Tiga Menguak Keberadaan
Hidup yang tak direncanakan, seseorang yang lahir ke dunia tanpa pernah berunding maupun negosiasi kepada Tuhan kenapa harus dia yang lahir diantara yang lainnya ? Diantara kebimbangan akan makna hidup yang serba absurd ini, manusia mau tak mau bergegas cepat tanpa harus menimbang lagi namun jika ia tak mempertimbangkan kehidupan yang tengah ia jalani maka hampalah keberadaannya, seakan ia berjalan mengikuti arus tanpa sadar apa yang membawanya bergerak. Problem dan galau yang berkepanjangan yang dimiliki para filsuf dari ribuan tahun hingga sampai saat ini ialah pada umumnya sama, yaitu apakah tuhan itu ada atau tidak ? Tak ada satupun yang bisa memastikan, namun dari beragam penalaran dan penjelasan rumit yang digagas para filsuf terdahulu akan memperkaya pengetahuan manusia.
Di dalam buku ini ditulis tiga biografi singkat filsuf yang tujuannya Menguak tabir pemikiran Filsafat Rasionalisme dan Empirisme. Filsafat telah jauh ada semenjak masa Yunani kuno. Dari zaman Socrates dan murid-muridnya hingga masa sekarang ini, filsafat juga masih terus berkembang. Dari beberapa zaman filsafat, salah satu zaman yang mengubah pemikiran filsafat adalah zaman filsafat modern.
Aliran rasionalisme yang diusung Descartes bertitik tumpu pada rasio (akal budi) manusia sebagai sumber pengetahuan. Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.
Descartes membersihkan pikiran dari segala macam prasangka, asumsi, nilai-nilai, dan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki manusia namun belum teruji kebenarannya, adalah sebuah cara dalam melakukan keraguan metodis.
Menurut Descartes, semua itu sangat penting terlebih dahulu dibersihkan agar jangan menjadi penghambat untuk mencapai kebenaran yang pasti. Di dalam kehidupan, misalnya, sesuatu yang sebelumnya diyakini atau dianggap benar, ternyata dalam perkembangannya setelah kita semakin dewasa dan mampu berpikir rasional, semua tidak sepenuhnya benar, ternyata dalam perkembangannya setelah kita semakin dewasa dan mampu berpikir rasional, semua tidak sepenuhnya benar. (hlm 42) Pemikiran lah yang tak dapat diragukannya, sebab jika ia meragukan, maka ia akan berpikir; jika ia berpikir berarti menunjukkan bahwa dirinya ada.
Sementara Spinoza, baginya di dalam dunia tidak ada hal yang bersifat rahasia, karena akal atau rasio manusia telah mencakup segala sesuatu, juga tuhan. Diantara para filsuf rasionalisme, Spinoza bisa disebut pemikir rasionalis paling tajam dan konsekuen. Seperti filsuf sezamannya, Spinoza bermaksud mengonstruksi sebuah metafisika dan etika moregeometrico, secara geometris dengan kepastian Apriori yang mutlak, bebas dari segala unsur empiris maupun kebetulan. Dari situ, ia ingin mengembangkan sebuah prinsip. Prinsip itu adalah kesatuan atau identitas segala-galanya. Oleh sebab itulah, filsafat Spinoza merupakan filsafat identitas.
Kebaikan tertinggi bagi pikiran adalah pengetahuan tentang Tuhan, dan kebenaran tertinggi bagi pikiran adalah mengetahui Tuhan. Sejauh pikiran memahami sesuatu dengan petunjuk akal, maka pikiran sama-sama dipengaruhi oleh idde tentang sesuatu masa kini, masa lalu, atau masa depan. Yang paling mengerikan dalam hidup ini adalah kenyataan akan adanya hukuman mati atas orang-orang yang berpikir bebas.
Deisme adalah suatu aliran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi, setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab, dia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke
Deisme adalah suatu aliran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi, setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab, dia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Tuhan dengan hidup sesuai dengan hukum-hukumnya akalnya.
Deisme dapat juga diartikan sebagai ajaran yang menganggap dunia ini diciptakan secara mekanistik, yaitu memiliki sistem yang teratur seperti mesin. Hubungan sebab-akibat atau kausalitas sangat dibutuhkan dalam hal ini. (hlm 102). Atas dasar ini, aliran Empirisme menjelaskan bagaimana subjek memperoleh pengalaman dan pengalaman akan mengajarkan sesuatu yang ditangkap sebagai objek. Aliran Empirisme adalah aliran filsafat yang bersumber dari pengalaman. Pengalaman di sini dapat disebut dengan pengamatan subjek tentang objek yang ada.
Pengalaman yang mengajarkan manusia sebagai subjek membutuhkan objek untuk diamati. Dalam buku ini, empirisme yang dianut oleh Berkeley menjelaskan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dengan mengamati objek yang disebut teori pengenalan.
Peresensi : Abdi Mulia Lubis, peminat Filsafat berdomisili di Rantauprapat
Judul : Descartes, Spinoza&Berkeley
Penulis : Aquido Adri & Syaiful Hadi
Penerbit : Sociality (Anak Hebat Indonesia)
Cetakan : Cetakan Pertama, Desember 2017
Tebal : viii + 144 halaman
ISBN : 978-602-5469-73-2
http://harian.analisadaily.com/mobile/resensi-buku/news/tiga-menguak-keberadaan/521207/2018/03/14