Yang Berlari dan Menulis Mengejar Makna

Abdi Mulia Lubis
3 min readJun 21, 2016

--

Rasa Sakit Itu Tak Terelakkan.
Tapi Penderitaan Adalah Pilihan.

BUKU ini berisi kumpulan pemi­kiran–pemikiran Haruki Murakami tentang berlari dan maknanya bagi se­orang manusia. Untuk menjadi laki-laki sejati seseorang tidak akan mem­bicarakan bagaimana cara yang ia lakukan untuk menjaga kese­ha­tannya dan seorang pria sejati seha­rusnya tidak bicara terus soal bagai­mana menjaga dirinya tetap bugar. Begitu­lah yang dipikirkan Haruki Mu­ra­kami di dalam buku yang ia tulis berjudul “What I Talk About When I Talk About Running”.

Di sini Haruki Murakami tidak memberi saran kepada pembaca agar, seperti, “Ayo semua­nya , mari lari setiap hari agar tetap sehat!” melainkan mengajak pembaca untuk meli­hat dunia dengan cara berlari.

Saat Haruki Mura­kami berbaring di se­buah kamar hotel di paris, ia sedang mem­baca Koran International Herald Tribune dan menemukan artikel khusus tentang maraton. Di dalamnya ia mem­baca ada wawancara de­ngan beberapa pelari marathon yang terkenal. Mereka ditanya tentang mantra yang mereka ucapkan untuk tetap menjaga sema­ngat selama berlari dalam lomba mara­ton. Bunyinya “Pain is inevitable. Suffering is optinal”. Katakan­lah, kamu sedang berlari, lalu tiba-tiba berpikir, Ampun, ini sakit sekali. Aku sudah tidak kuat lagi. Disitu sakit yang kamu rasakan adalah ba­gian dari kenyataan yang tidak bisa dihindari, secara garis besar, hal itu menjelaskan aspek penting dalam ber­lari marathon, tulis Haruki Murakami.

Dalam buku ini Haruki Murakami tidak hanya membicarakan mengenai berlari, melainkan juga kehidupan se­orang penulis. Untuk menjadi seorang penulis, Akhirnya, Haruki Murakami memutuskan harus me­nulis secara jujur apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan tentang ber­lari, agar sesuai dengan gaya yang ia cita-citakan.

Hal yang ia jelaskan melalui sudut pandang pekerjaan sebagai seorang penulis, setidaknya menurut Harku Murakami tidak ada kalah atau menang. Bisa jadi penjualan buku, penghargaan di bidang sastra, kritikan pedas ataupun penilaiaan baik dari pembaca akan menjadi indikasi sebuah prestasi, tetapi faktor sebe­narnya tidak bisa dikatakan, ung­kapnya. Apakah hasil tulisan sesuai atau tidak dengan standar yang ditetapkan oleh diri sendiri akan menjadi hal yang lebih penting dari segalanya dan itu adalah sesuatu yang tidak mudah dijadikan alasan.

Dalam seharinya, Haruki Mura­kami berlari 10 km, ia semakin serius berlari sejak menetap di kota Massachusetts-Cambridge dan berlari menjadi pilar kehidupan sehari-harinya. Untuk itulah ia meng­agen­dakan satu hari sebagai “Hari Libur Berlari”. Dengan berlari 60 km per minggu. Sebulan Haruki Mura­kami berlari 260 km. angka menjadi indi­kasi bahwa Haruki Mu­ra­kami “serius ber­lari”.

Hal terpenting ada­lah bagaimana melam­paui diri sendiri yang ke­ma­rin, ungkapnya. Jika ada orang yang harus dija­dikan lawan berlari jarak jauh, itu adalah diri sendiri pada masa sebelumnya. Da­lam hal ini Haruki Mu­ra­kami berpenda­pat, me­nulis novel me­miliki kemiripan de­ngan me­lakukan ma­rathon pe­nuh. Se­ca­ra mendasar bagi se­orang creator, moti­vasi adalah hal yang nyata dan ter­simpan di dalam diri, bukan hal yang memiliki bentuk atau tuntutan dari pihak lain.

Seiring dengan bertambahnya usia, sedikit demi sedikit Haruki Mu­rakami memahami bahwa kepe­dihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. Adalah fakta bahwa manusia dapat mencip­takan diri mereka sendiri sebagai makhluk individu yang mandiri karena setiap orang berbeda satu sama lain, jika dipikirkan hal itu sangat tepat. Ambillah Haruki Mura­kami ini sebagai contohnya, sebagai penulis novel, ia dapat men­deteksi beberapa aspek dalam suatu peris­tiwa yang orang lain tidak bisa lihat, untuk merasakan hal yang ber­beda dari orang lain, dan memilih kata-kata yang berbeda dari yang mereka miliki. Itu merupakan keah­lian Haruki Mura­kami, dan dengan itu semua ia dapat menulis cerita yang hanya ia miliki seorang. Kemudian dari situasi terse­but timbul sebuah fakta bahwa “per­kara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk dapat menjadi mandiri di dunia ini.

Peresensi: Abdi Mulia Lubis

Judul Novel : What I Talk About When I Talk About Running
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : April 2016
Tebal : 198 halaman

Dimuat pertama kali di Koran Harian Analisa
Rabu, 1 Juni 2016 : http://harian.analisadaily.com/resensi-buku/news/yang-berlari-dan-menulis-mengejar-makna/240656/2016/06/01

--

--

No responses yet