Abdi Mulia Lubis
4 min readOct 11, 2019

Tuhan Tidak Pernah Mendendam

Penelitian manusia telah membuktikan bahwa semakin rumit sebuah struktur makhluk hidup semakin sempurna keteraturan yang ada di dalamnya. Berpikir memberikan jalan baru seperti cahaya yang menerangi kegelapan. Seseorang harus mampu melihat dengan cara berpikir secara kritis bukan melihat dengan sembarang rasa sensasi yang ia punya.

Sikap alami rasa ingin tahu adalah sekali dia tumbuh, dia akan terus berkembang dan berkembang semakin kuat. Bagi mereka yang mengabdikan hidup untuk keingintahuan teoritis dapat merasakan bahwa mereka telah menjadi bagian dari aktifitas yang sangat luar biasa dan selalu bergerak maju.

Aristoteles akhirnya (dengan berat hati) memutuskan bahwa kehidupan terbaik dan sempurna adalah kehidupan teoritis, dimana kita dapat mengkontemplasikan apa yang kita pelajari dalam kehidupan ini.

Seandainya kehidupan ini memang diterima sebagai sebuah pelajaran persiapan untuk menghadapi kehidupan yang lain, segala hal yang dialami dan setiap kesulitan yang dihadapi tentu memiliki pengaruh terhadap diri manusia. Hidup kita ini mesti punya tujuan bukan berarti tujuan tersebut terdapat dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu, namun terdapat dalam jalan hidup yang dipilih.

Manusia dimana pun sangat risau dengan apa yang akan terjadi pada diri mereka setelah meninggal, kerisauan ini kemudian dipergunakan sebagai pertimbangan dalam menjalani kehidupan sekarang.

Tuhan tidak akan pernah dendam dengan kesalahan kita, karena dia maha pengampun, namun masalahnya kita masih dihantui oleh pertanyaan, lalu untuk apa saya disini? Untuk menjalankan perintah Tuhan? Tuhan dianggap sebagai pengatur segala sesuatu, dia telah menentukan hal-hal tertentu atas diri kita dalam bentuk anugerah atau bakat, meskipun dalam bentuk yang paling kecil. Apakah dengan begitu kita lantas membayar dengan hasil yang kita haturkan kepadanya? Apakah Tuhan memberikan kita semacam modal usaha, karena kelemahan dan kesalahan kita? Apakah sang maha pengatur tahu bahwa kita ini terkadang sangat kekanakan, tidak pantas dan lupa diri? Apakah Tuhan dapat menerima kita apa adanya?

Apa gunanya agama kalau tidak untuk kepentingan demi meraih kekuasaan semata? Orang-orang berlomba menjadi alim hanya karena ingin dilihat orang menjadi panutan, padahal berpura-pura menjadi orang baik adalah merupakan sifat terbejat dari seorang pemuka agama. Mulai sekarang marilah kita mengukur kesalehan orang hanya dari caranya memperlakukan orang lain. Bukan dari seberapa rajin dia menjilat Tuhannya.

Sekarang sudah bukan zamannya orang percaya Agama, sekarang zamannnya orang percaya diri. Kalau sudah percaya diri, bakal mudah dipercayai orang lain. Kalau sudah dipercayai orang lain, tunggu apa lagi, buatlah agama baru!

DPR harusnya bersyukur mahasiswa dan masyarakat luas cuma berunjuk rasa soal RUU. Sebab, kalau boleh jujur, yang harusnya didemonstrasikan adalah tuntutan pembubaran DPR, karena tidak ada faedah, malah menimbulkan banyak mudarat.

Kita tidak bisa mengabaikan hidup ini, tapi bisakah kita membuat pilihan? Kita pernah meninggalkan hidup lain sebelum sampai ke kehidupan saat ini, namun arti penting dari rangkaian kehidupan semacam ini harus dicari dalam tingkatan eksistensi yang berbeda-beda bahwa hakikat kehidupan yang kita jalani saat ini mensyaratkan adanya kehidupan lain yang akan menjelaskan kehidupan sekarang.

Ada beberapa kebenaran umum tentang diri kita dan dunia yang harus kita terima. Sejumlah pendapat tentang makna kehidupan yang sering dibicarakan terbantahkan dengan membuktikan bahwa pendapat tersebut didasarkan pada pendirian yang salah tentang siapa, apa, diri kita sebenarnya.

Seperti halnya kewajiban untuk berbuat baik, melayani orang lain juga harus dilakukan secara selektif. Kita seringkali dihadapkan pada pandangan yang mengatakan bahwa apa yang membuat hidup ini bermakna adalah murah hati, saling memahami dan memaafkan, memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan dan mau meluangkan sedikit waktu untuk menghibur orang lain yang sedang bersedih atau ikut serta menikmati suka cita orang yang sedang bergembira.

Teka-teki filosofi bisa terjawab dengan cara mencoba menjelaskan hubungan logis antara sekian banyak pernyataan dan pertanyaan yang berbeda-beda, lalu menyusunnya sedemikan rupa sehingga dapat dilihat dimana letak kesamaan dan perbedaan semua itu dan menganalisa bagaimana pernyataan dan pertanyaan tersebut diekspresikan dan diterapkan dan diterapkan dalam konteks yang berbeda pula.

Satu-satunya kewajiban kita kepada Tuhan adalah menegaskan bahwa dia ada sejauh kita meyakininya demikian. Apapun yang kita ketahui tentang Tuhan belum tentu menyebabkan kita mau melakukan atau tidak melakukan satu tindakan.

Jika konsep tentang Tuhan diartikan sebagai sebab pertama efisien atau final dan satu hipotesa diterima sebagai penjelasan tentang dunia, kita harus mengkonstruk karakter dan sifat Tuhan berdasarkan dunia yang kita alami. Kita tidak akan bisa melangkah lebih jauh dari apa yang diberikan bukti-bukti yang tersedia. Apakah dunia ini terlihat seperti sempurna di mata kita berdasarkan pengalaman dan pengamatan atau tidak, kita harus berhasil menemukan kesempurnaan yang sama dari diri Tuhan.

Jika dunia yang kita alami terlihat tidak atau kurang sempurna, maka kita tidak akan dapat melakukan hal tersebut.

Harian Analisa, 10 Oktober 2019

No responses yet