Tetaplah Menjadi Seadanya
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengenang kepergian bukan sebagai penyesalan melainkan kesedihan yang memiliki sisi terindah, mengapa dulu yang telah terlewati masih ada diwaktu saat ini, dan kenapa banyak diantara kita suka mendengar lagu sedih ketimbang lagu yang membuat goyang-goyang. mungkin dirimu tak ingin seperti itu, dikatakan sulit melaju atau bangkit menemukan keceriaan.
Disaat hari-hari yang penuh cahaya datang menyinari, teman disekitar ada menikmati keceriaan sedangkan diri masih tetap menikmati pedihnya kegelapan. Ini adalah sisi yang banyak dimiliki seorang wanita, namun pria harus memahami tak seharusnya bangga diatas penderitaan huru-hara. Lalu timbullah suatu pertanyaan, Apakah suatu kebetulan saja semua ini terjadi ? atau haruskah semua kepedihan terencana dengan selogisnya sehingga tak ada lagi luka diantara waktu? Hal yang terberat adalah ketika dirimu tak kuasa terus menghitung apa yang belum tersampaikan, keinginan dan kemewahan apalagi yang belum terujud, karena seindah apapun perasaan keinginan itu selalu ada prinsip matematika yang rumit didalamnya, jika cepat-cepat menyerah timbullah sikap acuh seperti, “entahlah atau bantelah” seseorang hanya melihat seadanya dan tak mungkin menafsir aegalanya.
Seorang filsuf pernah berkata kau tak bisa menjadi dirimu karena ada sesuatu yang telah mengubah prinsipmu, nafsu yang terlampau melampaui nurani, sehingga keyakinan terbelah pada harapan ingin disayang namun tak pernah mengerti. Perasaan memang serba salah, kau ingin meraih segalanya namun tak bisa menetapkan satu hati. Kesetiaanmu tertahan dikarenakan dunia memiliki aneka ragam di dalamnya sehingga sedikit demi sedikit mudah menyukai hal baru dan melupakan impian yang telah lama. Anggaplah dunia sementara, namun nafsu di dalam diri ingin selamanya. Cintamu pada keluarga adalah akhir dari segala harapan, kebimbangan menjadi semu seakan ada saja yang memanggil. Ya, pertanyaan itu memanggil-manggilmu dan kau tak tahu harus berbuat apa.
Maafkan segala waktu, maafkan satu detik yang terasa berat untuk diikhlaskan.
Dunia ini adalah tempat dimana manusia saling mengejar, tak ada yang lebih penting dikejar selain mencukupi kebutuhan hidup, ketika kebutuhan hidup telah terpenuhi, maka timbullah keinginan nafsu, mungkin tak sepenuhnya kita miliki, namun orang disekitar, orang terdekat, ia memiliki keinginan yang harus terpenuhi dan kita bimbang sulit menolak untuk mewujudkan. Ya, namanya keinginannya juga kewajiban kita untuk memenuhi.
Berjalanlah diatas keraguanmu hingga kau tak menyadari bahwa keraguan itu tak ada. Kita sering mengeluh, lupa akan apa yang telah kita miliki, larut pada kesedihan yang tak mampu kita atasi sehingga bukan hanya setan yang merasuki pikiran kotor melainkan ketakutan dan kecemasan.
Jalan yang panjang terasa cepat untuk dilalui, sedangkan jalan yang pendek terasa sulit untuk direlakan. Kesiapan kita tidak sekuat mental para pendahulu, kita terkungkung pada meningkatnya harga-harga yang tak harus disalahkan melainkan memang sudah menjadi koderatnya suatu barang yang harganya terus meningkat. Rasa sesal takkala melihat perjuangan berjam-jam dibayar dengan murah. Sehingga kadangkala timbullah keinginan untuk mencari kerja apapun asal mendapat pemasukan yang tinggi. Mungkin dari ucapan kita tak bisa mengatakan kesembarang orang bahwa kita telah melakukan banyak keburukan, bahkan kepada keluarga terdekatpun harus tertutupi karena biarlah diri sendiri yang menanggung dosa besar ketimbang bersalah tak mampu memberi nafkah.
Bagaimana dirimu merencanakan sesuatu yang telah menjadi takdirnya ?
Ini adalah pertanyaan yang tak seharusnya diutarakan namun sudah menjadi idealisme manusia untuk mencari penyebab sesuatu walau tak sepenuhnya mampu ditemukan akar permasalahannya. Bicara perihal ketetapan Tuhan dan kehendak manusia yang diatas logika adalah bicara mengenai waktu. Kita tak pernah puas dengan yang ada dan merasa selalu kekurangan, bagi lelaki maka wanita adalah pelampiasan yang utuh. Lelaki berpikir siapakah yang lebih dulu pergi dirinya atau pasangannya, akan timbul pertimbangan ketika sang lelaki merasa kasihan pasangannya hidup sepi tanpa dirinya, atau sang lelaki yang lebih lama pergi dan meratapi hidup sepi.
Kita tak sampai berpikiran seperti itu, namun pertanyaan itu pastinya terlintas walau tanpa sadar untuk bisa dialihkan. Dari sinilah kita akan menemukan kesadaran betapa pentingnya filsafat. Filsafat, rumit diperdalami namun indah takkala memahami. Saat tua sering merenung dan berpikir, takkala muda sibuk bersenang-senang puaskan nafsu selagi bisa.
Dalam satu hari ada 24 jam, namun diantara 24 jam itu ada satu waktu yang sangat berarti bagi seseorang dan sulit untuk dilepas yaitu waktu pada senja. Senja hanya ada beberapa puluh menit namun kehadiran senja sangat berarti bagi kita. Senja Ditepi pantai menjadi lebih menginspirasi bukan sekedar merenung nasib, melainkan memantik kesadaran diluar keinginan.
Di dalam diri manusia ada rasa sakit yang tak seharusnya diumbar-umbarkan. kita tak ingin berpura-pura hanya untuk dimengerti, atau kita tak ingin dikasihani hanya karena tidak kuasa, jangan sampai orang lain kasihan dan yang kita tunjukkan adalah berjuang mati-matian bukan sampai bisa namun sampai kita tak sadar ada rasa sakit di dalam diri.
Memang benar apa yang dikatakan HarukiMurakami : “aku bukan manusia, aku adalah mesin, mesin tak punya rasa sakit dan tak mudah mengeluh. Kita sebagai manusia memang membutuhkan mental yang kuat bukan sekedar motivasi sahabat yang super. Karena dimanapun prinsip berdikari itu selalu ada jangan sampai terlupa.
Lebih baik pura-pura tegar daripada menunjukkan satu kelemahan agar dikasihani. Jangan sampai kita dianggap pengemis kasih sayang, kalau dikota metropolitan kita banyak melihat pengemis yang pura-pura putus kakinya demi mengharap belas kasih, maka janganlah kita menunjukkan kesedihan kita didepan orang banyak, karena ada baiknya kita sendiri yang menikmati penderitaan itu ketimbang membuat hidup orang makin susah.
Tulisan ini pertama kali dimuat koran Harian Analisa :
http://harian.analisadaily.com/mobile/opini/news/tetaplah-menjadi-seadanya/513530/2018/03/01