Upgrade Perspektif
Apa yang kita butuhkan saat ini dikala maraknya beragam informasi adalah tajamnya suatu pikiran dalam menganalisis bahkan mengkaji suatu pendapat yang ada di sosial media. Memang internet kita pada masa kini mengalami keriuhan yang tak terhingga. Orang-orang pada berlomba untuk menunjukkan tanggapannya melalui keyakinannya bukan pada berdasarkan kebenaran fakta yang ada. Sedikitnya membaca surplus akan kemauan semata menyebabkan banjirnya opini yang sembarangan.
Ketika pikiran tak mampu menghasilkan kejelasan maka yang terjadi adalah orang berlomba-lomba menunjukkan perasaan paling hebatnya. Para pakar yang memiliki jalur ilmu masing-masing seakan telah kehilangan jati dirinya disebabkan para netizen sesuka hatinya saja bersuara tanpa mempedulikan keseimbangan. Semua ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya seseorang untuk mengisi kepalanya daripada memendam banyak ego di dalam dadanya.
Sosial media disesalkan dengan kebebasan berekspresi berlebih, yang banyak orang bahwa dikala satu berita yang di share ke Facebook bisa menghasilkan ribuan komentar dari para netizen. Nyinyir tanpa makna mengoceh tanpa henti adalah kedunguan yang disengaja dan dianggap sebagai hal lumrah sehingga siapapun bisa tulis status menurut pendapatnya sendiri.
Berpendapat itu boleh tapi kalau sembarang berpendapat tanpa dasar ilmu yang ada maka akan menjadi hal buruk bagi demokrasi. Suara banyak tapi tanpa isi pikiran, dan demokrasi adalah memang tempat yang paling banyak ocehannya daripada analisisnya.
Kombur malotup yang tak menentu dari omongan tanpa isi, bongak Wak labu yang menjamur hingga maraknya pendapat yang asal memakai dalil agama. Kiranya bangsa kita memang sangat membutuhkan bacaan kritis secara total buka status Facebook yang sembarang tulis serta maraknya game online yang berlebih.
Yang terjadi kita lebih sering peduli terhadap aplikasi android yang ada di gadget. Kita selalu mencek dan melihat apabila ada aplikasi yang minta di upgrade maka secepatnya harus di upgrade. Pada hal pikiran adalah hal utama yang harus di upgrade. Perspektif harus tumbuh serta banyak menghasilkan gagasan baru.
Di dalam kuasa pemikiran maka lahirlah pengendalian diri, seseorang mampu menjadi lebih stabil dalam menyikapi maraknya hoax di negeri ini. Sosial media tak lagi tempat ajang pembuktian siapa paling hebat, melainkan tunjukkan etika serta memperbaiki diri dengan. Berilmu maka derajat seseorang tunggu di depan manusia dan publik. Yaitu hadirnya kesadaran langsung pada diri seseorang untuk terlalu terpengaruh pada hoax serta ujaran kebencian.
Pancasila harus ditegakkan dan elok cekcok mengenai agama harus disingkirkan. Tidak untuk idealis menunjukkan kesalehan melainkan mengutamakan kebersamaan itu sendiri. Sebagai persatuan dalam menerima yang lain. Menghentikan untuk manfaatkan waktu sebaik mungkin agar jangan sampai terjerumus pada perdebatan yang tak menghasilkan kebaikan. Disebabkan fanatik Arya memiliki pegangan yang tak ada kebenarannya. Manusia memang membutuhkan peganan tetapi sering sekali pegangan yang dimiliki itu jika diyakini secara terus menerus akan memperburuk perspektif seseorang.
Pikiran ditinggal sementara ilusi diperkuat sementara inspirasi sulit digapai. Maka diantara kita harus mampu terbuka pada perbedaan sehingga melahirkan inspirasi yang menuntun rasa itu pada idealisme yang luhur. Membaca buku jarang sementara membaca status di sosmed sering dilakukan, itulah yang akan berdampak pada perspektif monoton yaitu perspektif yang tanpa adanya kekuatan untuk menjalin kehidupan yang selaras dengan alam.
Marilah kita dengan setiap harinya mampu mengubah pola pandang yang setidaknya setiap hari mampu menghasilkan ide serta inspirasi yang baru demi tercapainya kehidupan yang penuh warna, sebab dengan mengubah perspektif maka kebahagiaan serta kenikmatan hidup akan digapai dengan lebih.
Harian Analisa, 16 Mei 2019.