kita harus dibiasakan berpikir berat agar tidak terjebak pada nyanyian wak labu di tepi pantai.

Ini memang membutuhkan kebiasaan agar pikiran terasah saya prediksi dengan melihat beragam kemungkinan bahwa bisa jadi Rocky Gerung tengah mempertimbangkan satu sikap untuk menjadi mualaf demi mendapatkan fans fanutan yang banyak dari kaum minoritas.

Yang terjadi bila hal itu terlaksana maka akan terjadi pemurtadan intelektual beralihnya idelogi feminisme liberal menjadi khilafah garis keras. Dan inilah badai ideologi yang akan terjadi kedepannya. Kita takut ideologi Pancasila rusak hanya karena hal sepele yang dianggap biasa saja padahal sudah menjamur dalil kecaman agama yang mengkafirkan dan menimbulkan kecemasan yang berat di mata publik.

Kalau kita lihat semiotiknya ini seperti meminta pemerintah untuk bersikap toleransi untuk memulangkan Rizieq Shihab, padahal oposisi memiliki skenario bersikap intoleransi dengan menghadirkan kebencian publik kita dengan memulangkan pemuka agama yang suka menebarkan kebencian. Rekonsiliasi yang tak masuk akal ini sebaiknya tidak terus digencarkan karena akan menimbulkan makar apabila Rizieq kembali ke tanah air.

Kita membutuhkan rekonsiliasi kebijakan bukan dengan menghadirkan bibit hoax ke tanah air kita. Dan badai itu kiranya sudah terlihat di depan mata hanya saja kekaburan perspektif akibat retorika TV one itu terus terjadi sehingga membuat kebimbangan massa untuk bersikap menggebu grasak-grusuk tak jelas arah ideologinya.

Harian Analisa 12 Juli 2019.

No responses yet